Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
AHMAD MUHLISIN

Diabetes Mellitus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: NOV 14, 2019 Tinjau pada NOV 14, 2019 Waktu baca: 12 menit
Telah dibaca 1.157.430 orang

Apa itu diabetes mellitus?

Diabetes mellitus atau kencing manis adalah suatu penyakit kronis di mana kadar gula darah (glukosa) di dalam tubuh terlampau tinggi dan berada di atas normal. Tingginya kadar gula darah dapat terjadi akibat kekurangan hormon insulin atau hormon insulin sudah cukup namun tubuh tidak dapat menggunakannya secara optimal (resistensi insulin). Kedua hal tersebut dapat terjadi secara tunggal atau kombinasi.

Glukosa sendiri berasal dari sumber makanan yang dikonsumsi lalu diolah tubuh dan menjadi sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Kadar gula darah sendiri dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas. Pankreas melepaskan insulin ini ke dalam aliran darah dan membantu glukosa (zat gula) dari makanan masuk ke dalam sel-sel seluruh tubuh.

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Nutrisi esensial bagi kesehatan ibu dan perkembangan bayi selama 1000 hari pertama kehidupan. Dapatkan GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Tetapi jika tubuh tidak membuat cukup insulin atau insulin tidak bekerja dengan baik dapat menyebabkan glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel dan membuat glukosa menumpuk dalam darah. Hal ini yang membuat kadar gula dalam darah menjadi tinggi dan menyebabkan terjadinya penyakit diabetes melitus.

Kadar glukosa darah yang tinggi dapat menimbulkan gangguan pada organ tubuh, termasuk merusak pembuluh darah kecil di organ ginjal, jantung, mata, ataupun sistem saraf. Kika tidak ditangani dengan baik pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit seperti jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf pada saraf. Pada wanita, diabetes juga dapat menyebabkan masalah selama kehamilan dan membuatnya lebih rentan dalam proses persalinan. 

Mengenai diabetes mellitus 

Jenis-jenis diabetes mellitus

Secara umum terdapat 3 jenis utama diabetes mellitus, yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional.

  • Diabetes mellitus tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1 sering disebut diabetes mellitus tergantung insulin. Diabetes tipe ini terjadi karena sistem imun tubuh menyerang sel beta pankreas yang berperan untuk menghasilkan hormon insulin dan lebih dari 90% mengalami kerusakan permanen. Diabetes tipe 1 ini biasanya muncul bukan karena pengaruh gaya hidup, tetapi sering didiagnosis terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, dengan kondisi yang bertahan seumur hidup.

Pada diabetes mellitus tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin sehingga membutuhkan tambahan insulin dari luar setiap hari (suntik insulin). Pengobatan untuk diabetes melitus tipe 1 meliputi suntikan insulin atau menggunakan pompa insulin, mengonsumsi makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol.

  • Diabetes mellitus tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 ini disebut juga diabetes melitus tidak tergantung insulin. Diabetes melitus jenis ini merupakan jenis yang paling banyak terjadi, hampir 9 dari 10 penderita diabetes adalah diabetes tipe 2. Seseorang bisa menderita diabetes tipe 2 pada usia berapa pun, bahkan pada masa kanak-kanak. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Paket Prenatal (Panel Awal Kehamilan) via HonestDocs!

Cek ada tidaknya resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan dapatkan treatment yang tepat secepatnya. Diskon 30% jika beli via HonestDocs sekarang!

Paket prenatal %28panel awal kehamilan%29 di path lab %28home services%29

Pada diabetes tipe 2, tubuh masih dapat memproduksi insulin tetapi insulin gagal melakukan tugasnya, sehingga glukosa tidak masuk ke dalam sel. Perawatan diabetes tipe 2 termasuk minum obat anti diabetes, mengonsumsi menu makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengonsumsi aspirin setiap hari (bagi kebanyakan orang), dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol. 

Pada penderita diabetes tipe 2, tubuh memproduksi insulin dengan jumlah makin sedikit secara periodik, oleh karena itu dilakukan peningkatan dosis obat atau mulai menggunakan insulin untuk menjaga diabetes agar tetap terkontrol dengan baik.

