Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Asites: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: SEP 13, 2019 Waktu baca: 5 menit
Telah dibaca 950.924 orang

Setiap bagian tubuh dapat mengalami pembengkakan, termasuk rongga perut. Jika perut Anda tampak lebih besar dan berat badan naik drastis dalam waktu singkat, bisa jadi Anda mengalami asites.

Apa itu asites?

Asites adalah penumpukan cairan (biasanya cairan benang dan cairan serosa yang berwarna kuning pucat) pada rongga perut. Seseorang dikatakan mengalami asites jika cairan yang menumpuk di rongga perut mencapai 25 ml.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat GRATIS Ongkir via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir minimal belanja Rp50.000.

Iklan obat

Asites umumnya terjadi karena adanya gangguan fungsi hati sehingga hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Kondisi ini mendorong banyak cairan memenuhi ruang antara rongga perut dengan organ-organ lainnya.

Penumpukan cairan di perut juga dapat terjadi karena beberapa kondisi seperti penyakit hati (liver), kanker, gagal jantung kongestif, dan gagal ginjal.

Penyebab asites

Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab asites, yaitu:

1. Sirosis hati

Pada kebanyakan kasus, penyebab asites terjadi karena adanya luka dan jaringan parut pada hati. Kondisi ini disebut dengan sirosis atau penyakit hati lanjutan.

Adanya luka pada organ hati dapat meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah menuju hati. Semakin besar tekanannya, cairan tubuh akan terdorong naik hingga ke rongga perut dan menyebabkan asites.

Kerusakan hati biasanya dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti penyakit hepatitis B, hepatitis C, hingga kebiasaan minum alkohol secara berlebihan.

2. Retensi garam dan air

Penyebab asites juga bisa karena adanya retensi garam dan air. Sederhananya, retensi adalah gangguan ketika tubuh gagal mengeluarkan kelebihan cairannya sehingga menyebabkan pembengkakan.

Pada kasus retensi garam dan air, volume darah dalam tubuh dinilai terlalu rendah. Akibatnya, ginjal memerintahkan tubuh untuk menyerap lebih garam dan air guna menggantikan hilangnya volume cairan dalam tubuh. Maka terjadilah kondisi asites.

Selain 2 penyebab asites utama tadi, masih ada beberapa faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya asites. Kondisi tersebut meliputi:

  • Gagal jantung kongestif
  • Hepatitis B atau C
  • Riwayat penggunaan alkohol
  • Gagal ginjal
  • Kanker, misalnya kanker pankreas, kanker hati, kanker endometrium, dan kanker ovarium
  • Pankreatitis
  • Tuberkulosis
  • Hipotiroid

Gejala asites

Cara paling mudah untuk mengetahui tanda dan gejala asites adalah adanya pembengkakan pada area rongga perut atau abdomen. Biasanya terasa sakit dan memicu gejala asites lainnya yang meliputi:

  • Mual
  • Penurunan nafsu makan
  • Kelelahan
  • Sesak napas, terutama saat berbaring
  • Sensasi ingin buang air kecil dan sembelit
  • Heartburn
  • Perut kembung
  • Sakit perut
  • Sakit punggung
  • Susah duduk atau bergerak
  • Berat badan naik dalam waktu singkat

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua pembengkakkan pada rongga perut pasti disebabkan oleh penyakit asites. Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala-gejala asites tersebut, segera periksakan diri ke dokter terdekat. 

Jika tidak cepat-cepat ditangani, asites juga dapat memicu komplikasi yang membahayakan tubuh. Beberapa komplikasi asites meliputi:

  • Neri perut
  • Efusi pleura, atau penumpukan cairan di paru-paru yang bisa menyebabkan sesak napas
  • Hernia, termasuk hernia inguinalis
  • Infeksi bakteri, seperti peritonitis bakterial spontan
  • Sindrom hepatorenal, kasus langka pada gagal ginjal progresif

Diagnosis Ascites

Diagnosis Ascites memerlukan beberapa langkah. Pertama dokter akan memeriksa pembengkakan pada perut Anda. Kemudian mereka mungkin akan melakukan tes pencitraan atau metode lainnya untuk mencari adanya cairan, termasuk:

  • USG
  • CT scan
  • MRI
  • tes darah
  • Laparoskopi
  • Angiografi

Pencegahan asites

Sayangnya, belum ada satupun cara yang mampu mencegah asites. Namun, menjalani pola hidup sehat setidaknya dapat membantu menurunkan risiko asites.

Berikut ini beberapa cara mencegah asites dengan pola hidup sehat, di antaranya:

  • Hindari minum alkohol, untuk mencegah terjadinya sirosis.
  • Lakukan vaksin hepatitis B.
  • Pakai kondom tiap kali berhubungan seks, sebab penyakit hepatitis dapat menular secara seksual.
  • Hindari menggunakan jarum suntik bersamaan. Penyakit hepatitis juga dapat menular lewat jarum suntik tidak steril.
  • Perhatikan efek samping obat-obatan yang dikonsumsi. Jika ada obat yang memiliki efek samping kerusakan hati, konsultasikan dulu ke dokter sebelum minum obat tersebut.

Pengobatan asites

Saat mendiagnosis asites, dokter akan memeriksa perut Anda untuk melihat seberapa banyak cairan di rongga perut. Ada beberapa rangkaian pemeriksaan yang dapat dilakukan dotker, yaitu:

  • Menimbang berat badan, biasa dilakukan bersama dengan mengukur ketebalan perut untuk melihat banyaknya cairan di rongga perut. Pasalnya, kenaikan berat badan karena cairan perut lebih cepat daripada karena penumpukan lemak tubuh.
  • USG abdomen, guna memastikan penyebab asites dan melihat apakah penderita mengidap kanker tertentu atau kanker telah menyebar ke hati.
  • Tes darah, guna melihat fungsi ginjal dan hati. Jika ditemukan sirosis, diperlukan tes lebih lanjut untuk memastikan penyebab kerusakan fungsi organ, termasuk tes antibodi untuk hepatitis B dan hepatitis C.
  • Analisis sampel cairan, guna melihat kemungkinan adanya sel kanker atau infeksi. 
  • Sinar-X, untuk melihat risiko penumpukan cairan di paru-paru, penyebaran kanker ke paru-paru, atau gagal jantung.
  • MRI, dilakukan jika USG tidak mampu menemukan penyebab asites.

Setiap pasien dapat menjalani prosedur perawatan yang berbeda-beda, sesuai dengan penyebab asites, keparahan gejala, dan kondisi kesehatan pasien itu sendiri. Pengobatan asites dilakukan untuk mengendalikan dan mengurangi gejala. 

Ada 3 jenis pengobatan asites yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Obat diuretik

Obat diuretik menjadi salah satu pengobatan asites yang efektif untuk sebagian besar pasien. Obat diuretik, seperti furosemide atau spironolactone, akan membuat Anda sering buang air kecil guna membilas kelebihan garam dan air dari tubuh. Dengan demikian, tekanan pada pembuluh darah hati jadi berkurang.

2. Paracentesis

Paracentesis dilakukan pada kasus asites yang parah atau kambuhan. Parasentesis adalah prosedur memasukkan jarum tipis dan panjang ke rongga perut untuk mengeluarkan kelebihan cairan. Cara ini dilakukan guna mengurangi tekanan pada rongga perut, sehingga pasien merasa lebih nyaman.

Ada risiko infeksi yang mungkin terjadi, sehingga dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Secara umum, prosedur ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. 

3. Operasi

Operasi biasanya dilakukan jika asites sudah terlalu parah. Dokter akan memasukkan tabung permanen (shunt) yang menghubungkan rongga perut dan leher, supaya aliran darah di hati jadi lancar.

Dokter mungkin juga akan menyarankan transplantasi hati jika asites tidak merespon berbagai pengobatan. Jalan terakhir ini sering dilakukan pada kasus penyakit hati stadium akhir.

Yang terpenting, selalu konsultasikan ke dokter mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing pengobatan. Jangan sungkan menanyakan tindakan apa yang terbaik dan paling cocok dengan kondisi Anda.

Komplikasi Ascites

  • Nyeri perut, rasa tidak nyaman dan kesulitan bernafas. Hal ini terjadi ketika terlalu banyak cairan di dalam rongga perut
  • Infeksi, cairan yang berkumpul dalam rongga perut dapat menyebabkan infeksi oleh bakteri
  • Cairan dalam paru-paru, kondisi ini disebut Hepatitis hidrotoraks. Cairan mengisi paru-paru, paling sering pada sisi kanan.
  • Gagal ginjal, sirosis yang makin memburuk dari liver dapat menyebabkan gagal ginjal. Kondisi ini disebut sindrom hepatorenal. Hal ini jarang terjadi, namun kondisi serius dapat mengakibatkan gagal ginjal.

Referensi

ACG. (2013). Ascites: A Common Problem in People With Cirrhosis.

Gordon, FD. (2012). Ascites. Clinics in Liver Disease, 16(2), pp. 285-299.

Herrine, S. MSD Manual. (2016). Ascites.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit