Pengobatan

Benarkah Obat Alergi Antihistamin Bikin Kita Ngantuk?

Dipublish tanggal: Sep 6, 2019 Update terakhir: Feb 11, 2020 Waktu baca: 3 menit
Benarkah Obat Alergi Antihistamin Bikin Kita Ngantuk?

Memiliki alergi terhadap sesuatu memang bisa membuat tidak nyaman. Kulit bisa secara mendadak berubah menjadi gatal dan kemerahan atau mengalami bersin-bersin saat terpapar oleh alergen (zat pemicu alergi). 

Tetapi, Anda bisa sedikit tenang karena efek tersebut bisa dikurangi dengan minum obat antihistamin. Antihistamin adalah jenis obat yang digunakan untuk mengobati beragam jenis alergi, contohnya alergi pada makanan, gigitan serangga, alergi kulit, alergi mata, dan jenis alergi lainnya. 

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Meski ampuh mengurangi reaksi alergi, banyak orang menghindari minum obat-obatan yang mengandung antihistamin karena efeknya bikin ngantuk. Kenapa bisa begitu?

Cara kerja obat antihistamin

Di dalam tubuh manusia terdapat zat kimia bernama histamin. Ketika ada virus atau bakteri yang masuk, tubuh akan memproduksi histamin guna melawan zat-zat asing tersebut. 

Proses pertarungan histamin melawan bakteri atau virus ini secara bersamaan dapat memicu inflamasi atau peradangan. Akan tetapi, bila Anda mempunyai alergi tertentu, zat histamin tersebut tidak mampu membedakan mana zat asing yang berbahaya dan mana yang tidak. Akibatnya, ketika ada zat tidak berbahaya seperti makanan, debu, atau serbuk sari yang masuk, tubuh akan tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi. 

Baca Selengkapnya: Kenali 4 Macam Alergi & Bagaimana Cara Mengatasinya

Karena itulah, orang yang mengalami alergi tertentu dianjurkan untuk minum obat antihistamin untuk menghentikan reaksi peradangan tersebut. Umumnya, efek antihistamin berbentuk tablet mulai bekerja dalam tubuh sekitar 30 menit setelah dikonsumsi. Efek optimalnya biasanya baru terasa 1–2 jam setelah minum obat.

Bila Anda mempunyai alergi terhadap serbuk sari dari tumbuhan, maka sebaiknya minumlah antihistamin dengan rutin pada saat musim tumbuhnya tanaman tersebut. Hal ini lebih efektif mencegah alergi kambuh daripada bila Anda meminum obat tersebut hanya sesekali.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Jenis-jenis obat alergi antihistamin

Obat alergi antihistamin terdiri dari 2 macam tipe, yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Berikut perbedaan keduanya:

1. Generasi pertama

Jenis obat antihistamin generasi pertama memiliki efek menenangkan. Setelah diminum, Anda akan merasakan beberapa efek samping umum seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, susah berpikir, penglihatan berkurang, dan susah mengosongkan kandung kemih

Banyak orang menghindari minum obat yang mengandung antihistamin, terutama sebelum berangkat ke sekolah atau ke kantor, karena takut mengantuk. Kenapa begitu?

Hal ini ada hubungannya dengan pengaruh histamin pada sistem saraf pusat di otak dan sumsum tulang belakang. Tanpa disadari, zat histamin itulah yang membuat Anda lebih terjaga dan mudah konsentrasi.

Sedangkan saat Anda minum obat alergi antihistamin, senyawa antihistamin dalam obat akan mengalir ke otak. Hal ini berdampak pada terganggunya kesadaran, sehingga lambat laun menimbulkan rasa kantuk dan susah konsentrasi.

Jenis-jenis antihistamin generasi pertama yang paling umum di antaranya adalah clemastine, alimemazine, chlorphenamine, cyproheptadine, hydroxyzine, ketotifen, dan promethazine.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

2. Generasi kedua

Beda dengan sebelumnya, jenis antihistamin generasi kedua tidak memberikan efek sedatif atau penenang. Hal ini membuat efek kantuknya tidak separah saat Anda minum obat alergi antihistamin generasi pertama.

Walau demikian, Anda tetap perlu berhati-hati saat mengemudi atau menjalankan alat berat, dikarenakan dampak mengantuk masih mungkin akan terjadi. Selain itu, jenis antihistamin ini juga mempunyai dampak yang lebih sedikit daripada generasi pertama, misalnya mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan mual. 

Contoh antihistamin generasi kedua antara lain fexofenadine, levocetirizine, loratadine, mizolastine acrivastine, cetirizine, dan desloratadine.

Lantas, mana obat antihistamin yang terbaik?

Pada dasarnya, semua jenis obat alergi antihistamin mampu mengatasi reaksi alergi dengan baik asal sesuai dengan keluhan yang Anda rasakan. Sebagai contoh, bila Anda merasakan alergi gatal-gatal pada kulit, maka Anda bisa minum obat antihistamin generasi yang pertama. Efek mengantuk dari obat antihistamin generasi pertama dapat membantu Anda tidur nyenyak meskipun kondisi kulit sedang gatal. 

Untuk mengetahui mana obat antihistamin yang cocok, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan menentukan obat alergi mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Selain berbentuk tablet, antihistamin juga tersedia alam bentuk kapsul, cair, obat tetes mata, hingga semprot hidung. Bagi Anda yang sedang hamil, menyusui, atau sedang menderita penyakit tertentu epilepsi, gangguan ginjal, penyakit jantung, atau penyakit hati, sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter mengenai dosis dan aturan minum obat alergi antihistamin sesuai kondisi Anda.

Baca Juga: Daftar Obat Alergi Gatal Pada Kulit yang Ampuh

20 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Zyrtec allergy - cetirizine hydrochloride tablet, film coated. (2016). (https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/drugInfo.cfm?setid=b165db38-b302-4220-8627-77cb07bb078c)
Krinsky DL, et al. (2015). Handbook of nonprescription drugs: An interactive approach to self-care (18th ed.), 172-195. Washington, DC: American Pharmacists Association. DOI: (https://doi.org/10.21019/9781582122250)

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Buka di app