Penyebab Kembung atau Mual Setelah Minum Susu

Dipublish tanggal: Agu 31, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 31, 2020 Waktu baca: 3 menit
Penyebab Kembung atau Mual Setelah Minum Susu

Reaksi kembung atau mual setelah minum susu sebaiknya tidak dianggap enteng. Gejala tersebut umumnya dialami mereka yang memiliki intoleransi laktosa

Apa itu Intoleransi Laktosa?

Bagi yang belum tahu, laktosa merupakan salah satu jenis gula dalam susu. Ketika masuk dalam tubuh, laktosa dicerna oleh enzim laktase menjadi glukosa dan galaktosa. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Lambung & Saluran Pencernaan via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 4

Sayangnya pada penderita intoleransi laktosa (khususnya jenis primer), kadar enzimnya kurang banyak sehingga laktosanya kemudian tidak tercerna dengan maksimal.

Itulah yang kemudian merangsang bakteri dalam usus besar melakukan fermentasi sehingga laktosanya berubah menjadi asam dan gas. Alhasil, perut jadi terasa kembung dan mual karenanya. 

Lain halnya dengan intoleransi laktosa sekunder yang lebih jarang terjadi. Penyebab kondisi satu ini umumnya karena gastroenteritis atau penyakit celiac. Ketika terjadi radang usus akibat penyakit tersebut, maka itu dapat menurunkan produksi laktase sementara waktu.

Gejala intoleransi laktosa lainnya antara lain:

Penyebab selain Intoleransi Laktosa

Walau demikian intoleransi laktosa bukanlah satu-satunya penyebab. Bisa jadi penyebab kembung atau mual setelah minum susu dikarenakan pencernaan sensitif terhadap protein tertentu dalam susu. 

Dalam susu, kadar protein yang paling banyak adalah beta-kasein. Protein ini terdiri dari A1 (beta-kasein 1) dan A2. Nah protein A1 inilah yang biasanya menyebabkan pencernaan sensitif. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Begitu masuk dalam tubuh, beta-kasein 1 dicerna menjadi senyawa protein beta-casomorphin-7 (BCM-7). 

Nah, karena BCM-7 ini memicu gangguan pencernaan pada penderita alergi susu dan intoleransi laktosa, maka tak heran kalau gejala keduanya kemudian mirip-mirip. 

Inilah yang membuat banyak orang menganggap dirinya mengalami intoleransi laktosa, padahal sebenarnya hanya pencernaan sensitif saja. 

Cara meminimalisir kembung atau mual setelah minum susu

Lantas bagaimana solusi untuk masalah ini? Kan sayang kalau penderita pencernaan sensitif, intoleransi laktosa, atau alergi tidak dapat minum susu. 

Padahal seperti kita ketahui bersama, susu dan produk turunannya sangat kaya nutrisi penting bagi tubuh seperti protein, kalsium, hingga vitamin A, B12, dan D. Semua gizi tersebut tak hanya baik untuk kesehatan tulang, baik sekarang maupun di masa depan. 

Namun, hasil penelitian menyebutkan susu juga mampu menurunkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20
  • Pilih susu sapi A2

Untungnya, kini sudah ada yang namanya susu sapi A2. Susu sapi yang hanya mengandung protein A2 tersebut dijumpai lebih mudah diserap tubuh sehingga tidak memicu gangguan pencernaan. 

Tak hanya aman untuk penderita alergi susu atau intoleransi laktosa, susu sapi A2 juga bisa jadi alternatif bagi mereka yang pencernaannya sensitif terhadap beta-kasein 1 tadi. Meski begitu, Anda sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan mengonsumsinya. 

  • Hindari/ kurangi makan sumber laktosa

Bukan hanya susu saja yang mengandung laktosa, tapi beberapa produk turunannya juga, contohnya susu sapi dan kambing, keju, es krim, yogurt, serta mentega. 

Sedangkan makanan yang dibuat menggunakan bahan susu juga dapat memuat laktosa, misalnya kue, biskuit, coklat, dan lain sebagainya.

Salah satu manfaat penting minum susu adalah karena kandungan kalsiumnya. Lantas bagaimana caranya memenuhi kebutuhan kalsium harian (1000 mg) kalau pencernaan tidak tahan susu? Untuk ini, Anda dapat beralih ke sumber kalsium lainnya seperti:

  • Jus, roti, almond, kedelai, atau produk non-susu lainnya yang sudah difortifikasi dengan kalsium.
  • Tulang ikan, biasanya dari ikan kaleng seperti sarden.
  • Buah ara kering
  • Sayuran seperti kale, brokoli, bok choy 
  • Tempe

Probiotik merupakan mikroorganisme yang menyehatkan pencernaan, sedangkan prebiotik merupakan makanan bagi probiotik. Keduanya terbukti secara ilmiah mampu mengurangi gejala intoleransi laktosa. 

Salah satu jenis probiotik yang menguntungkan penderita intoleransi laktosa adalah Bifidobacteria, sering ditemukan dalam yogurt probiotik atau suplemen.

  • Minum suplemen

Solusi terakhir adalah dengan minum suplemen. Ya, kini juga sudah ada produk suplemen enzim yang dapat membantu proses cerna laktosa. 

Biasanya suplemen tersebut berupa tablet yang bisa ditelan atau campurkan ke makanan maupun minuman. Namun untuk lebih tahu dosis amannya, konsultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum menggunakannya. 

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
All about lactose intolerance. One Medical. (Accessed via: https://www.onemedical.com/blog/eat-well/all-about-lactose-intolerance)
Lactose intolerance. NHS (National Health Service). (Accessed via: https://www.nhs.uk/conditions/lactose-intolerance/)
Nausea after eating: Symptoms, causes, and treatment. Medical News Today. (Accessed via: https://www.medicalnewstoday.com/articles/317628)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app