  • Diabetes Gestational 

Diabetes gestational merupakan kondisi yang terjadi pada beberapa kasus kehamilan, yakni sekitar 1 dari 20 kasus kehamilan. Selama kehamilan, tubuh memproduksi insulin ekstra yang dihasilkan hormon agar melakukan tugasnya dengan baik.

Namun beberapa wanita gagal memproduksi insulin ekstra, sehingga mereka mendapatkan diabetes gestational. Diabetes Gestasional biasanya hilang bila kehamilan sudah berakhir. Namun wanita yang menderita diabetes gestational sangat mungkin untuk berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari

Gejala diabetes melitus

Gejala kadar glukosa darah tinggi, meliputi rasa haus yang meningkat (polidipsia), peningkatan buang air kecil (poliuria), penglihatan kabur, mudah mengantuk, mual, menurunnya daya tahan tubuh, dan meningkatnya rasa lapar (polifagia).

  • Sering buang air kecil

Ketika kadar glukosa darah naik di atas 160-180 mg/dL, glukosa akan bocor hingga ke urin karena ginjal tidak sanggup menyaringnya. Ketika kadar glukosa dalam urine meningkat bahkan lebih tinggi, ginjal akan mengeluarkan air tambahan untuk mengencerkan glukosa yang berlebihan tersebut. Hal inilah yang membuat penderita diabetes melitus sering buang air kecil dalam jumlah besar (poliuria).

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Nutrisi esensial bagi kesehatan ibu dan perkembangan bayi selama 1000 hari pertama kehidupan. Dapatkan GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku
  • Sering haus

Terlalu banyak buang air kecil akan menciptakan haus yang abnormal (polidipsia) karena kalori yang berlebihan hilang dalam urin, berat badan akan menurun. Untuk mengimbanginya, maka pasien dengan diabetes melitus akan sering merasa lapar berlebihan (polifagia).

Seseorang yang mengalami trias gejala poliuria, polifagia, dan polidipsia sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah dirinya mengalami diabetes mellitus atau tidak.

Pasien berusia 17 tahun dengan riwayat keluarga memiliki penyakit diabetes mellitus juga disarankan memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan skrining diabetes. Pasien berusia 40 tahun ke atas juga disarankan untuk melakukan skrining diabetes melitus.

Penyebab diabetes melitus

  • Penyebab diabetes melitus tipe 1

Penyebab pasti diabetes mellitus tipe 1 belum diketahui, tetapi dapat dipengaruhi juga oleh peran sistem daya tahan tubuh (sistem imun). Sistem kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melawan bakteri atau virus berbahaya malah menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas. Hal ini membuat tubuh memiliki sedikit atau bahkan tanpa insulin, akibatnya gula menumpuk di aliran darah.

Diabetes tipe 1 diduga disebabkan oleh kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan, meskipun penelitian akan faktor-faktor tersebut masih belum jelas.

  • Penyebab diabetes melitus tipe 2

Pada diabetes melitus tipe 2, sel-sel tubuh mengalami resistensi terhadap aksi insulin sehingga pankreas tidak dapat membuat insulin yang cukup untuk mengatasi resistensi ini. Beberapa penyebab diabetes melitus tipe 2:

  • Usia - yang lebih tua dari 45 tahun
  • Kegemukan atau obesitas
  • Riwayat keluarga - memiliki ibu, ayah, kakak, atau adik dengan diabetes melitus
  • Ras / etnis tertentu
  • Memiliki bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram
  • Mengalami diabetes selama kehamilan (gestational diabetes)
  • Tekanan darah tinggi - 140/90 mmHg atau lebih tinggi. Kedua angka ini penting. Jika salah satu atau kedua angka tinggi, berarti tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi - kolesterol total lebih dari 240 mg/dL
  • Kurang aktivitas fisik - berolahraga kurang dari 3 kali seminggu
  • Kadar gula darah yang tinggi pada pemeriksaan sebelumnya
  • Memiliki kondisi kesehatan lain yang terkait insulin, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS)
  • Memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke

Setelah mengetahui beberapa penyebab yang memungkinkan seseorang mengidap diabetes mellitus, maka memperbaiki gaya hidup dan pola makan sangat dianjurkan. Hal ini untuk membantu menjaga kondisi kesehatan serta mengurangi gejala dan keparahan kondisi diabetes yang dialami.

  • Penyebab diabetes gestasional

Selama kehamilan, plasenta menghasilkan hormon untuk mempertahankan kehamilan. Hormon-hormon ini membuat sel-sel menjadi lebih tahan (resisten) terhadap insulin. Biasanya, pankreas akan merespons dengan memproduksi cukup insulin tambahan untuk mengatasi resistensi ini.

Tetapi terkadang pankreas tidak dapat melakukannya. Ketika hal ini terjadi, maka jumlah glukosa yang bisa masuk ke sel-sel tubuh menjadi terlalu sedikit dan kebanyakan yang tinggal di darah sehingga mengakibatkan terjadinya diabetes gestasional.

Diagnosis diabetes melitus

Untuk memastikan diabetes melitus perlu dilakukan anamnesis (tanya jawab) secara detail pada pasien terkait keluhan yang dialami, riwayat penyakit diri dan keluarga, riwayat penyakit dahulu yang pernah dialami hingga riwayat kebiasaan sehari–hari. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya gangguan fisik yang dialami meskipun pada beberapa pasien hal ini tidak ditemukan.

Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, antara lain:

  • pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS)
  • pemeriksaan kadar gula darah puasa (GDP)
  • pemeriksaan kadar gula darah 2 jam post prandial (GDPP)
  • pemeriksaan kadar HbA1C

Pengobatan diabetes melitus

Pengobatan di rumah

Untuk mengatasi diabetes melitus perlu dilakukan terapi non farmakologi berupa pengaturan diet dan juga peningkatan aktivitas fisik. Diet yang bisa dilakukan adalah pembatasan makanan tinggi karbohidrat terutama karbohidrat sederhana seperti gula, coklat, roti, serta membatasi makanan tinggi kolesterol seperti santan, gorengan, jeroan, maupun telur puyuh.

Sementara itu, makanan yang perlu ditingkatkan adalah makanan tinggi serat seperti sayur dan buah terutama apel. Namun beberapa buah yang tinggi gula dan lemak juga sebaiknya dibatasi seperti mangga, pisang dan durian. Peningkatan aktivitas fisik terutama dengan olahraga teratur sangat disarankan misalnya berenang, jalan cepat, dan bersepeda. Olahraga sebaiknya dilakukan teratur 30-45 menit tiap sesinya sebanyak 3-5 kali setiap minggu.

Pengobatan di rumah sakit

Untuk saat ini, satu-satunya cara pengobatan diabetes mellitus tipe 1 adalah dengan menggunakan suntik insulin. Terdapat beberapa jenis insulin, yaitu: insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari, insulin kerja singkat yang bekerja 30-60 menit dan bertahan maksimal 8 jam, dan insulin kerja cepat bekerja 5-15 menit dan dipertahankan hingga 4-6 jam. Biasanya jenis-jenis insulin itu digunakan secara kombinasi.

Insulin diberikan dengan cara injeksi (suntikan) dan dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama dengan menggunakan jarum dan alat suntik atau pena. Kedua, dengan menggunakan pompa insulin. Dokter dan perawat akan membantu dan mengajari untuk menggunakan alat-alat ini dengan baik sehingga nantinya bisa melakukan pengobatan secara mandiri.

Dibandingkan alat suntik jarum, pompa insulin sangat mudah digunakan, namun harganya relatif mahal. Alat ini biasanya lebih diutamakan untuk penderita yang sering mengalami hipoglikemia, suatu kondisi di mana kadar gula darah turun terlalu rendah.

Baca juga: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Hipoglikemia

Alternatif lain pengobatan diabetes melitus tipe 1 adalah transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet). Namun karena resikonya yang cukup tinggi, banyak penderita diabetes tidak menempuh cara ini.

Pengobatan diabetes melitus tipe 2

Terdapat beberapa macam obat yang bisa digunakan dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2. Obat-obat ini bisa diberikan secara tunggal maupun kombinasi dari dua atau lebih obat.

1. Metformin

Metformin adalah obat lini pertama untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2. Metformin bekerja dengan cara menekan produksi glukosa oleh hati dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin.

Kelebihan mengonsumsi metformin dibandingkan jenis obat lain adalah obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat badan sehingga cocok diberikan untuk penderita yang mengalami kelebihan berat badan. Pengobatan dengan metformin terkadang mengakibatkan efek samping ringan seperti mual, muntah dan diare. Obat ini juga dikontraindikasikan untuk penderita yang juga mengalami masalah ginjal.

2. Sulfonilurea

Jika metformin tidak efektif menurunkan kadar gula darah penderita diabetes, obat-obat jenis sulfonilurea biasanya digunakan sebagai pengganti. Sulfonilurea bermanfaat untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas. Obat-obat jenis ini bisa diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan metformin.

Beberapa jenis obat sulfonilurea di antaranya, glimepiride, glibenclamide, glipizide, gliclazide, dan gliquidone. Obat-obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter, karena jika tidak digunakan dengan benar dapat meningkatkan resiko terjadinya hipoglikemia terutama pada lansia.

3. Pioglitazone (Thiazolidindione)

Pioglitazone bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh penderita terhadap insulin. Peningkatan sensitivitas insulin ini mengakibatkan gula yang diubah menjadi energi lebih banyak, sehingga kadar gula dalam darah menjadi menurun. Obat ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan metformin, obat-obat golongan sulfonilurea, atau keduanya. Tetapi penggunaannya untuk mengobati diabetes sangat perlu diperhatikan karena sempat diketahui dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

4. Gliptin (Dipeptidyl Peptidase-4 Inhibitor)

Gliptin atau penghambat DPP-IV(misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin) menghambat pemecahan hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1), hormon yang terkait dalam produksi insulin. Dengan menghambat pemecahan hormon GLP-1, gliptin bermanfaat meningkatkan sekresi insulin menghambat sekresi glucagon.

Obat ini biasanya diberikan untuk penderita diabetes yang tidak bisa menggunakan metformin atau sulfonilurea, atau dikombinasikan dengan kedua obat-obat tersebut.

5. Agonis GLP-1

Agonis GLP-1 (misalnya, Exenatide dan liraglutide) adalah obat yang bekerja dengan mekanisme mirip hormon GLP-1 alami. Kedua obat ini banyak digunakan untuk mengobati penderita diabetes yang menggunakan metformin atau sulfonilurea dan mengalami obesitas.

6. Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat

Acarbose digunakan untuk penderita diabetes yang tidak cocok dengan obat-obat lain. Acarbose bekerja dengan cara memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula dalam tubuh sehingga dapat mencegah peningkatan kadar gula darah.

7. Nateglinide dan Repaglinide

Obat-obat ini bekerja dengan cara merangsang pankreas melepaskan lebih banyak insulin ke dalam darah. Dengan demikian glukosa yang diubah menjadi energi akan lebih banyak sehingga kadar gula tidak akan meningkat.

8. Terapi Insulin

Penderita diabetes yang menggunakan obat-obatan yang diberikan secara oral, kadang-kadang membutuhkan terapi tambahan berupa suntikan insulin. Jenis dan cara pemakaian suntikan insulin untuk penderita diabetes melitus tipe 2 sama dengan yang digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 1 yang sudah dijelaskan di atas.

Penyakit diabetes melitus adalah suatu penyakit yang harus mendapatkan penanganan serius. Penanganan yang tepat sejak tanda-tanda awal muncul, akan mencegah penyakit ini semakin memburuk dan menimbulkan komplikasi.

Komplikasi diabetes melitus

Diabetes melitus yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan berbagai komplikasi penyakit kronis. Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat diabetes:

1. Kerusakan mata (Retinopati)

Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah pada retina tersumbat, bocor atau munculnya pembuluh darah baru sehingga menghalangi cahaya sampai ke retina. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kebutaan.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki faktor risiko tinggi menderita penyakit diabetes disarankan untuk memeriksakan mata secara rutin. Hal ini dilakukan agar resiko terkena retinopati diabetik dapat terdeteksi secara dini, sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

2. Kerusakan syaraf (Neuropati)

Selain menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, bisa juga terjadi kerusakan sel-sel saraf.  Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan selubung syaraf. Gejalanya bisa berupa kesemutan atau terasa seperti terbakar pada ujung jari-jari tangan atau kaki. Jika dibiarkan akan menyebar ke bagian tubuh yang lain.

3. Penyakit jantung dan stroke

Penderita penyakit diabetes memiliki resiko tinggi mengalami gangguan pada organ jantung dan otak. Resiko yang mungkin terjadi pada kesehatan jantung misalnya angina, yang terjadi karena aliran darah ke jantung terhambat. Stroke juga bisa terjadi karena aliran darah ke otak juga terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah ke otak.

4. Penyakit ginjal (Nefropati)

Sama seperti organ lainnya, kadar gula darah yang tinggi dapat merusak proses penyaringan di organ ginjal. Apabila tidak diwaspadai dan ditangani secara serius bisa menyebabkan gagal ginjal.

5. Disfungsi seksual

Kerusakan pembuluh darah dan saraf akibat penyakit diabetes beresiko menyebabkan difungsi seksual, misalnya impotensi. Pada wanita, kerusakan saraf akan menurunkan tingkat kepuasan saat berhubungan intim. Untuk itu, penting untuk mengendalikan gula darah.

6. Risiko pada wanita hamil dan bayi

Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes melitus bisa membahayakan kesehatan ibu dan janinnya. Berat bayi diatas normal di atas 4 kg (giant baby), penyakit jantung bawaan, kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka adalah beberapa bahaya yang bisa dialami bayi jika penanganan penyakit ini tidak dilakukan dengan baik. Sindrom gangguan pernafasan, hyperbilirubinemia, hipoglikemia (gula darah rendah), diabetes melitus tipe 2, bahkan kematian bayi dalam kandungan juga bisa terjadi.

7. Luka yang terinfeksi atau ulkus diabetikum

Ulkus diabetikum merupakan luka yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem saraf tepi, kerusakan struktur tulang kaki, maupun penebalan serta adanya penyempitan pembuluh darah. Gejala ulkus diabetikum yang terjadi pada penderita diabetes dapat berupa pembengkakan kaki, kemerahan, serta iritasi.

8. Depresi

Penderita diabetes mellitus tipe 2 umumnya memiliki kecenderungan mengalami gejala depresi. Belum dapat diketahui apa yang menjadi penyebab kondisi iini terjadi, tetapi mungkin disebabkan oleh faktor psikologi karena efek metabolik yang terjadi dapat mempengaruhi fungsi otak. Hal ini juga bisa disebabkan karena pola makan yang buruk serta pengaruh pengobatan.

Baca juga: Pengaruh Stress terhadap Diabetes dan Gula Darah

Pecegahan diabetes mellitus

Untuk kondisi diabetes mellitus tipe 1 tidak bisa dicegah. Namun untuk diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah dengan cara:

  • menjaga pola hidup sehat berupa mengurangi makanan tinggi karbohidrat dan lemak
  • meningkatkan asupan makanan tinggi serat
  • meningkatkan aktivitas fisik dengan bberolahraga teratur 30–45 menit sehari sebanyak 3-5 kali per minggu
  • menurunkan berat badan berlebih

Baca selengkapnya: Kadar Gula Darah Normal dan Cara Mencegah Diabetes


Referensi

American Diabetes Association (2018). Diabetes and Oral Health Problems.

Brutsaert, E. MSD Manual (2017). Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS).

Dansinger, M. WebMD (2017). How to Prevent Diabetes Complications.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Dok mau tanyak..pepesan apa ya yg buat nyembuhin luka di karnakan diabetes
Pertanyaan ini telah dijawab oleh seorang ahli medis

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit