Doctor men
Ditulis oleh
ADELIA MARISTA
Doctor men
Ditinjau oleh
DR VINA SETIAWAN

Kanker Serviks: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: SEP 16, 2019 Tinjau pada SEP 16, 2019 Waktu baca: 5 menit
Telah dibaca 925.822 orang

Mendengar kata kanker serviks, Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan penyakit yang satu ini. Ya, kanker serviks merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak merenggut nyawa wanita setelah kanker payudara. Maka tak heran jika kanker serviks sangat ditakuti oleh semua kaum perempuan.

Supaya tidak terkena penyakit ini, Anda tentu harus tahu penyebab dan gejala kanker payudara. Mari simak artikel berikut ini.

Apa itu kanker serviks?

Kanker serviks sering disebut juga sebagai kanker leher rahim. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel yang semula normal tumbuh menjadi ganas dan tidak terkendali. Dalam hal ini, pertumbuhan sel abnormal terjadi di serviks atau leher rahim.

Area leher rahim atau serviks berbentuk seperti tabung silinder yang menghubungkan rahim dan area vagina. Setiap wanita di dunia ini memiliki kemungkinan menderita kanker serviks, terlebih bagi mereka yang sudah aktif berhubungan seksual.

Jenis kanker serviks

Jenis kanker serviks dapat diidentifikasi bisa menentukan prognosis dan jenis perawatan pasien. Berikut adalah 2 jenis utama kanker serviks:

1. Karsinoma sel skuamosa

Jenis kanker serviks ini berada di sel-sel tipis dan rata (sel skuamosa) pelapis bagian luar serviks yang menonjol ke dalam vagina. Sebagian besar kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa.

2. Adenokarsinoma

Jenis kanker serviks ini berada pada sel-sel kelenjar berbentuk kolom yang melapisi saluran serviks.

Mengenal penyakit kanker serviks

Penyebab

Penyebab utama kanker serviks berasal dari infeksi virus human papillomavirus (HPV). Selain itu, ada juga beberapa faktor lainnya yang dapat memicu terjadinya kanker serviks, yaitu: 

  • Merokok
  • Immunosupresi atau pengobatan untuk meningkatkan sistem imun pada penderita HIV/AIDS
  • Infeksi penyakit kelamin klamidia
  • Pola makan yang kurang sehat, contohnya kurang mengonsumsi buah dan sayur
  • Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
  • Minum pil KB secara terus-menerus
  • Hamil dan melahirkan pada usia terlalu muda
  • Mengonsumsi DES atau Diethylstilbestrol, yaitu obat untuk mencegah keguguran
  • Pola hidup seksual yang tidak sehat, seperti sering gonta-ganti pasangan seksual, tidak menggunakan kondom, sering menggunakan sex toys, atau berhubungan seks di tempat yang tidak bersih.

Gejala

Seseorang dapat diindikasikan menderita kanker serviks ketika mengalami pendarahan vagina setelah berhubungan seksual. Untuk memastikannya, perhatikan tanda dan gejala kanker serviks lainnya berikut ini: 

  • Siklus menstruasi menjadi tidak teratur dan lebih panjang dibanding biasanya
  • Munculnya darah dari vagina, baik saat tidak menstruasi atau setelah buang air besar
  • Berat badan yang menurun, sehingga badan menjadi lemas dan letih
  • Nyeri di area perut dan pinggang bagian bawah
  • Sakit saat berhubungan seksual
  • Nafsu makan yang menurun
  • Kaki membengkak

(Baca Mengenai Gejala Kanker Serviks Stadium 1, 2, 3)

Bila Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

Tingkat / Stadium Kanker Serviks

Pada saat dokter mengidentifikasi pasien dengan kanker serviks, maka ada tes lebih lanjut yang harus dilakukan untuk mentukan tingkat atau stadium dari kanker serviks tersebut. Stadium kanker adalah faktor utama untuk menentukan jenis perawatan yang harus dilakukan.

Tahapan ujian meliputi:

  • Tes pencitraan. Tes seperti sinar-X, CT scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Positron Emission Tomography (PET) membantu dokter menentukan apakah kanker telah menyebar di luar bagian serviks.
  • Pemeriksaan visual kandung kemih dan dubur. Dokter mungkin menggunakan sistoskop untuk melihat bagian dalam kandung kemih dan endoskop atau kolonoskopi untuk melihat bagian dubur.

Tahapan kanker serviks meliputi:

  • Stadium I. Kanker terbatas pada serviks.
  • Tahap II. Kanker muncul di leher rahim dan bagian atas vagina.
  • Tahap III. Kanker telah pindah ke bagian bawah vagina atau secara internal ke dinding bagian panggul.
  • Tahap IV. Kanker telah menyebar ke organ-organ terdekat, seperti kandung kemih atau dubur, atau telah menyebar ke area lain dari tubuh seperti paru-paru, hati, atau tulang.

Pencegahan kanker serviks

Tidak seperti jenis kanker lainnya, kanker serviks termasuk jenis kanker yang bisa dicegah. Ketika Anda sudah tahu faktor risikonya, maka Anda tentu dapat menghindarinya supaya tidak terkena kanker serviks.

Bagi Anda yang sudah menikah dan melakukan hubungan seksual teratur, Anda wajib melakukan pap smear secara rutin. Pap smear adalah pemeriksaan organ intim wanita bagian dalam untuk mendeteksi adanya sel-sel kanker di leher rahim.

Selain dengan pap smear, kanker serviks juga bisa dicegah dengan vaksin kanker serviks. Di Indonesia sendiri, jenis vaksin kanker serviks yang banyak diberikan adalah vaksin gardasil. Vaksin ini bermanfaat untuk mencegah infeksi virus HPV yang menjadi penyebab kanker serviks. 

Penting juga bagi Anda untuk melakukan hubungan seksual hanya dengan 1 orang saja, yaitu pasangan Anda. Supaya lebih aman lagi, gunakan pelindung seperti kondom. Ingat, virus HPV dapat menyebar melalui hubungan seksual dengan banyak pasangan, apalagi jika tidak menggunakan kondom.

Selain dari menjaga hubungan seksual, berhenti merokok juga dapat mengurangi terkena kanker serviks.

Pengobatan kanker serviks

Pengobatan kanker serviks tergantung dari jenis, stadium, dan seberapa luas penyebaran kankernya. Semakin cepat gejala kanker serviks dideteksi, maka kanker serviks dapat diobati secara maksimal. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa kanker serviks bisa sembuh total.

Berikut ini beberapa pengobatan kanker serviks yang mungkin dilakukan, di antaranya:

Radioterapi

Radioterapi dapat berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan pembedahan. Radioterapi biasanya dilakukan untuk mengatasi kanker serviks stadium awal.

Radioterapi dilakukan untuk mengendalikan risiko perdarahan dan mengurangi rasa sakit. Walapun dapat menghancurkan sel kanker, radioterapi terkadang juga merusak jaringan yang sehat di sekitar kanker.

Efek samping radioterapi yang paling umum di antaranya:

  • Diare
  • Sakit saat buang air kecil
  • Perdarahan vagina atau dubur
  • Sakit saat berhubungan seksual
  • Kelelahan
  • Sensasi terbakar pada kulit sekitar panggul

Kemoterapi

Kemoterapi dapat dikombinasikan dengan radioterapi untuk mengatasi kanker serviks. Namun, kemoterapi juga bisa dilakukan sebagai pengobatan tunggal.

Obat kemoterapi dimasukkan secara langsung ke pembuluh darah melalui infus. Setelah kemoterapi selesai, pasien boleh pulang dan melakukan rawat jalan.

Sama halnya dengan radioterapi, obat kemoterapi juga bisa merusak sel dan jaringan yang sehat. Berbagai efek samping kemoterapi di antaranya:

  • Diare
  • Kelelahan sepanjang waktu, karena kemoterapi membuat produksi sel darah merah berkurang
  • Nafsu makan menurun
  • Rambut rontok. Rambut akan tumbuh lagi setelah 6 bulan Anda menyelesaikan siklus kemoterapi.

Beberapa jeis obat kemoterapi juga dapat merusak ginjal. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah secara teratur untuk memantau kesehatan ginjal Anda.

Operasi pengangkatan leher rahim

Operasi pengangkatan leher rahim disebut juga dengan histerektomi. Prosedur operasi ini biasanya dilakukan sebagai jalan terakhir untuk mencegah kanker serviks datang lagi.

Ada 2 jenis histerektomi yang dapat mengobati kanker serviks, yaitu:

  • Histerektomi sederhana. Dilakukan dengan cara mengangkat leher rahim atau rahim untuk mengatasi kanker serviks stadium awal. Pada beberapa kasus, pengangkatan ovarium dan saluran telur (tuba falopii) mungkin juga dilakukan.
  • Histerektomi radikal. Umumnya dilakukan untuk mengatasi kanker serviks stadium 1 dan 2. Caranya dengan mengangkat leher rahim, rahim, bagian atas vagina, kelenjar getah bening, tuba falopii, atau ovarium. Organ yang diangkat tergantung dari kondisi kanker serviks pasien.

Sama seperti pengobatan kanker serviks lainnya, histerektomi juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan. Efek samping histerektomi di antaranya:

  • Sakit saat berhubungan seks, karena vagina Anda menjadi lebih kering dan pendek.
  • Inkontinensia urin.
  • Pembengkakan di lengan dan kaki, disebabkan oleh penumpukan cairan (limfoedema).
  • Timbul jaringan parut.
  • Menopause.

Referensi

American Cancer Society (2016). Cancer A-Z. Survival Rates for Cervical Cancer, by Stage.

American Cancer Society (2016). Signs and Symptoms of Cervical Cancer.

American Cancer Society (2017). Survival Rates for Cervical Cancer.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit