10 Gejala dan Ciri-Ciri HIV pada Wanita

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Jul 22, 2021 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit
10 Gejala dan Ciri-Ciri HIV pada Wanita

Ringkasan

Buka

Tutup

  • HIV adalah virus yang dapat melumpuhkan sistem kekebalan tubuh manusia yang menargetkan pada limfosit CD4.
  • Pada tahap awal, gejala HIV pada wanita mirip seperti gejala flu dan umumnya akan hilang dalam beberapa minggu.
  • Wanita yang terkena HIV kerap mengalami demam ringan berkepanjangan (37,6°C-38,2°C) dan sering diabaikan.
  • Ciri-ciri HIV pada wanita bisa ditandai dengan menstruasi yang lebih ringan atau justru berat ketimbang biasanya, atau bahkan bisa berhenti total.
  • Dapatkan paket pemeriksaan HIV atau pemeriksaan penyakit menular seksual (STD) lainnya dengan promo menarik dan dokter berpengalaman melalui HDmall;
  • Gunakan fitur chat untuk berkonsultasi dengan apoteker kami secara gratis seputar obat dan pemeriksaan kesehatan yang Anda butuhkan.

HIV merupakan penyakit serius yang hingga kini masih belum ada obatnya. Terlebih, ciri-ciri HIV seringkali tak nampak sehingga penderitanya mungkin tak sadar kalau dirinya sudah terinfeksi. Lantas, bila si penderita kemudian 'bercinta' tanpa pengaman, maka HIV bisa menyebar dengan mudah.

Berbicara mengenai gejala HIV, ternyata ada perbedaan pada wanita dan pria meskipun hanya sedikit. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara detil ciri-ciri HIV pada wanita. Untuk pria, bisa baca di sini: Kenali Ciri-ciri dan Gejala HIV pada Pria

Iklan dari HonestDocs
Beli Pendukung Gizi & Nutrisi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 8

Apa itu HIV?

HIV itu sendiri sebenarnya nama virus, karena kepanjangan HIV adalah Human Immunodeficiency Virus. HIV dapat melumpuhkan sistem kekebalan tubuh manusia. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sel target yang diserang adalah sel darah putih (limfosit CD4).

Pada tahap awal (infeksi akut), HIV akan menimbulkan gejala yang tidak khas seperti demam, sakit kepala, ruam, pembesaran kelenjar getah bening, diare, dan batuk selama beberapa minggu (3-8 minggu). Pada tahap ini, sel CD4 menurun dan jumlah virus meningkat.

Ketika tubuh berhasil memproduksi antibodi, maka infeksi akut berakhir, jumlah CD4 stabil dan virus tinggal sedikit. Ingat, virus ini tidak musnah seluruhnya, sehingga dapat menggerogoti sistem imun secara perlahan hingga bertahun-tahun (kronis). Sampai akhirnya sistem imun menjadi benar-benar lumpuh.

Baca selengkapnya: Kenali 30 Gejala HIV AIDS Fase Awal, Laten, dan Lanjut

Ciri-ciri HIV pada Wanita yang khas

Jika dibandingkan dengan pria, ada beberapa gejala HIV pada wanita yang cukup khas. Beberapa ciri-ciri HIV pada wanita di antaranya:

1. Gejala awal mirip flu

Pada minggu-minggu pertama setelah terinfeksi HIV, seseorang cenderung mengalami gejala ringan mirip flu seperti demam, sakit kepala, serta lesu. Ciri-ciri HIV pada wanita ini umumnya akan hilang dalam beberapa minggu setelah tubuh berhasil menciptakan antibodi untuk melawan virus.

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

2. Muncul ruam dan luka pada kulit

Pada fase akut, kebanyakan penderita HIV akan mengalami gangguan kulit. Salah satunya yang paling umum adalah munculnya ruam.

Kulit penderita HIV menjadi sangat sensitif terhadap sinar matahari atau substansi lainnya. Biasanya, ruam akan muncul dalam bentuk bercak merah dengan benjolan-benjolan kecil, dan kulit jadi bersisik.

Selain itu, terkadang terbentuk juga luka atau lesi pada kulit mulut, kemaluan, serta anus, yang sulit sembuh. Pengidap HIV umumnya juga berisiko tinggi mengalami herpes dan shingles (herpes zoster). Untungnya, dengan pengobatan tepat, masalah kulit tadi dapat diminimalisir tingkat keparahannya.

3. Kelenjar getah bening bengkak

Dalam tubuh manusia, kelenjar getah bening tak hanya terletak pada satu lokasi saja, tapi hampir keseluruhan tubuh termasuk leher, belakang kepala, ketiak, serta selangkangan. Kelenjar yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh ini berfungsi untuk menangkis infeksi dengan cara menyimpan sel-sel imun dan menyaring substansi berbahaya.

Begitu infeksi HIV menyebar, sistem imun bereaksi dengan cepat sehingga akibatnya kelenjar limfa jadi membesar atau bengkak hingga berbulan-bulan lamanya. Kondisi ini sering kali menjadi gejala nyata dari infeksi HIV.

4. Infeksi demi infeksi

Karena HIV membuat sistem imun kesulitan melawan kuman penyebab penyakit, tubuh penderitanya cenderung lebih rentan terhadap berbagai infeksi. Kondisi ini membuat seseorang berisiko tinggi menderita pneumonia, TBC, hepatitis C, serta infeksi lain pada kulit, mata, paru-paru, ginjal, sistem pencernaan, dan otak.

Iklan dari HonestDocs
Beli Pendukung Gizi & Nutrisi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 8

Tak hanya itu saja, penyakit ini menyebabkan penderitanya sulit sembuh dari penyakit lain yang ia derita, bahkan dari penyakit ringan seperti flu. Maka dari itu, pengidap HIV umumnya diimbau untuk rutin mencuci tangan dan minum obat guna mencegah infeksi atau komplikasi lebih lanjut.

5. Demam dan berkeringat saat malam

Ciri-ciri HIV pada wanita selanjutnya adalah demam ringan berkepanjangan (37,6°C-38,2°C). Kondisi ini terjadi sebagai reaksi alami karena ada sesuatu yang salah dalam tubuh.

Karena demamnya ringan saja, seseorang yang belum sadar dirinya sakit mungkin akan tetap mengabaikan gejala ini. Demam tersebut juga sering disertai keringat yang mengganggu tidur di malam hari.

6. Perubahan siklus haid

Gejala HIV pada wanita berikutnya adalah berubahnya siklus haid. Menstruasi bisa jadi lebih ringan atau justru berat ketimbang biasanya, atau bahkan bisa berhenti total. Ada kemungkinan juga jika gejala PMS jadi lebih parah daripada sebelumnya.

7. Infeksi bakteri dan jamur

Infeksi bakteri dan jamur pada daerah kewanitaan juga merupakan salah satu ciri-ciri HIV pada wanita. Kondisi ini diakibatkan oleh sistem imun yang terus menurun. Walau membuat tidak nyaman, namun sayangnya, gejala yang menimbulkan gatal dan perih pada organ keintiman ini sulit diobati. 

Baca juga: Daerah Kewanitaan Gatal dan Perih? Inilah Penyebab dan Solusinya

8. Infeksi penyakit menular seksual lainnya

HIV juga meningkatakn risiko seseorang mengidap penyakit menular seksual lainnya seperti:

Bila pengidapnya sampai menderita herpes genital, maka biasanya akan lebih parah. Tubuh pun tak merespon baik terhadap pengobatan herpes yang dilakukan.

9. Radang panggul

Radang panggul yang menginfeksi rahim, saluran tuba falopi, serta ovarium juga bisa menjadi gejala HIV. Sama seperti ciri-ciri HIV pada wanita sebelumnya, kondisi ini pun tak mudah disembuhkan. Gejalanya bisa berlangsung lama, atau kambuh berulang kali.

10. Gejala lanjutan dari HIV dan AIDS

Seiring bertambah parahnya infeksi dalam tubuh, berbagai ciri-ciri penyakit HIV berikut juga dapat muncul:

Pada tahap akhir, HIV bahkan dapat mengakibatkan:

  • Hilangnya memori jangka pendek
  • Linglung, bingung, atau disorientasi
  • Koma

Jika infeksi HIV tak segera ditangani dan berkembang lebih lanjut, kondisi ini dapat berujung pada AIDS. Pada tahap ini, sistem imun boleh dibilang sudah ‘lumpuh’ sehingga infeksi sangat mudah menyerang.

Perpindahan fase dari HIV ke AIDS tersebut salah satunya ditandai dengan munculnya berbagai penyakit kanker, misalnya Sarkoma Kaposi, Limfoma non-Hodgkin, serta kanker serviks pada wanita.

Mengetahui ciri-ciri HIV pada wanita bisa menjadi langkah penting sebagai upaya deteksi dini. Namun, lebih baik lagi jika dilakukan pemeriksaan HIV untuk memastikan apakah seseorang benar-benar terinfeksi HIV ataukah tidak.

16 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
US Preventive Services Task Force. (2019). Preexposure prophylaxis for the prevention of HIV infection: US Preventive Services Task Force recommendation statement. DOI: (http://doi.org/10.1001/jama.2019.6390)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app