Halusinasi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Aug 13, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 896.844 orang

Apakah halusinasi itu?

Hallucinations atau halusinasi adalah sensasi yang tampak nyata dan dapat mempengaruhi keseluruhan indera yang Anda miliki padahal hal-hal tersebut tidak benar-benar ada. Sensasi tersebut diciptakan oleh pikiran Anda sendiri dan dapat mempengaruhi indera penglihatan, penciuman, rasa, pendengaran, atau sentuhan pada tubuh Anda.

Mengenai halusinasi

Terdapat beberapa jenis halusinasi, antara lain:

  • Halusinasi penglihatan/visual, di mana melibatkan hal-hal yang terlihat tetapi pada kenyataannya hal tersebut tidak ada. Halusinasi yang terjadi dapat berupa benda, orang, atau cahaya. Contohnya, ketika Anda melihat seseorang atau lampu berkedip padahal orang lain yang berada di ruangan yang sama tidak melihatnya.
  • Halusinasi penciuman/olfactory, yang melibatkan indera penciuman Anda di mana Anda mungkin mencium bau yang tidak enak ketika merasa tubuh Anda memiliki bau tidak sedap. Tetapi halusinasi ini juga memungkinkan untuk mencium aroma yang menyenangkan, seperti aroma bunga.
  • Halusinasi pengecapan/gustatory, yang melibatkan indera perasa ketika Anda mencicipi makanan atau minuman yang memiliki rasa aneh (seringkali berupa rasa logam). Halusinasi jenis ini umumnya merupakan gejala penderita epilepsi.
  • Halusinasi pendengaran/auditory, yang merupakan jenis halusinasi yang paling umum. Suara yang terdengar mungkin suara marah, netral, ataupun suara yang hangat didengar. Tapi bisa juga terdengar seperti suara orang yang sedang berjalan di tangga atau mengetuk sesuatu.
  • Halusinasi sentuhan/tactile, di mana halusinasi ini melibatkan sentuhan atau gerakan pada tubuh Anda. Contohnya, Anda merasa ada serangga yang merayap di kulit Anda, merasakan udara panas di wajah, hingga merasakan adanya sentuhan tangan orang lain di tubuh Anda.

Selain 5 (lima) jenis halusinasi di atas, ada pula halusinasi sementara. Halusinasi ini tidak bersifat kronis dan dapat terjadi ketika hubungan Anda dengan seseorang berakhir atau ketika orang yang Anda cintai baru saja meninggal sehingga memungkinkan Anda mendengar atau melihatnya secara sekilas. Halusinasi ini akan menghilang ketika rasa kehilangan Anda terhadap mereka perlahan memudar.

Penyebab halusinasi

Ada beberapa penyebab halusinasi, baik disebabkan oleh penyakit mental, efek samping dari obat-obatan, atau karena penyakit fisik, di antaranya:

  • Skizofrenia. Lebih dari 70% penderita Skizofrenia pernah mengalami halusinasi penglihatan/visual dan sekitar 60%-90% mengalami halusinasi pendengaran/suara.
  • Penyakit Parkinson. Hingga setengah dari penderita Parkinson cenderung mengalami halusinasi penglihatan dengan melihat hal-hal yang tidak ada.
  • Penyakit Alzheimer atau demensia. Penyakit ini dapat menimbulkan perubahan pada otak yang dapat menyebabkan halusinasi, terutama jika penyakit bertambah parah.
  • Migrain atau sakit kepala. Sekitar sepertiga penderita migrain mungkin akan mengalami halusinasi visual.
  • Tumor otak. Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai jenis halusinasi. Jika berkaitan dengan visual, maka penderita tumor otak dapat melihat bintik-bintik atau bentukan cahaya. Jika tumor terjadi di beberapa bagian otak, maka dapat menyebabkan halusinasi penciuman/bau dan rasa/pengecapan.
  • Penyakit berat, seperti AIDS, kanker otak, gagal ginjal, dan hati.
  • Penyalahgunaan zat dan alkohol. Merupakan salah satu penyebab yang cukup umum dari timbulnya halusinasi. Meminum terlalu banyak alkohol atau menggunakan obat-obatan seperti kokain, serta obat-obatan halusinogen seperti LSD dan PCP juga dapat menyebabkan halusinasi.
  • Kurang tidur. Halusinasi juga dapat terjadi jika tidak memiliki tidur yang cukup, terutama jika belum tidur selama beberapa hari/periode waktu yang lama.
  • Obat-obatan. Penggunaan obat-obat tertentu untuk menangani penyakit mental dan fisik pun dapat menyebabkan halusinasi, termasuk pengobatan penyakit Parkinson, depresi, psikosis, dan epilepsi.

Gejala halusinasi

Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda merasakan tanda-tanda halusinasi seperti merasakan, melihat, mendengar, mencium, ataupun mengecap sesuatu yang berbeda dari orang lain di sekitar Anda atau mengalami penyakit yang merupakan salah satu gejala terjadinya halusinasi, maka Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Dokter akan mencari tahu dengan menanyakan gejala yang Anda alami, memeriksa riwayat kesehatan, dan melakukan pemeriksaan fisik. Bahkan jika diperlukan, Anda mungkin diminta mengikuti tes tambahan termasuk tes darah/urin, EEG, MRI, ataupun pemindaian otak untuk membantu mengidentifikasi penyebab masalah halusinasi.

Pencegahan halusinasi

Hingga saat ini, belum ada cara mencegah terjadinya halusinasi pada seseorang. Tetapi memiliki waktu tidur yang cukup serta menghindari mengonsumsi/ketergantungan alkohol perlu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya halusinasi. 

Selain itu, mengalihkan perhatian dengan kegiatan yang bermanfaat dan melakukan interaksi sosial juga dapat membantu mengatasi terjadinya halusinasi.

Pengobatan halusinasi

Pengobatan untuk penderita halusinasi bergantung pada penyebab yang mendasari terjadinya halusinasi. Tetapi secara umum, penderita akan diberikan obat-obatan dan juga terapi.

Beberapa tipe pengobatan berdasarkan penyebab terjadinya halusinasi:

  • Obat untuk memperlambat sistem saraf untuk penyalahgunaan zat/alkohol
  • Obat anti kejang untuk mengobati epilepsi
  • Pembedahan atau radiasi untuk mengobati tumor
  • Obat triptan, beta-blocker, atau antikonvulsan untuk penderita migrain
  • Terapi perilaku kognitif, yang berfokus pada perubahan pemikiran dan perilaku sehingga dapat membantu mengelola gejala yang dimiliki lebih baik

Seseorang yang mengalami halusinasi sebaiknya tidak ditinggal sendirian, karena ketakutan dan paranoia yang dipicu halusinasi dapat menimbulkan tindakan atau perilaku berbahaya. Mereka juga memerlukan dukungan emosional ketika mengunjungi dokter, sehingga kehadiran orang terdekat sangatlah diperlukan untuk ikut mendampingi dan membantu menjawab pertanyaan seputar halusinasi yang dialami penderita.


Referensi

Badii, C. & Legg, T. Healthline (2016). What Causes Hallucinations?

Berger, et al. US National Library of Medicine MedlinePlus (2016). Hallucinations.

Carey, E. & Legg, T. Healthline (2018). Psychosis.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit