Difteri: Penyebab, Gejala, Cara Pengobatan dan Pencegahan

Dipublish tanggal: Feb 10, 2019 Update terakhir: Nov 15, 2021 Tinjau pada Apr 19, 2019 Waktu baca: 3 menit

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Difteri adalah penyakit menular akut yang terjadi pada hidung dan tenggorokan. Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri;
  • Gejala difteri dapat berupa pembentukan lapisan berwarna abu atau hitam yang menutupi area tenggorokan serta bengkak pada amandel dan kelenjar getah bening;
  • Salah satu cara mencegah penyakit difteri adalah dengan vaksin difteri. Bisa dilakukan bersamaan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan dalam imunisasi DPT;
  • Pengobatan difteri bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu antitoksin atau suntikan antiracun serta obat antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi;
  • Klik untuk membeli obat antibiotik atau obat radang tenggorokan melalui HDMall. Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dan bisa COD;
  • Klik untuk memesan berbagai macam vaksin dengan harga terjangkau dan layanan profesional yang tersedia di HDmall.

Apa itu Difteri?

Difteri adalah penyakit menular akut yang terjadi pada hidung dan tenggorokan. Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri dan biasanya ditandai dengan adanya perubahan warna pada lapisan dinding rongga mulut (pseudomembran) yang berwarna keabu-abuan bahkan hitam serta terjadi pembengkakan amandel dan kelenjar getah bening. 

Penyakit difteri harus ditangani dengan cepat karena infeksi tersebut dapat berbahaya bagi kesehatan sejumlah organ tubuh. Racun yang keluar akibat bakteri difteri bisa merusak bagian jantung, ginjal, hingga otak. Tak hanya itu, jika saluran pernapasan terhalang, hal itu dapat menyebabkan penderita sulit bernapas.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Mengenai Difteri

Penyebab Difteri

Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menular melalui droplet pernapasan, seperti ketika batuk atau bersin yang berasal dari penderita difteri. 

Infeksi bakteri difteri ini juga dapat ditularkan melalui benda-benda yang terkontaminasi air liur penderita, seperti melalui gelas atau sendok dan kemudian digunakan oleh orang lain. 

Penyakit difteri juga lebih berisiko terjadi pada orang yang pernah berpergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri, memiliki sistem imun tubuh yang rendah, serta hidup di area padat penduduk yang kurang bersih. Oleh karenanya, sangat penting untuk mendapatkan vaksin difteri sebagai bentuk pencegahan.

Baca juga: 6 Penyebab Sistem Kekebalan Tubuh Menurun

Gejala Difteri

Penderita penyakit difteri biasanya akan mengalami gejala berupa pembentukan lapisan berwarna abu ataupun hitam yang menutupi area tenggorokan (pseudomembran) serta terjadi pembengkakan amandel dan kelenjar getah bening di leher. 

Beberapa gejala lain difteri adalah:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31
  • Sakit tenggorokan
  • Demam dan menggigil
  • Lemas
  • Kebiruan pada kulit
  • Keluar cairan dari hidung bisa berupa darah
  • Batuk terus menerus
  • Pilek
  • Suara serak
  • Sakit ketika menelan

Gejala penyakit difteri sendiri biasanya muncul pada hari ke-2 sampai 5 setelah seseorang terpapar atau kontak dengan penderita difteri. 

Jika terjadi gejala yang lebih berat, seperti sulit bernapas, keringat dingin, gangguan penglihatan, jantung berdebar, atau kulit menjadi pucat, maka pasien harus segera diperiksakan ke dokter.

Komplikasi Difteri

Difteri adalah salah satu penyakit menular yang perlu mendapatkan penanganan serius karena dapat membahayakan kesehatan jika tidak segera diobati. 

Bakteri penyebab difteri bahkan bisa menimbulkan racun yang merusak jaringan saluran pernapasan, termasuk hidung dan tenggorokan, yang menyebabkan pasien menjadi sesak napas.

Beberapa dampak kerusakan atau komplikasi akibat penyakit difteri bahkan dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung (miokarditis), menimbulkan risiko gagal ginjal, hingga terjadi kerusakan jaringan jika racun menyerang sistem saraf. 

Pencegahan Difteri

Salah satu cara mencegah penyakit difteri adalah dengan vaksin difteri. Imunisasi atau vaksinasi dapat membantu mencegah penyakit difteri yang mungkin terjadi di kemudian hari. 

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

Pemberian vaksin difteri biasanya dilakukan bersamaan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis) yang dikenal dengan istilah imunisasi DPT. Imunisasi DPT di Indonesia sendiri termasuk ke dalam imunisasi wajib pada bayi usia 2,3, dan 4 bulan.

Setelah mendapatkan vaksin difteri biasanya anak akan mengalami demam ringan, mudah lelah dan rewel. Selain itu, bagian bekas suntikan akan terasa bengkak, memerah, dan sakit. Hal itu merupakan efek samping yang wajar dan akan hilang setelah 2-3 hari pasca vaksinasi.

Baca juga: Manfaat dan Efek Samping Imunisasi DPT

Pengobatan Difteri

Sebelum menentukan diagnosis penyakit, dokter akan melakukan pemeriksaan bagian tenggorokan terlebih dahulu. Jika terdapat lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandel, maka diduga terdapat infeksi difteri.

Namun untuk memastikannya, dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan pasien dengan pemeriksaan usap atau swab tenggorokan. Hasilnya akan diteliti di laboratorium apakah mengandung bakteri penyebab difteri atau tidak.

Penyakit difteri membutuhkan prosedur pengobatan yang tepat, termasuk melalui obat-obatan, seperti:

Antitoksin

Salah satu cara pengobatan difteri adalah dengan pemberian antitoksin atau suntikan antiracun. Setelah dokter mengkonfirmasi diagnosis awal difteri, penderita difteri akan diberikan suntikan antitoksin difteri guna melawan racun penyebab difteri. 

Antitoksin diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah atau otot yang akan menetralkan toksin difteri yang sudah menyebar dalam tubuh. 

Namun, sebelum memberikan suntikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi pada kulit (skin test) untuk memastikan bahwa pasien difteri tidak memiliki alergi terhadap kandungan antitoksin tersebut.

Antibiotik

Penanganan penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri ini juga dapat diatasi dengan obat antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin. Kegunaan antibiotik dapat membantu membunuh bakteri di dalam tubuh serta meredakan infeksi penyebab difteri.

Baca juga: Cara Menangani Bakteri Membandel dengan Obat Antibiotik

Anak-anak dan orang dewasa yang menderita difteri biasanya harus dirawat di rumah sakit dan diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat menyebar dengan mudah ke siapapun yang belum mendapatkan imunisasi DPT, khususnya vaksin difteri.


16 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Wint, C. Healthline (2018). Diphteria. (https://www.healthline.com/health/diphtheria)
Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI (2017). Imunisasi. Jadwal Imunisasi 2017. (http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017)
Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Diphtheria. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app