Depresi: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 7 menit
Depresi: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Pengertian

Apa itu depresi?

Depresi (major depressive disorder) adalah gangguan mood atau suasana hati berupa penurunan perasaan (mudah sedih, marah atau tersinggung), penurunan motorik (kehilangan motivasi juga ketertarikan terhadap segala hal) dan penurunan proses berpikir (bersikap apatis dan putus asa seakan tak layak lagi untuk hidup).

Depresi berbeda dengan fluktuasi mood yang dialami banyak orang sebagai bagian dari kehidupan normal. Respons emosional sementara seperti bersedih atau berduka ketika kehilangan orang yang dicintai merupakan suatu kewajaran.

Namun, jika kesedihan tersebut berlarut-larut hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan disertai dengan penurunan motorik juga proses berpikir, maka kondisi seperti demikianlah yang dinamakan dengan depresi. Para ahli psikologis menyebut kesedihan/kedukaan depresi ini dengan "complicated bereavement".

Jenis-jenis depresi

Selain depresi utama yang disebut dengan major depressive disorder atau gangguan depresi mayor, terdapat pula beberapa jenis depresi lain diantaranya sebagai berikut:

  • Persistent depressive disorder (PDD). Depresi  yang berlangsung kurun waktu 2 tahun atau lebih. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan dua kondisi yang sebelumnya dikenal sebagai dysthymia (depresi persisten kelas rendah) dan depresi berat kronis.
  • Bipolar disorder. Dikenal dengan gangguan bipolar atau manik depresif. Suatu kondisi dimana terdapat perubahan suasana hati yang fluktuatif juga ekstrem. Dari yang sebelumnya bahagia menjadi sangat bersedih dan sebaliknya.
  • Seasonal affective disorder (SAD). Jenis depresi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim. Biasanya terjadi di negara-negara yang memiliki empat musim. Seringkali timbul saat musim gugur dan puncaknya ketika musim dingin, kemudian mereda/hilang bersamaan dengan datangnya musim semi atau musim panas.
  • Depresi psikotik. Jenis depresi berat yang disertai dengan gejala psikotik berupa halusinasi, delusi dan paranoid.
  • Peripartum or postpartum depression (PPD). Jenis depresi berat yang dialami wanita pasca melahirkan. Dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
  • Premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang berlangsung seminggu sebelum haid. Gejalanya menyerupai PMS, namun dengan derajat yang lebih parah hingga mengganggu kehidupan dan hubungan dengan orang sekitar.
  • Situational depression. Jenis depresi jangka pendek yang berhubungan dengan ketidakmampuan diri dalam beradaptasi atau menyesuaikan diri. Disebut juga dengan depresi reaktif. Biasanya berkembang setelah mengalami kejadian traumatis atau serangkaian kejadian, seperti pindah rumah/sekolah atau ketika kehilangan pekerjaan maupun orang yang dicintai.

Berapa angka kejadian depresi di Indonesia?

Berdasarkan data Riskesdas 2013, terdapat sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia golongan usia 15 tahun ke atas, yang diketahui memiliki gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan.

Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya support atau dukungan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kecemasan maupun depresi.

Di tambah lagi dengan adanya stigma negatif di masyarakat umum terhadap penderita depresi yang membuat mereka malu dengan kondisi tersebut sehingga semakin timbul keengganan untuk melakukan pengobatan.

Organisasi Kesehatan Dunia - WHO sendiri dalam catatannya menunjukkan bahwa, depresi menempati peringkat empat dalam daftar penyakit di dunia. Dengan jumlah penderita yang mencapai angka 350 juta jiwa dan lebih dari 800 ribu orang diantaranya meninggal dunia karena bunuh diri.

Ikhtisar Penyakit Depresi

Organ terlibat Otak
Penyebab Multifaktor (biologis, psikologis dan sosial).
Penularan Tidak menular.
Gejala Perasaan sedih mendalam dan konstan, mudah marah/tersinggung dan kehilangan minat dalam segala hal.
Pengobatan Biopsikososial berupa obat-obatan antidepresan, psikoterapi dan dukungan/modifikasi sosial.

Tanda dan Gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala depresi?

Gejala depresi bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Namun secara umum, gejala depresi berupa perasaan sedih mendalam, kehilangan motivasi atau minat dalam segala hal dan keputusasaan yang terjadi secara persisten.

Semakin banyak gejala yang dimiliki, semakin kuat gejala yang dirasakan dan semakin lama gejala tersebut berlangsung, menandai tingkatan depresi yang semakin berat.

Berikut gejala depresi selengkapnya:

Gejala psikis:

  • Perasaan sedih mendalam dan konstan.
  • Mudah marah dan tersinggung.
  • Kehilangan minat dalam segala hal.
  • Pesimis, putus asa dan merasa tidak berharga.
  • Sulit berkonsentrasi, mengingat sesuatu dan mengambil keputusan.
  • Selalu menyalahkan diri sendiri.
  • Apatis.
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
  • Berpikir untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap diri sendiri atau orang lain.

Gejala fisik: 

Dikatakan depresi apabila mengalami lima atau lebih dari gejala-gejala di atas (baik psikis maupun fisik) dan terjadi secara persisten setidaknya selama 2 minggu, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari maupun hubungan dengan orang-orang sekitar.

Kapan harus periksa ke dokter?

Segera periksakan diri ke dokter spesialis kejiwaan atau psikiater jika merasakan adanya tekanan emosional yang teramat mengganggu dan berdampak langsung pada memburuknya kualitas hidup sehari-hari.

Penyebab dan Faktor Risiko

Apa penyebab depresi?

Para ahli hingga saat ini belum dapat mengetahui secara pasti penyebab timbulnya depresi. Kuat dugaan, kondisi ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor kompleks berupa faktor biologis seperti ketidakseimbangan neurotransmiter dan hormon, faktor psikologis seperti kepribadian dan faktor sosial seperti kurangnya dukungan sosial.

Siapa yang lebih berisiko terkena depresi?

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena depresi antara lain:

  • Riwayat keluarga. Seseorang dengan riwayat keluarga depresi, alkoholisme dan bunuh diri lebih berisiko mengalami depresi.
  • Jenis kelamin. Wanita memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami depresi dibandingkan pria.
  • Usia. Golongan usia muda, yakni remaja dan dewasa lebih rentan terkena depresi.
  • Gaya hidup. Pada beberapa orang, gaya hidup tidak sehat seperti terlalu sering begadang, malas berolahraga, merokok, minum minuman keras atau gemar mengonsumsi junk food dapat memicu terjadinya depresi.
  • Penyakit. Penyakit serius atau kronis seperti kanker, stroke, diabetes atau penyakit jantung dapat memicu penderitanya kehilangan kepercayaan diri dan penghargaan diri (self-esteem) yang dapat berujung pada depresi.
  • Obat-obatan. Obat penenang, terapi steroid, anti-hipertensi, obat kemoterapi dan obat-obatan terlarang seperti ganja dan sabu-sabu dapat memicu depresi karena memengaruhi zat kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan.
  • Kepribadian. Seseorang yang perfeksionis, hipersensitif, pemalu/minder, terlalu bergantung, pencemas atau mudah terpengaruh dan introvert lebih berisiko mengalami depresi.
  • Kejadian traumatik dan stres. Kekerasan maupun pelecehan secara fisik atau seksual, kematian atau kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan dan masalah keuangan berisiko besar memicu terjadinya depresi.
  • Kelainan seksual. Seseorang yang memiliki kelainan seksual seperti lesbian, gay, biseksual atau transgender berisiko besar terkena depresi.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Bagaimana memastikan diagnosis depresi?

Diagnosis depresi dilakukan melalui evaluasi menyeluruh, termasuk wawancara, pemeriksaan fisik dan psikologis. Dalam beberapa kasus, tes darah mungkin diperlukan guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menimbulkan gejala menyerupai depresi. Misalnya seperti penyakit tiroid, tumor otak atau kekurangan vitamin.

Obat dan Pengobatan

Bagaimana cara mengobati depresi di rumah?

Mengobati depresi di rumah dapat dilakukan dengan memperbanyak konsumsi makanan yang menenangkan seperti coklat dan buah berry disertai dengan penerapan beberapa metode relaksasi sederhana melalui latihan pernapasan dalam, meditasi, yoga dan berbagai hal lain yang dapat memusatkan pikiran dan jiwa kepada Sang Pencipta.

Apa saja penanganan dan obat depresi di layanan kesehatan?

Penanganan depresi berprinsip pada pendekatan biopsikososial. Biologis dengan menggunakan obat berupa antidepresan, psikologis dengan menggunakan psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural theraphy), terapi pemecahan masalah (problem-solving therapy), terapi interpersonal (interpersonal therapy) atau terapi psikodinamis dan sosial dengan menggunakan dukungan maupun modifikasi sosial.

Untuk pasien dengan depresi berat yang tidak merespon terhadap obat-obatan, dapat diberikan terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT). Terapi ini dilakukan dengan memberikan cetusan listrik yang sangat lemah pada kepala pasien yang berada di bawah pengaruh anestesi. Biasanya terapi ini dilakukan sebanyak 2-3 kali seminggu dengan total 6-12 kali pengobatan.

Komplikasi

Apa bahaya komplikasi depresi yang mungkin timbul?

Depresi merupakan kondisi kesehatan serius yang dapat membawa pengaruh buruk pada penderita juga orang di sekitarnya. Beberapa komplikasi terkait dengan depresi meliputi:

  • Obesitas yang memicu terjadinya penyakit jantung dan diabetes.
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Isolasi sosial.
  • Kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
  • Bunuh diri.
  • Kematian dini akibat kondisi medis yang mungkin timbul.

Pencegahan

Bagaimana mencegah depresi?

Beberapa cara yang dapat diterapkan sebagai tindakan pencegahan depresi antara lain:

  • Menjaga spiritualitas.
  • Belajar untuk dapat mengelola stres atau tekanan mental sebaik mungkin.
  • Menjaga hubungan baik terhadap keluarga dan orang-orang sekitar.
  • Membekali diri dengan pengetahuan depresi termasuk tanda-tanda atau gejalanya.
  • Mengubah kepribadian menjadi lebih terbuka, fleksibel dan realistis.
  • Melakukan penyegaran dan istirahat terhadap rutinitas sehari-hari.

17 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Web MD. (2017), Can You Prevent Depression? (https://www.samhsa.gov/find-help/national-helpline)
Web MD. (2018). Psychodynamic Therapy for Depression (https://www.webmd.com/depression/guide/psychodynamic-therapy-for-depression)
Higuera, V. Healthline (2016). Depression Overview. (https://www.healthline.com/health/depression)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel selanjutnya
Kekurangan Sinar Matahari Dapat Akibatkan Depresi
Kekurangan Sinar Matahari Dapat Akibatkan Depresi

Berdasarkan penelitian, mengungkapkan bahwa seseorang dengan asupan vitamin D di bawah 20ng/ml memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi, daripada seseorang yang mendapatkan asupan vitamin D lebih dari 30ng/ml.

Buka di app