HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Sindrom Uretra - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Apr 19, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Waktu baca: 3 menit

Uretra adalah saluran kemih yang mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh ( (dan air mani dari testis, pada pria). Sindrom uretra adalah suatu kondisi dimana uretra mengalami peradangan atau iritasi.

Sindrom uretra juga dikenal sebagai gejala infeksi saluran kemih (ISK) tanpa adanya infeksi bakteri (abacteriuria symptoms). Gejala-gejala sindrom uretra sangat mirip dengan gejala-gejala pada ISK.

Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan iritasi pada uretra Anda. Uretritis biasanya terjadi karena bakteri atau virus, tetapi sindrom uretra sering tidak memiliki penyebab yang jelas. Orang dewasa dari segala usia dapat mengalami kondisi ini, tetapi kondisi ini paling sering terjadi pada wanita.

Apa penyebab terjadinya sindrom uretra?

Sindrom uretra memiliki berbagai penyebab. Penyebab yang paling sering adalah masalah pada uretra, seperti penyempitan, iritasi atau cedera pada uretra.

Berikut beberapa hal yang dapat menyebabkan iritasi pada uretra:

  • penggunaan produk beraroma pada daerah kewanitaan, seperti parfum, sabun, bubble bath, dan pembalut wanita
  • gel spermisida (semacam kontrasepsi pada wanita)
  • makanan dan minuman tertentu yang mengandung kafein
  • kemoterapi dan radiasi

Cedera pada uretra dapat disebabkan oleh aktivitas tertentu, seperti:

  • aktivitas seksual
  • penggunaan diafragma (kondom wanita)
  • penggunaan tampon
  • mengendarai sepeda

Kondisi ini dianggap sebagai uretritis jika dalam perjalannya ditemukan infeksi bakteri atau virus. Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terkena sindrom uretra:

  • menderita infeksi kandung kemih atau ginjal yang disebabkan oleh bakteri
  • mengkonsumsi obat-obatan tertentu
  • berhubungan seks tanpa kondom
  • tertular infeksi menular seksual (IMS)
  • melakukan hubungan seksual (untuk wanita)

Gejala sindrom uretra

Baik pada pria maupun wanita, sindrom uretra dapat menyebabkan:

Beberapa gejala yang hanya ditemukan pada pria, termasuk:

Pada wanita, sindrom uretra juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada daerah vulva (bibir vagina).

Bagaimana cara mencegah terjadinya sindrom uretra?

Jika Anda pernah mengalami kondisi ini di masa lalu, Anda dapat melakukan beberapa tips di bawah ini untuk memastikan kondisi ini tidak terjadi lagi di masa mendatang, dengan cara:

  • Menghindari produk-produk yang dapat mengiritasi uretra.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seks.
  • Segera periksa ke dokter jika Anda mencurigai atau mengetahui Anda menderita IMS.
  • Biasakan buang air kecil sesegera mungkin setelah hubungan seksual.
  • Bersihkan area genital Anda dari depan ke belakang.
  • Hindari mengenakan celana yang terlalu ketat.
  • Mengenakan pakaian berbahan dasar katun, bukan pakaian dengan bahan nilon.

Bagaimana penanganan sindrom uretra?

Diagnosa

Jika Anda mengalami gejala-gejala seperti di atas, segera periksakan diri Anda ke dokter. Dokter dapat menegakan diagnosa sindrom uretra jika, gejala-gejala yang Anda alami tidak disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.

Untuk memastikan Anda tidak mengalami infeksi, dokter akan melakukan pemeriksaan darah dengan mengambil sampel darah atau melakukan USG pada daerah panggul.

Jika pemeriksaan darah dan USG tidak menemukan hasil yang abnormal, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan sistoskopi untuk melihat bagian dalam uretra Anda.

Pilihan pengobatan

Dokter dapat menggunakan sejumlah pendekatan untuk mengobati kondisi ini. Perubahan gaya hidup, obat-obatan, dan (dalam kasus yang jarang terjadi) pembedahan dapat membantu meringankan gejala Anda dan mencegah kondisi sindrom uretra kembali.

1. Perubahan gaya hidup

Dokter Anda mungkin meminta Anda untuk berhenti menggunakan produk atau melakukan kegiatan yang dapat mengiritasi uretra Anda, seperti menggunakan sabun beraroma atau menempuh jarak jauh dengan bersepeda.

2. Obat-obatan

Berikut ini adalah kelas obat yang sering digunakan untuk mengatasi sindrom uretra:

  • antibiotik, sering digunakan jika dokter mencurigai adanya infeksi yang tidak muncul pada pemeriksaan.
  • anestesi, seperti phenazopyridine (Pyridium) dan lidocaine (AneCream).
  • antispasmodik, seperti hyoscyamine (Levsin) dan oxybutynin (Ditropan XL).
  • antidepresan, seperti amitriptyline dan nortriptyline (Pamelor), yang bekerja pada sistem saraf untuk membantu meringankan rasa sakit kronis.
  • alpha-blocker, seperti doxazosin (Cardura) dan prazosin (Minipress), yang dapat meningkatkan aliran darah dengan melemaskan otot-otot di pembuluh darah Anda.

3. Operasi

Dalam beberapa kasus, dokter Anda mungkin perlu menjalani operasi atau menggunakan dilator. Pembedahan hanya dilakukan jika gejalanya disebabkan akibat penyempitan uretra. Penyempitan dapat terjadi karena cedera, peradangan, dan pembentukan jaringan parut.


21 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Haarala M, Kiilholma P, Lehtonen O-P. Urinary Bacterial Flora of Women with Urethral Syndrome and Interstitial Cystitis. Gynecol Obstet Invest 1999;47:42–44. DOI:10.1159/000010060. Karger Publishers. (https://www.karger.com/Article/PDF/10060)
Hamilton-Miller, Jeremy. (1994). The urethral syndrome and its management. The Journal of antimicrobial chemotherapy. 33 Suppl A. 63-73. 10.1093/jac/33.suppl_A.63. (https://www.researchgate.net/publication/15270075_The_urethral_syndrome_and_its_management)
Phillip, Harris & Okewole, Idris & Chilaka, Victor. (2014). Enigma of urethral pain syndrome: Why are there so many ascribed etiologies and therapeutic approaches? International journal of urology: official journal of the Japanese Urological Association. 21. 10.1111/iju.12396. (https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/iju.12396)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app