Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN

​Difteri: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: NOV 16, 2019 Tinjau pada NOV 16, 2019 Waktu baca: 2 menit
Telah dibaca 1.675.652 orang

Apakah Difteri itu?

Difteri adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri dan paling sering menimbulkan infeksi pada hidung dan tenggorokan. 

Infeksi tenggorokan menyebabkan lapisan dinding rongga mulut (pseudomembran) berwarna keabu-abuan sampai hitam dan terjadi pembengkakan amandel serta kelenjar getah bening. Kondisi dapat berbahaya jika saluran napas terhalang sehingga dapat menyebabkan penderita kesulitan bernapas.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Mengenai Difteri

Penyebab Difteri

Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menular melalui droplet pernapasan (seperti ketika batuk atau bersin) dari penderita difteri. 

Difteri ini juga dapat ditularkan melalui benda-benda yang terkontaminasi air liur penderita, seperti melalui gelas atau sendok. Selain itu, difteri juga lebih berisiko terjadi pada orang yang pernah berpergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri, memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, dan hidup di area padat penduduk.

Gejala Difteri

Gejala difteri berikut ini biasanya muncul 2-5 hari setelah seseorang terpapar atau kontak dengan bakteri, di antaranya:

  • Kebiruan pada kulit
  • Keluar cairan dari hidung bisa berupa darah
  • Kesulitan bernafas
  • Panas dingin menggigil
  • Batuk terus menerus
  • Suara serak
  • Sakit ketika menelan
  • Sakit tenggorokan
  • Demam dan lemas
  • Pembengkakan kelenjar (pembesaran kelenjar getah bening) di leher
  • Pseudomembran berupa lapisan tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel

Pencegahan Difteri

Imunisasi atau vaksinasi dapat mencegah penyakit difteri yang mungkin dapat terjadi di kemudian hari. Pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersamaan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan yang dikenal dengan istilah imunisasi DPT. Imunisasi DPT sendiri termasuk ke dalam imunisasi wajib pada bayi usia 2,3, dan 4 bulan.

Setelah mendapatkan imunisasi difteri biasanya anak akan mengalami demam ringan, anak menjadi lelah dan rewel, bagian bekas suntikan terasa bengkak, memerah, dan sakit. Tetapi hal ini merupakan efek samping yang masih wajar terjadi dan akan hilang setelah 2-3 hari.

Baca juga: Manfaat dan Efek Samping Imunisasi DPT

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Pengobatan Difteri

Sebelum menentukan diagnosis penyakit, dokter akan memeriksa tenggorokan dan jika terdapat lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandelnya, maka diduga terdapat infeksi difteri.

Namun untuk memastikannya, dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan pasien (pemeriksaan usap atau swab tenggorok) untuk diteliti di laboratorium.

Difteri sendiri merupakan salah satu penyakit serius yang dapat membahayakan kesehatan jika tidak segera diobati. Beberapa dampak kerusakan akibat difteri dapat terjadi pada ginjal, sistem saraf, maupun kesehatan jantung yang bisa menyebabkan kematian. 

Untuk itu, penderita difteri membutuhkan beberapa jenis pengobatan, termasuk melalui obat-obatan, sebagai berikut:

Antitoksin

Setelah dokter mengkonfirmasi diagnosis awal difteri, penderita yang terinfeksi difteri akan diberikan antitoksin difteri. Antitoksin diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah atau otot yang akan menetralkan toksin difteri yang sudah menyebar dalam tubuh. 

Sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi pada kulit (skin test) untuk memastikan bahwa orang yang terinfeksi tidak memiliki alergi terhadap antitoksin tersebut.

Antibiotik

Difteri juga dapat diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin. Antibiotik membantu membunuh bakteri di dalam tubuh sehingga menyembuhkan infeksi.

Anak-anak dan orang dewasa yang menderita difteri biasanya harus dirawat di rumah sakit dan diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat menyebar dengan mudah ke siapapun yang belum mendapatkan imunisasi DPT.


Referensi

KidsHealth. (2016). For Parents. Infection: Diphteria.

Blumberg, et al. (2018). The Preventable Tragedy of Diphteria in the 21st Century. International Journal of Infectious Diseases, 71(2018), pp. 122-3.

Centers for Disease Control and Prevention (2016). Guidelines for Vaccinating Pregnant Women.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Pencarian yang sering mengarah ke halaman ini