Pertusis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Apr 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 425.377 orang

Apakah Pertusis?

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis atau agen infeksi lainnya seperti B.parapertussis, B.bronchiseptica, Mycoplasma pneumoniae maupun adenovirus.

Pertusis sering disebut juga sebagai batuk rejan yang mengakibatkan infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Penularannya dapat terjadi melalui droplet cairan penderita pertusis lainnya baik anak-anak maupun dewasa.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat GRATIS Ongkir via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir minimal pembelanjaan Rp50.000.

Medicine delivery 01

Namun pertusis paling sering dialami oleh balita sekitar 60% dan dapat mengancam jiwa terlebih pada bayi yang belum menerima vaksin pertusis.

Kondisi ini bisa mengakibatkan kekurangan oksigen dalam darahnya dan menimbulkan komplikasi lain seperti pneumonia, luka tulang rusuk dan lainnya.

Untuk mengetahui penjelasan lebih dalam mengenai pertusis, mari simak artikel berikut ini.

Penyebab Pertusis

Penyebab Pertusis

B.pertussis merupakan bakteri gram negatif yang memiliki rata-rata masa inkubasi sekitar 6 hari. Setelah masuk di dalam tubuh, bakteri ini akan menyerang dinding saluran napas, melepas racun dan mengakibatkan pembengkakan pada saluran pernapasan.

Oleh karena pembengkakan ini, seseorang yang mengalami pertusis akan mengalami kesulitan bernapas dan menghasilkan suara dengkingan panjang (whooping sound).

Tanda dan gejala Pertusis

Masa inkubasi bakteri ini adalah 5-10 hari, akan tetapi dapat memanjang hingga 21 hari dengan rata-rata 7 hari. Berikut adalah tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh bakteri ini, termasuk:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat GRATIS Ongkir via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir minimal pembelanjaan Rp50.000.

Medicine delivery 01
  • Stadium awal
    Terjadi sekitar 1 hingga 2 minggu setelah masa inkubasi. Gejala umumnya adalah infeksi saluran pernapasan, bersin-bersin, hidung tersumbat, mata berair dan disertai dengan demam ringan.
  • Stadium paroksismal
    Terjadi sekitar 1-6 minggu setelah masa inkubasi. Gejala yang terjadi adalah batuk keras terus menerus dengan bunyi dengkingan panjang (whoop), rasa lelah dan muntah-muntah terutama pada bayi dan anak-anak. Komplikasi ke sistem saraf akibat hipoksia juga lebih sering terjadi pada bayi.
  • Stadium penyembuhan
    Terjadi beberapa minggu hingga bulan tergantung dari pengobatan yang diterima. Batuk akan menghilang secara bertahap.

Pencegahan Pertusis

Vaksin pertusis biasanya diberikan pada bayi atau anak-anak untuk mencegah terjangkitnya bakteri pertusis. Meskipun vaksin ini terbilang aman, akan tetapi dapat menimbulkan efek samping seperti demam, pembengkakan dan ruam kemerahan pada kulit. Berikut adalah pemberian vaksin pertusis pada anak-anak:

  • Pada usia 2 bulan.
  • Pada usia 4 bulan.
  • Pada usia 6 bulan.
  • Pada usia 1,5 sampai 2 tahun.
  • Pada usia 5 tahun.

Selain anak-anak, ibu hamil juga dapat diberikan vaksin pertusis. Hal ini dapat berguna untuk mencegah penularan bakteri pertusis saat lahir. Pada umumnya, vaksin pertusis akan diberikan kepada ibu hamil dengan usia kandungan 28 hingga 38 minggu.

Pengobatan Pertusis

Pada stadium awal, memang sangat sulit untuk memastikan diagnosis pertusis. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, melihat dari gejala-gejala dan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pengambilan sampel lendir nasofaring - untuk mendeteksi adanya bakteri B.pertussis dalam dahak.
  • Uji immunofluorescent
  • Pemeriksaan polymerase chain reaction(PCR)
  • Tes darah - untuk menemukan adanya leukositosis dan limfositosis
  • Pemeriksaan radiologi - untuk mendeteksi komplikasi paru-paru atau infeksi lainnya

Sedangkan pengobatan untuk mengatasi pertusis dapat diberikan dengan beberapa cara, meliputi:

  • Obat-obatan
    • Eritromisin: 40-50mg/KgBB/hari per oral, terbagi menjadi 4 dosis (maksimal 2 gram) dan diberikan selama 14 hari.
    • Trimetoprim-Sulfametoksasol: 6-8mg/KgBB/hari per oral, terbagi menjadi 2 dosis (maksimal 1 gram).
  • Terapi suportif: Menghindari faktor yang menimbulkan serangan batuk, pemberian cairan, oksigen dan nutrisi cukup.
  • Untuk bayi berusia <6 bulan: Dianjurkan untuk dirawat inap karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti sianosis, apnea dan kejang-kejang.

Segera konsultasikan kepada dokter untuk penanganan dan dosis yang tepat. Hindari mengkonsumsi obat-obatan tanpa resep dan anjuran dari dokter karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit