Kekurangan Sinar Matahari Dapat Akibatkan Depresi

Berdasarkan penelitian, mengungkapkan bahwa seseorang dengan asupan vitamin D di bawah 20ng/ml memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi, daripada seseorang yang mendapatkan asupan vitamin D lebih dari 30ng/ml.
Dipublish tanggal: Jul 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Okt 14, 2019 Waktu baca: 3 menit
Kekurangan Sinar Matahari Dapat Akibatkan Depresi

Jika Anda akhir-akhir ini sering merasa lelah, suasana hati yang selalu tidak enak, bisa jadi Anda kekurangan sinar matahari. Mengapa demikian ? Apakah benar ? Data sebanyak 16.000 dari Universitas Brigham telah dikumpulkan untuk sebuah penelitian. 

Dimana data tersebut dikumpulkan selama enam tahun lamanya dan berisi informasi tentang kondisi cuaca di tempat tinggal partisipan. Data menunjukkan bahwa ternyata yang paling signifikan mempengaruhi gangguan emosi adalah faktor berapa lamanya paparan sinar matahari. 

Berikut ini penjelasannya lebih lanjut.

Apa hubungan sinar matahari, vitamin D dengan depresi ?

Di Amerika, 20% penduduknya mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD) pada saat musim dingin terjadi. SAD dengan depresi biasa berbeda. Pada penderita SAD, mereka tidak mengalami depresi sama sekali saat musim semi dan juga musim panas.

Tahukah Anda, apabila sinar matahari berfungsi untuk mengatur irama sirkadian dalam tubuh dan jam biologis manusia. 

Di mana sistem tubuh manusia melalui kulit dan mata yang mampu mendeteksi adanya sinar matahari di sekitar lingkungan, akan membantu menyesuaikannya dengan hormon tubuh sehingga dapat berfungsi di waktu yang sesuai serta tepat dimana keberadaan manusia tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa pada negara yang memiliki 4 musim, tingkat depresi paling banyak terjadi ketika musim gugur dan musim dingin. Ketika lamanya waktu siang hari lebih pendek dibandingkan waktu malam hari. 

Akan tetapi, para peneliti menyatakan bahwa untuk mengetahui hubungan antara asupan vitamin D dan waktu lamanya aktivitas di luar ruangan, akan diperlukan penelitian yang lebih lanjut. Karena seperti yang diketahui bahwa sinar matahari membantu penyerapan vitamin D.

Berdasarkan penelitian, mengungkapkan bahwa seseorang dengan asupan vitamin D di bawah 20ng/ml memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi, daripada seseorang yang mendapatkan asupan vitamin D lebih dari 30ng/ml. 

Penelitian lain juga menyatakan bahwa pemberian asupan vitamin D tambahan seperti melalui suplemen makanan dapat membantu meringankan gejala depresi yang dialami seseorang.

Apakah sinar matahari mempengaruhi mood?

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Dermato-Endocrinology, sebagian besar molekul (chromophore) yang ada pada lapisan-lapisan kulit manusia mampu menyerap dan berinteraksi dengan sinar ultraviolet (UV). Yang kemudian akan menghasilkan efek yang kompleks dan sinergis. 

Interaksi tersebutlah yang akan mempengaruhi tubuh Anda seperti mencegah penyakit, mempengaruhi suasana hati serta kondisi kesehatan mental Anda.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa sinar matahari mampu mempengaruhi irama sirkadian dalam tubuh Anda. Terapi sinar juga terbukti efektif untuk menangani depresi. 

Saat lingkungan di sekitar gelap, maka tubuh akan meningkatkan produksi melatonin, hal ini yang menyebabkan tubuh Anda cepat merasa lelah di saat malam hari. 

Sedangkan sinar ultraviolet terbukti mampu menstimulasi sel dalam tubuh yang disebut keratinosit, selanjutnya membuat beta-endorphins , yaitu hormon yang dapat membuat suasana hati seseorang menjadi lebih baik. 

Hormon seperti serotonin juga diproduksi karena bereaksi juga pada sinar matahari, yang mana hormon ini dapat meningkatkan energi dan mood seseorang.

Cara lain menangani depresi

Memang sinar matahari menjadi faktor utama dalam menangani depresi, namun ada juga beberapa cara lain yang dapat dilakukan seperti berikut ini :

Olahraga

Apabila Anda mengalami depresi, lakukanlah beberapa kegiatan olahraga. Karena terbukti lebih efektif daripada obat anti-depresan. Olahraga juga akan menormalkan kadar insulin dalam tubuh dan memproduksi hormon yang membuat Anda lebih nyaman.

Tidur lebih awal

Ingat bahwa manusia membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam untuk tidur. Sehingga, jagalah waktu tidur Anda dengan cukup, karena faktor lain penyebab depresi adalah kurangnya waktu tidur seseorang.

Hindarilah makanan olahan

Makanan olah yang sekarang ini makin banyak jenisnya, diketahui mengandung gula buatan dan zat kimia sintetis lainnya yang dapat mengganggu kinerja fungsi otak dan kesehatan mental Anda. Konsumsilah makanan segar yang sehat untuk kebaikan tubuh Anda.

Tingkatkan konsumsi omega-3 hewani

Omega-3 memiliki peranan penting dalam kinerja fungsi otak, sehingga penuhilah kebutuhan omega-3 Anda. Karena terbukti dari penelitian bahwa seseorang dengan omega-3 yang lebih rendah, memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami depresi di kemudian hari. 

Omega-3 dapat Anda konsumsi melalui sumber makanan seperti berbagai jenis ikan.


3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Depression: What it is, symptoms, causes, treatment, types, and more. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/8933.php)
Depression: Symptoms, Causes, Treatment, and More. Healthline. (https://www.healthline.com/health/depression)
Signs of Clinical Depression: Symptoms to Watch For. WebMD. (https://www.webmd.com/depression/guide/detecting-depression)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel selanjutnya
Apakah Saat Depresi Tetap Bisa Kerja Produktif ?
Apakah Saat Depresi Tetap Bisa Kerja Produktif ?

Tidak semua orang yang depresi menarik diri dari lingkungan sosialnya dan menghindari segala bentuk kegiatan sehari-harinya. Hal itu tergantung faktor penyebab depresinya.

Buka di app