ADELIA MARISTA SAFITRI, S.K.M
Ditulis oleh
ADELIA MARISTA SAFITRI, S.K.M
DR.VINA SETIAWAN
Ditinjau oleh
DR.VINA SETIAWAN

Penyakit Antraks Mewabah di Yogyakarta, Begini Cara Mencegahnya

Dipublish tanggal: Jan 20, 2020 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Feb 20, 2020 Waktu baca: 3 menit
Penyakit Antraks Mewabah di Yogyakarta, Begini Cara Mencegahnya

Warga Ginungkidul, Yogyakarta, dikejutkan dengan wabah yang diduga penyakit antraks akhir 2019 lalu. Pasalnya, ada sebanyak 27 warna yang dilarikan ke rumah sakit akibat mengonsumsi daging hewan ternak yang mati mendadak. Antraks adalah penyakit yang ditularkan lewat hewan atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit antraks yang mewabah? Berikut selengkapnya.

Apa itu penyakit antraks?

Antraks adalah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini hidup di tanah dan bisa masuk ke dalam tubuh hewan bahkan ditularkan ke manusia lewat sentuhan, udara (terhirup), hingga mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Sekali spora antraks masuk ke dalam tubuh, spora tersebut akan aktif dan memperbanyak diri hingga menghasilkan racun. Meski mudah menyebar, bakteri antraks tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain.

Namun bagaimana pun, penyakit antraks tetap perlu diwaspadai. Hal ini karena penularan antraks terjadi sangat cepat dan bila tidak segera diatasi, gejala yang ditimbulkan bisa parah bahkan memicu kematian.

Baca Juga: 16 Penyakit Berbahaya yang Disebabkan Oleh Bakteri

Tanda dan gejala penyakit antraks

Gejala penyakit antraks ditentukan berdasarkan dari awal mulanya penderita tertular atau terinfeksi. 

Penularan lewat kontak kulit

Bakteri penyebab antraks dapat menular lewat kontak kulit. Gejala antraks dalam hal ini umumnya berupa timbulnya bentol kecil yang terasa gatal, mirip seperti gigitan serangga.

Namun bedanya, bentol pada kulit akibat antraks dapat berkembang menjadi lepuhan hingga berwarna hitam. Kondisi ini biasanya muncul 1-5 hari setelah terpapar.

Penularan lewat udara (terhirup)

Orang-orang yang menghirup bakteri antraks biasanya merasakan gejala selama 1 minggu. Namun, gejala antraks juga dapat berkembang lebih cepat, mulai dari 2-45 hari setelah paparan. Pada kasus serius, penyakit antraks ini dapat menyebabkan meningitis atau peradangan pada selaput sekitar otak serta sumsum tulang belakang

Beberapa gejala antraks yang ditularkan lewat udara (terhirup) antara lain:

Penularan lewat konsumsi makanan terkontaminasi

Tidak sengaja mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri antraks akan memunculkan gejala setidaknya seminggu setelah paparan. Tanda dan gejala antraks yang ditularkan lewat makanan terkontaminasi adalah:

Baca Juga: Buang Air Besar Berdarah, Apa yang Harus Anda Lakukan?

Cara mencegah penyakit antraks 

Meski tidak dapat dicegah sepenuhnya, Anda tetap bisa meminimalisir risiko terjangkit antraks dengan langkah yang tepat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut cara mencegah penyakit antraks yang dapat dilakukan:

1. Pemberian antibiotik

Jika Anda terpapar bakteri antraks tapi tidak merasakan gejala apa pun, dokter akan melakukan upaya pencegahan dengan memberikan antibiotik berupa ciprofloxacin dan doxycycline. Apabila muncul gejala, dokter akan meresepkan antibiotik untuk diminum selama 60-100 hari.

Spora antraks umumnya membutuhkan waktu selama 1-6 hari untuk aktif dan tetap tinggal dalam tubuh hingga 60 hari. Spora aktif tersebut kemudian akan memproduksi racun atau toksin untuk menyebabkan gejala. Itulah sebabnya, orang yang terpapar bakteri antraks harus minum antibiotik setidaknya 60 hari. 

Baca Juga: Antibiotik: Fakta dan Info Penting yang Harus Diketahui

2. Vaksin antraks

Vaksin antraks dapat membantu mencegah penyakit antraks. Satu-satunya vaksin antraks yang disetujui oleh FDA di Amerika Serikat, yang setara dengan Badan POM di Indonesia, adalah vaksin Biothrax.

Vaksin antraks tidak bisa diberikan untuk sembarang orang, biasanya diberikan untuk orang-orang yang berisiko tinggi terpapar bakteri antraks, seperti:

  • Pekerja lab yang meneliti bakteri antraks.
  • Orang yang mengelola peternakan atau memiliki hewan ternak sendiri.
  • Dokter hewan atau yang pekerjaannya bersinggungan dengan hewan.
  • Orang-orang yang menangani produk hewani, terutama di wilayah berisiko

Untuk mencegah antraks, vaksin ini diberikan sebanyak 5 dosis selama 18 bulan. Sementara untuk pasien yang telah terpapar antraks, maka vaksin ini diberikan sebanyak 3 dosis selama 4 minggu.

3. Menjaga kebersihan di tempat kerja dan peternakan

Selain dengan vaksin antraks dan antibiotik, menjaga kebersihan di tempat kerja menjadi hal yang tak kalah penting. Hal ini dapat membantu menurunkan risiko paparan spora antraks saat Anda menyentuh hewan secara langsung atau berada di lokasi yang berisiko.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit antraks di tempat kerja:

  • Pastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik dan banyak ventilasi udara.
  • Gunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja, terdiri dari masker, kacamata khusus, dan sarung tangan.
  • Cuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air hangat.
  • Hindari memegang mata, hidung, atau mulut dengan tangan langsung.
  • Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, untuk mengurangi risiko terpapar bakteri.
  • Rutin membersihkan area kerja.

Beri tahukan pada keluarga dan orang terdekat mengenai cara mencegah penyakit antraks sejak dini. Meski jarang terdengar, antraks bisa terjadi kapan saja jika lingkungan di sekitar Anda mendukung tumbuhnya bakteri penyebab antraks. 


14 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Anthrax vaccine: What you need to know. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/anthrax.html.
Hall JB, et al., eds. Biological warfare. In: Principles of Critical Care. 4th ed. New York, N.Y.: McGraw-Hill Education; 2015. http://www.accessmedicine.com.
Stone CK, et al., eds. Nuclear, biologic, and chemical agents; weapons of mass destruction. In: Current Diagnosis & Treatment Emergency Medicine. 7th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2011. http://www.accessmedicine.com.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app