Waspada, Sakit Gusi Pada Wanita Lansia Bisa Berujung Kanker

Dipublish tanggal: Jul 10, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Waspada, Sakit Gusi Pada Wanita Lansia Bisa Berujung Kanker

Karies atau gigi berlubang bukanlah persoalan sepele. Masalah pada gigi ini jika tidak segera diatasi bisa memicu infeksi yang mengakibatkan penyakit jantung, stroke, dan masalah pernapasan. 

Apalagi jika dialami oleh lansia, masalah gigi berlubang yang tampak sepele ternyata bisa meningkatkan risiko stroke. Tidak hanya itu, sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa wanita lansia yang menderita masalah gusi juga rentan terkena kanker. Namun, bagaimana bisa?

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Wanita lansia yang terkena penyakit gusi berisiko terkena kanker

Infeksi gusi atau yang kerap disebut dengan periodontitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh penumpukan plak. Lapisan lengket yang terdapat pada sela-sela gigi tersebut dapat memicu infeksi yang sangat parah. Apabila tidak segera diobati, hal ini bisa merusak jaringan dan tulang dalam gusi.

Sebetulnya, hampir semua kalangan dapat mengalami penyakit gusi ini. Namun, data menyebutkan bahwa sebanyak 70% penderita adalah kaum lansia yang berusia di atas 65 tahun. 

Penelitian lebih lanjut memaparkan bahwa wanita lansia yang mengalami masalah gusi ternyata 14% lebih berisiko terkena kanker. Itulah mengapa bagi wanita yang telah berusia lanjut diharapkan lebih memelihara kesehatan gigi dan gusi agar gejala kanker bisa dicegah.

Baca Juga: Tips Mencegah Gigi Ompong Saat Tua

Apa jenis kanker yang mengintai wanita lansia dengan penyakit gusi?

Jenis kanker yang paling berisiko dialami wanita lansia yang memiliki masalah gusi adalah kanker kerongkongan atau esofagus. Wanita lansia dengan penyakit gusi berisiko 3 kali lebih besar terkena kanker esofagus, daripada lansia yang kondisi gusinya sehat. 

Pada gusi yang meradang, kuman di mulut bisa dengan mudah masuk ke dalam kerongkongan. Kuman dan bakteri tersebut selanjutnya menginfeksi hingga meningkatkan risiko kanker pada area esofagus.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Bakteri periodontal tertentu juga bisa meningkatkan risiko peradangan meski dalam jumlah yang kecil. Karena itulah, sangat penting untuk menentukan penyebab meningkatnya risiko kanker kerongkongan. Jika benar dikarenakan oleh masalah gusi, maka tindakan pencegahan harus dilakukan secepatnya.

Selain kanker esofagus, masalah gusi juga erat hubungannya dengan kanker kantung empedu, kanker kulit, kanker paru-paru, dan kanker payudara

Meski belum ada penelitian lanjut antara keterkaitan peradangan gusi dengan kanker kantung empedu, namun para peneliti telah menemukan hasil bahwa peradangan juga ikut mempengaruhi timbulnya kanker pada kantung empedu.

Baca Juga: 11 Penyakit Lansia yang Sering Terjadi di Indonesia

Masih diperlukan penelitian lebih lanjut

Kaitan antara infeksi gusi dengan beberapa jenis kanker sebenarnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Para ahli menyebutkan bahwa patogen kemungkinan masuk ke dalam aliran darah melalui jaringan gusi yang rusak. 

Bila terus dibiarkan, patogen tersebut dapat menjangkau bagian tubuh tertentu dan memicu pembentukan kanker. Dari sinilah bisa diambil kesimpulan bahwa gusi yang bermasalah menjadi salah satu akses masuknya patogen dari mulut ke tubuh dan akhirnya terjadilah kanker.

Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan dengan menggunakan sampel yang lebih luas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hubungan yang aktual antara masalah gusi yang dialami wanita lansia dengan penyakit kanker secara keseluruhan.

Jika memang benar peradangan dan infeksi pada gusi bisa memicu kanker terutama pada wanita lanjut usia, maka upaya pencegahan harus segera dilakukan. Caranya adalah dengan merawat kesehatan gigi dan mulut dengan benar serta melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi secara teratur. Bila ditemukan gusi yang bermasalah, terutama pada lansia, dokter gigi akan segera melakukan penanganan agar tidak semakin parah.

 Baca Selengkapnya: Apa Bedanya Dokter Gigi dan Ortodontis? Cek di Sini!

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
The aging mouth - and how to keep it younger. Harvard Health. (https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/the-aging-mouth-and-how-to-keep-it-younger)
Aging changes in teeth and gums. MedlinePlus. (https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000951.htm)
Teeth and Aging: How Your Mouth Changes As You Get Older. WebMD. (https://www.webmd.com/oral-health/teeth-gums-age#1)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app