Kesehatan Anak

Diet gluten dan kasein bagi anak penderita autisme

Dipublish tanggal: Feb 15, 2019 Update terakhir: Agu 4, 2020 Tinjau pada Mar 20, 2019 Waktu baca: 1 menit
Diet gluten dan kasein bagi anak penderita autisme

Banyak cara dilakukan untuk menolong anak penderita autisme, misalnya, terapi fisik, terapi wicara, terapi kemampuan sosial, terapi visual, obat-obatan bahkan ada juga yang menjalankan diet bebas gluten dan kasein (Gluten Free-Casein Free/ GFCF). Diet ini merupakan salah satu alternatif terapi yang sedang populer dilakukan untuk penderita autisme. Diet ini dilakukan dengan cara menghilangkan semua bentuk makanan yang mengandung zat gluten dan kasein bagi penderita.

Gluten adalah protein yang ada pada jenis padi-padian/ gandum sedangkan kasein adalah protein yang ditemukan pada susu dan produk yang berbahan dasar susu seperti mentega, keju, atau yang lain.

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

Menurut teori, penderita autisme mungkin memiliki alergi atau sensitif terhadap makanan yang mengandung gluten atau kasein. Hal ini menyebabkan mereka mencerna gluten dan kasein secara berbeda dibandingkan orang normal. Otak kemudian merespons protein ini seperti zat stimulant opioid . Hal inilah yang kemudian mendasari adanya perubahan perilaku, gangguan mood, dan bahkan memperburuk gejala pada penderita autisme.

Dengan menjalankan diet ini, artinya, penderita autisme dilarang untuk mengkonsumsi makanan seperti roti, makanan yang dibalut dengan tepung, pasta dan bahkan susu. Gluten dan kasein terkandung di dalam banyak sekali makanan. Usahakan membaca setiap label produk untuk mengetahui apakah produk tersebut bebas dari gluten dan kasein.

Agar anak penderita autis tidak kekurangan zat-zat penting bagi pertumbuhannya dibutuhkan suplemen tambahan seperti vitamin D dan kalsium. Perbanyak juga konsumsi sayuran segar, daging, telur dan buah-buahan yang tidak banyak mengandung gula, seperti pisang untuk memenuhi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral. Meskipun diet ini cukup populer,  hingga saat ini masih sedikit penelitian yang membuktikan keefektifannya. Jika ingin menerapkan diet ini pada penderita autisme, berkonsultasilah dulu terhadap dokter spesialis anak anda. Anda juga bisa berkonsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan menu yang tepat tanpa takut anak kekurangan zat-zat penting bagi pertumbuhannya

3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Study: Gluten/casein-free diet doesn’t improve autism symptoms. Autism Speaks. (https://www.autismspeaks.org/science-news/study-glutencasein-free-diet-doesnt-improve-autism-symptoms)
Autism and the Gluten/Casein-Free Diet: When Can We Stop?. Autism Speaks. (https://www.autismspeaks.org/expert-opinion/autism-and-glutencasein-free-diet-when-can-we-stop)
Gluten Free/Casein Free Diets for Autism. WebMD. (https://www.webmd.com/brain/autism/gluten-free-casein-free-diets-for-autism)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app