Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN
Kesehatan Mental

Memahami Gangguan Bipolar

Update terakhir: NOV 13, 2019 Tinjau pada NOV 13, 2019 Waktu baca: 5 menit
Telah dibaca 1.151.056 orang

Memahami Gangguan Bipolar

Istilah gangguan bipolar akhir-akhir ini menjadi lebih dikenal. Beberapa selebriti dunia seperti Demi Lovato dan Catherine Zeta-Jones secara terbuka mengungkapkan perjuangan mereka hidup dengan gangguan bipolar ini.

Apakah sebenarnya gangguan bipolar itu dan bagaimanakah penanganannya? Mari kita telaah bersama melalui tulisan ini.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Apakah itu Gangguan Bipolar?

Gangguan bipolar adalah gangguan jiwa yang menyebabkan perubahan drastis terhadap suasana hati (mood), tingkat energi dan kemampuan berpikir jernih seseorang. Orang yang menderita gangguan bipolar mengalami mania (fase naik) dan depresi (fase turun) yang berbeda dengan mood swing normal yang dialami orang pada umumnya.

Pada umumnya gangguan bipolar ini pertama ditemukan di usia sekitar 25 tahun tetapi dapat juga dijumpai lebih awal pada masa remaja atau walupun jarang pada masa kanak-kanak. Pria dan wanita memiliki kemungkinan yang sama untuk mengalami gangguan bipolar.

Lebih lanjut, faktor genetik, struktur dan fungsi otak serta berbagai macam stresor diduga memiliki peranan dalam timbulnya gangguan bipolar pada seseorang tetapi sampai saat ini belum ditemukan penyebab pasti.

Gejala Gangguan Bipolar

Gejala yang muncul dan berat ringannya gejala tersebut bervariasi. Seseorang dengan gangguan bipolar dapat menunjukkan episode mania ataupun depresi yang jelas dan juga periode bebas gejala yang cukup panjang bahkan selama bertahun-tahun.

Sebaliknya dapat juga ditemukan kondisi di mana episode mania dan depresi terjadi bersamaan (mixed state) ataupun terjadi berulang-ulang dan sering (rapid cycling).

Gangguan bipolar yang berat dapat menunjukkan gejala gangguan psikotik seperti halusinasi (terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsangan nyata terhadap alat indera yang bersangkutan) dan waham (keyakinan kokoh seorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah). Karenanya sangat mungkin terjadi seseorang dengan gangguan bipolar awalnya salah didiagnosis sebagai penderita skizofrenia.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Seperti yang sudah disebutkan di atas, gangguan bipolar ditandai oleh 2 fase yaitu mania dan depresi.

Fase mania ditandai oleh timbulnya rasa bersemangat, ceria dan enerjik yang berlebihan. Pada fase ini, penderita gangguan bipolar umumnya berperilaku impulsif, egosentris dan mudah tersinggung, sering membuat keputusan yang terburu-buru, menghamburkan uang dan senang mengambil resiko.

Berkurangnya waktu tidur dan meningkatnya libido atau nafsu seks merupakan gejala yang umum dijumpai pada fase mania ini.

Sebaliknya pada fase depresi penderita bipolar merasa lesu dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Rasa putus asa, rasa kehilangan dan rasa bersalah sering melanda penderita gangguan bipolar selama fase ini berlangsung dan dapat berujung pada pikiran untuk bunuh diri.

Perubahan pola tidur juga dapat diamati pada fase ini, baik berkurangnya waktu tidur ataupun waktu tidur berlangsung lebih lama dari biasanya.

Diagnosis dan penggolongan Gangguan Bipolar

Bila Anda mengalami perubahan suasana hati yang drastis ataupun gejala-gejala lainnya yang umum ditemukan pada gangguan bipolar, segeralah berkonsultasi dengan dokter, khususnya dokter spesialis kesehatan jiwa.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Umumnya Anda akan menjalani wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan apakah benar Anda menderita gangguan bipolar.

Walaupun gangguan bipolar sendiri tentu tidak bisa dideteksi melalui tes laboratorium, pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang gejalanya serupa seperti gejala hipertiroid atau hipotiroid.

Gangguan bipolar sendiri biasa dibedakan sebagai berikut:

  • Gangguan Bipolar I
    Ditemukan 1 atau lebih episode mania yang setiap episodenya berlangsung setidaknya 7 hari atau memerlukan penanganan rawat inap di rumah sakit. Adanya episode depresi tidak diperlukan sebagai kriteria diagnosis.
  • Gangguan Bipolar II
    Ditandai dengan episode depresi yang hilang timbul bergantian dengan episode hipomania (mania yang lebih ringan tanpa adanya gejala psikotik seperti halusinasi dan waham).
  • Cyclothymia
    Cyclothymia adalah keadaan mood tidak stabil yang kronis di mana penderita mengalami depresi ringan dan hipomania selama setidaknya 2 tahun. Selain itu, dapat ditemukan periode di mana penderita memiliki mood yang normal, tetapi periode ini berlangsung kurang dari 8 minggu.
  • Gangguan Bipolar “other specified” dan “unspecified”
    Penderita yang mengalami peningkatan mood yang tidak normal tetapi tidak memenuhi kriteria gangguan bipolar I, II ataupun cyclothymia.

Bagaimana penanganan Gangguan Bipolar?

Tujuan pengobatan gangguan bipolar adalah untuk mengurangi terjadinya episode mania atau depresi agar penderita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dan hidup secara normal.

Penanganan rawat inap di rumah sakit umumnya diperlukan bila penderita merupakan ancaman terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Gangguan bipolar perlu ditangani dari berbagai sisi, meliputi psikoterapi dan obat-obatan.

Psikoterapi

Terapi psikologis menunjang obat-obatan yang diberikan untuk penderita gangguan bipolar. Melalui terapi psikologis, penderita diajak untuk mengenal masalah kejiwaan yang mereka alami dan mengidentifikasi hal-hal yang dapat memicu terjadinya episode. Selain itu, penderita juga diajari untuk mengubah pemikiran dan perilaku negatif menjadi sesuatu yang positif, menanggulangi stres secara efektif dan pola hidup sehat. 

Keterlibatan keluarga ataupun orang dekat dalam terapi psikologis ini sangat membantu keberhasilan penanganan penderita. Pemahaman keluarga dan orang dekat mengenai kondisi pasien sangat diharapkan dan dapat membantu mengidentifikasi masalah dalam rumah tangga dan keseharian pasien yang menjadi pemicu terjadinya gangguan bipolar.

Obat-obatan

Ada beberapa golongan obat yang dapat dipakai dalam penanganan penderita gangguan bipolar. Obat mana yang diberikan sangat bergantung pada kondisi masing-masing penderita dan ditentukan oleh dokter yang merawat.

  • Antikonvulsan atau anti kejang (lamotrigine, carbamazepine, valproate)
    Golongan obat anti kejang ini diresepkan oleh dokter untuk penderita gangguan bipolar karena memilik efek menstabilkan suasana hati dan dapat meredakan episode mania.
  • Lithium
    Obat ini digunakan dalam jangka panjang dan bermanfaat untuk mencegah terjadinya episode mania dan depresi serta menstabilkan suasana hati. Pengecekan kadar lithium di dalam tubuh dilakukan secara rutin selama penggunaan obat ini untuk memastikan bahwa kadar lithium masih berada dalam kisaran aman dan menghindari terjadinya efek samping yang serius berupa gangguan pada ginjal dan kelenjar gondok.
    Lithium juga biasa dikombinasi dengan obat anti kejang pada pasien yang mengalami gangguan bipolar dengan rapid cycling.
  • Antidepresan
    Pada sebagian penderita gangguan bipolar pemerian antidepresan dapat memicu terjadinya episode mania. Selain itu, penanganan gangguan bipolar dengan pemberian penstabil suasana hati secara tersendiri dan dalam kombinasi bersama antidepresan tidak menunjukkan perbedaan manfaat yang signifikan.
  • Benzodiazepine
    Obat-obat golongan ini dapat meredakan kecemasan dan memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan bipolar.
  • Antipsikotik
    Golongan obat ini terutama digunakan untuk mengatasi episode mania dan mixed episodes dan umumnya dikombinasi dengan pemberian obat golongan lain.

Obat-obat yang digunakan dalam penanganan gangguan bipolar ini berperan penting dalam mengatasi gejala-gejala gangguan bipolar tetapi umumnya memiliki resiko dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dan dapat ditemukan pada ASI (air susu ibu) sehingga dapat berpengaruh pada anak yang menyusu.

Karenanya, bagi wanita usia subur yang menderita gangguan bipolar sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang merawat.

Perubahan suasana hati dapat dialami oleh siapapun. Ketika itu terjadi secara drastis dan berlebihan, ada kemungkinan bahwa itu bukanlah mood swing biasa tetapi gangguan bipolar.

Gangguan bipolar dapat ditangani dan penderitanya dapat hidup secara normal. Bila kamu atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala-gejala gangguan bipolar, berkonsultasilah dengan tenaga ahli yang dapat membantumu mendapatkan penanganan yang tepat dengan segera.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit