Bronkodilator: Obat Untuk Mengobati Sesak Nafas

Update terakhir: Feb 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 514.191 orang

Definisi dari obat Bronkodilator

Bronkodilator adalah tipe obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati gejala chronic obstructive pulmonary disease (COPD) seperti nafas yang berdecit, kesulitan benafas, dan sesak di dada. Obat bronchodilator adalah kunci dalam mengatasi gejala chronic obstructive pulmonary disease. Banyak orang yang menderita chronic obstructive pulmonary disease menggunakan setidaknya satu jenis bronkodilator sebagai bagian dari obat yang digunakannya. Merupakan hal yang umum apabila pasien memiliki lebih dari satu tipe bronkodilator untuk mengatasi penyakit-penyakit pada bagian yang berbeda. Hal ini dikarenakan, bronkodilator bekerja dengan jalan yang berbeda-beda dalam meredakan gejala.

Jenis-Jenis Bronkodilator

Bronkodilator yang umum digunakan untuk mengobati COPD antara lain:

  • Methylxanthine
  • Beta-agonist bronchodilators
  • Anticholinergic atau antimuscarinic bronchodilators

Namun, penggunaan methylxantine pada pasien chronic obstructive pulmonary disease merupakan hal yang kontroversial, dan umumnya digunakan pada kasus khusus yaitu apabila penderita tidak merespon terhadap bronkodilator yang bekerja cepat.

Bronkodilator tersedia sebagai bentuk bekerja cepat dan bekerja lama:

  • Short-acting beta-agonist bronchodilators – atau sering disebut SABA
  • Short-acting antimuscaricin bronchodilator – atau sering disebut SAMA
  • Long-acting beta-agonist bronchodilators – atau sering disebut LABA
  • Long-acting antimuscaricin bronchodilator – atau sering disebut LAMA

Cara kerja obat

Orang yang menderita chronic obstructive pulmonary disease memiliki jalur nafas yang meradang dan membengkak. Hal ini dapat menyebabkan otot yang menyelubungi jalur nafas menyempit secara tiba-tiba, yang disebut dengan bronchospasm. Saat bronchospasm terjadi, jalur nafas menjadi lebih sempit dan mempersulit proses pernafasan. Bronkodilator mengobati bronchospasm dengan mempengaruhi otot yang menyelubungi jalur nafas. 

Bronkodilator ini dapat membuat otot yang menyelubungi jalur nafas rileks saat otot tersebut terlalu tegang, dan mencegah otot untuk kembali menegang. Saat otot rileks, jalur nafas menjadi lebih lebar, dan udara dapat masuk kedalam maupun keluar dari paru-paru. Hal ini mempermudah orang yang menderita chronic obstructive pulmonary disease bernafas dengan mudah. Pasien biasanya menggunakan bronkodilator dengan inhaler atau nebulizer.

  • Metered-dose inhaler (MDI) digunakan untuk melepaskan bronkodilator dalam bentuk semprotan yang keluar dari kanister dan dihirup dari mulut.
  • Dry-powdered inhaler (DPI) digunakan untuk melepaskan bronkodilator berbentuk bubuk kering melalui inhaler daripada dalam bentuk asap atau semprotan.
  • Nebulizer adalah alat khusus yang mengubah bronkodilator yang berbentuk cair menjadi kabut yang sangat baik sehingga dapat diserap oleh paru-paru saat dihirup

Beberapa bentuk bronkodilator digunakan sebagai inhaler pereda, karena dapat digunakan dengan segera dan meredakan bronchospasm dengan cepat dan gejala pernafasan yang tiba-tiba memburuk. Pada tahap chronic obstructive pulmonary disease awal, inhaler mungkin menjadi satu-satunya obat yang dibutuhkan pasien untuk mengatasi gejala masalah pernafasan. 

Beberapa jenis bronkodilator lain digunakan sebagai obat untuk perawatan, karena digunakan dalam jangka waktu panjang, digunakan setiap hari untuk mencegah dan mengurangi gejala chronic obstructive pulmonary disease harian, tidak digunakan untuk bronchospasm atau gejala yang tiba-tiba. Pasien chronic obstructive pulmonary disease pada tahap lanjutan menggunakan bronkodilator sebagai obat perawatan lebih sering.

Efek samping

Efek samping bronkodilator bisa bervariasi, tergantung pada pengobatan spesifik yang Anda ambil. Pastikan Anda membaca leaflet yang tersedia bersama obat untuk mengetahui efek samping spesifik. Efek samping yang umum terjadi antara lain:

  • Sakit kepala
  • Denyut jantung yang tiba-tiba terasa (palpitasi)
  • Batuk-batuk
  • Diare
  • Gemetar, terutama di tangan
  • Mulut kering
  • Kram otot
  • Mual-mual dan muntah-muntah

Interaksi dengan obat lain

Bronkodilator dapat berinteraksi dengan obat lain, baik dapat mempengaruhi cara kerja satu sama lain atau meningkatkan risiko efek samping. Beberapa obat yang berinteraksi dengan bronkodilator (terutama theophylline) antara lain:

  • Beberapa antidepresan seperti monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) dan tricyclic antidepressant (TCAs)
  • Benzodiazepine, salah satu jenis sedatif yang dapat digunakan sebagai obat jangka pendek untuk kecemasan atau masalah tidur (insomnia)
  • Quinolones, tipe obat antibiotik
  • Diuretik, salah satu obat yang membantu untuk mengeluarkan cairan dari tubuh
  • Digoxin, obat yang digunakan untuk mengobati aritmia
  • Lithium, obat yang digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan bipolar yang parah

List di atas bukan merupakan list yang lengkap, dan tidak semua obat di atas berinteraksi dengan setiap jenis bronkodilator.

 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit