HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Akrodermatitis - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Apr 20, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Waktu baca: 3 menit

Akrodermatitis, atau sindrom Gianotti-Crosti, adalah kondisi kulit yang biasanya menyerang anak-anak antara usia 3 bulan dan 15 tahun. Nama lengkap penyakit ini adalah "papular akrodermatitis pada masa kanak-kanak."

Meskipun akrodermatitis itu sendiri tidak menular, virus yang menyebabkan akrodermatitis dapat menular. Sehingga anak-anak yang berinteraksi dengan anak yang terkena penyakit akrodermatitis dapat menularkan virus pada anak-anak lainnya. Anak-anak yang menderita penyakit ini tetap membawa virus yang menyebabkan akrodermatitis walaupun semua gejalanya telah hilang.

Iklan dari HonestDocs
Paket Vaksin Hepatitis B Di NK Health Klinik

Cegah Penyakit Hepatitis B dengan Vaksin. Paket ini termasuk 3x suntik vaksin Hepatitis B, biaya registrasi, konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan tanda-tanda vital.

Akrodermatitis paling sering terjadi pada musim semi dan musim panas. Akrodermatitis biasanya berlangsung selama empat hingga delapan minggu tetapi bisa bertahan hingga empat bulan. Biasanya akrodermatitis sembuh tanpa perlu perawatan atau menyebabkan komplikasi.

Apa yang menyebabkan terjadinya Akrodermatitis?

Para ahli percaya bahwa akrodermatitis disebabkan oleh infeksi virus, yang dapat memicu akrodermatitis pada anak-anak. Di Amerika Serikat, virus yang paling sering dikaitkan dengan akrodermatitis masa kanak-kanak adalah virus Epstein-Barr (EBV).

EBV adalah anggota keluarga virus herpes dan salah satu virus paling umum yang menyerang orang di seluruh dunia. EBV menyebar melalui cairan tubuh, terutama air liur.

Meskipun EBV adalah penyebab umum akrodermatitis pada anak-anak, beberapa jenis infeksi lain juga dapat menyebabkan terjadinya akrodermatitis, contohnya:

  • HIV
  • hepatitis A, B, dan C
  • cytomegalovirus 
  • enterovirus (virus yang dapat menyebabkan gejala seperti pilek dan infeksi pernapasan parah)
  • rotavirus (virus yang menyebabkan diare pada bayi)
  • rubella (infeksi virus yang menyebabkan ruam)
  • virus coxsackie (infeksi virus ringan yang menyebabkan luka pada mulut dan ruam pada anak kecil)
  • virus parainfluenza (sekelompok virus yang menyebabkan penyakit pernapasan pada bayi dan anak kecil)
  • respiratory syncytial virus (RSV) (virus yang paling sering menyebabkan bronkiolitis pada anak-anak)

Dalam kasus yang sangat jarang, pemberian vaksin dapat menyebabkan akrodermatitis, contohnya vaksin untuk:

Iklan dari HonestDocs
Paket Vaksin Hepatitis B Di NK Health Klinik

Cegah Penyakit Hepatitis B dengan Vaksin. Paket ini termasuk 3x suntik vaksin Hepatitis B, biaya registrasi, konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan tanda-tanda vital.

Gejala Akrodermatitis

Muncul bintik-bintik merah pada kulit yang biasanya bertahan selama 3 hingga 4 hari. Bintik-bintik ini dapat berkembang di bagian tubuh mana saja, tetapi paling sering muncul pada lengan, paha, dan bokong.

Dalam kebanyakan kasus, bintik-bintik itu secara bertahap bergerak ke atas menuju wajah. Ketika kondisi berlanjut, bintik-bintik merah berubah menjadi ungu. Perubahan warna terjadi karena kapiler (pembuluh darah kecil) mulai bocor darah ke daerah yang terkena. Bintik-bintik ini akhirnya berkembang menjadi lepuh gatal yang berisi cairan.

Selain munculnya bintik-bintik pada kulit, gejala lain yang mungkin muncul meliputi:

Apakah Akrodermatitis dapat dicegah?

Karena akrodermatitis tampaknya disebabkan oleh virus, satu-satunya cara untuk mencegah akrodermatitis adalah dengan menghindari infeksi virus. Pastikan anak Anda mencuci tangan secara teratur dan menghindari kontak dengan siapa pun yang menunjukan gejala-gejala seperti di atas. Jika anak Anda mulai menunjukkan gejala penyakit akrodermatitis, segera bawa anak Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan sesegera mungkin.

Bagaimana penanganan Akrodermatitis?

Diagnosa

Dokter anak Anda mungkin dapat mendiagnosis akrodermatitis hanya dengan melihat kulit anak Anda dan bertanya mengenai gejalanya. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk membantu menegakan diagnosis. Beberapa tes ini meliputi:

  • tes darah atau urin untuk menilai kadar bilirubin, yang dapat menunjukkan adanya hepatitis
  • tes darah untuk memeriksa enzim hati yang abnormal, yang bisa menjadi tanda hepatitis
  • tes darah untuk mencari keberadaan antibodi EBV, 
  • biopsi kulit (pengambilan sampel kecil dari kulit) untuk memeriksa kondisi kulit lain yang mungkin timbul sebagai ruam, kurap atau eksim
  • tes darah untuk menentukan kadar seng dan untuk menyingkirkan akrodermatitis genetik enteropathica, yang merupakan bentuk langka dari akrodermatitis

Pengobatan Akrodermatitis

akrodermatitis itu sendiri tidak memerlukan perawatan, dan kondisi ini biasanya hilang dengan sendirinya tanpa menyebabkan komplikasi. Namun, dokter akan mencari penyebab yang mendasari dan memfokuskan perawatan untuk mengobati penyebab yang mendasarinya.

Pengobatan dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi gejala yang mengganggu. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian:

  • Krim hidrokortison dapat digunakan untuk menghilangkan rasa gatal.
  • Antihistamin juga dapat diresepkan jika anak Anda memiliki alergi.

Hubungi dokter anak Anda segera jika anak Anda menunjukkan gejala akrodermatitis. Penting untuk mengobati kondisi ini sesegera mungkin. Setelah anak Anda menerima perawatan, gejalanya akan mereda dan mereka dapat pulih tanpa mengalami komplikasi atau efek jangka panjang.


5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Medscape, Acrodermatitis (https://emedicine.medscape.com/article/1102575-clinical), 21 August 2019.
Jessica Snowden, Acrodermatitis (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441825/), 31 October 2019.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app