Alergi Susu - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Feb 11, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Tinjau pada Apr 25, 2019 Waktu baca: 4 menit

Mungkin sebagian dari kamu akan heran ternyata banyak sekali berbagai jenis dan ragam alergi yang ada di dunia ini dan ditemukan di tubuh manusia. Begitu kamu membaca judul artikel ini, tentunya kamu akan langsung mengetahui bahasan apa yang akan kita bahas sekarang ini. 

Ya, alergi susu, sama seperti namanya, alergi ini merupakan respon dan reaksi tubuh yang menolak dan menganggap susu sebagai ‘musuh’ yang harus diserang sehingga tubuh memproteksi dirinya sebegitu rupa dengan mengeluarkan berbagai reaksi dan gejala alergi begitu si penderita meminum susu atau mungkin produk produk olahan yang berasal dari susu seperti kue, keju, cookies dan lainnya. Khusus untuk kamu, kita akan membahas lebih lengkap lagi mengenai alergi susu dan segala serba serbinya.

Apakah Alergi Susu Itu?

Alergi susu merupakan alergi yang muncul sebagai respon dan reaksi tubuh ketika tubuh seseorang menolak dan mengganggap susu sebagai bahan berbahaya yang akan menyerang tubuh sehingga tubuh akan menolaknya dan mengeluarkan tanda tanda seperti bengkak, kulit gatal, rasa sakit nyeri dan sebagainya.

Umumnya alergi susu jarang diidap oleh orang dewasa, kebanyakan para bayi yang sering terserang alergi satu ini. Bayi yang awalnya mengkonsumsi ASI atau Air Susu Ibu, lama kelamaan tentunya akan melalui proses dimana mereka diberhentikan meminum ASI umumnya mulai dari umur 6 bulan, para ibu akan mulai mulai mengurangin konsumsi ASI dengan menambahkan MPASI atau makanan pendamping ASI lalu secara perlahan ibu akan ‘menyapih’ para bayi mereka agar tidak meminum ASI lagi.

Setelah melewati proses ini, para bayi atau anak akan mulai diberikan untuk mengkonsumsi susu formula yang mana susu formula ini ialah susu yang berasal dari susu sapi. Disinilah biasanya banyak muncul kasus para bayi yang ternyata alergi meminum susu sapi. Selain susu sapi, alergi susu juga bisa muncul bila seseorang mengkonsumsi susu kambing dan susu hewan lainnya. 

Penyebab Alergi Susu

Alergi susu juga tidaklah sama dengan intoleransi protein susu dan intolerantsi laktosa dimana dalam kasus intoleransi biasanya tubuh tidak mampu menerima susu sama sekali. Dalam kasus alergi susu, umumnya penderita atau pasien yang mengidap alergi susu sebenarnya bukanlah alergi terhadap susunya melainkan pada jenis protein yang terdapat di dalam susu tersebut. 

Tubuh akan menganggap protein dalam susu sebagai zat berbahaya. Saat tubuh menganggap susu sebagai zat berbahaya, maka ketika si penderita meminum susu, otomatis tubuh akan memproduksi antibodi immunoglobin E untuk menetralkan kandungan protein tersebut sehingga tubuh juga akan secara langsung memproduksi dan melepaskan hormon histamin yang mengakibatkan munculnya berbagai reaksi alergi pada tubuh si penderita.

Dalam kasus alergi susu, umumnya tubuh si anak akan alergi terhadap 2 macam protein susu yaitu protein kasein dan protein whey. Protein kasein banyak ditemukan dalam bagian susu yang padat. Sedangkan protein whey banyak ditemukan di bagian susu yang tetap cair walaupun susu tersebut sudah mengental. Selain pada susu murni dan cair, ternyata 2 macam protein ini juga dapat ditemukan pada berbagai produk olahan susu seperti keju.

Adapun beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan alergi susu adalah:

Gejala Alergi Susu

Gejala yang ditimbulkan dari para penderita alergi susu ketika meminum susu biasanya akan disertai gejala seperti sakit perut, kram perut, diare, hasil buang air besar yang lebih cair atau mencret, sesak napas, ruam kulit, bengkak dan gatal pada area sekitar mulut dan bibir serta adanya kholik pada bayi yang membuat bayi akan sering menangis dan rewel.

Terdapat satu fakta unik mengenai alergi susu yaitu alergi susu ialah alergi yang sangat berbahaya bila dibiarkan karena bisa memicu munculnya reaksi anafilaksis dan menyebabkan kematian pada seseorang. Reaksi anafilaksis ini juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami gangguan pernafasan dan turunya tekanan darah secara tiba tiba.  Gejala anafilaksis yang perlu diwaspadai adalah sesak napas, wajah kemerahan, penurunan tekanan darah, serta reaksi syok. 

Sehingga penting sekali buat para orang tua yang anaknya terlihat menderita alergi susu untuk segera memeriksakan diri si bayi ke dokter anak terdekat.  Bila anakmu juga menderita alergi susu, kamu bisa mencoba untuk mengganti susu sapi anakmu dengan susu kacang yang nutrisinya tentunya tak kalah baik dari susu sapi, tapi sebaiknya tetap mengkonsultasikan keadaanmu ke dokter anak kepercayaanmu untuk mendapatka solusi terbaik. 

Diagnosis Alergi Susu

Sebelum menjalankan pemeriksaan, seseorang yang sedang mengonsumsi obat golongan antihistamin diharapkan untuk menghentikan penggunaan obat tersebut selama 5-7 hari sebelumnya.  Untuk mendiagnosis alergi susu, dokter akan menanyakan riwayat medis serta gejala-gejala yang dialami. 

Serangkaian tes lanjutan akan diperlukan untuk membantu memastikan diagnosis termasuk:

  • Tes darah, untuk memeriksa kadar antibodi imunoglobulin E (IgE) atau kadar antibodi alergen dalam tubuh.
  • Tes kulit, dilakukan dengan meletakkan protein susu di atas kulit pasien dan ditusuk dengan jarum. Jika muncul reaksi tertentu, maka pasien tersebut mungkin mengalami alergi susu. 

Pengobatan Alergi Susu

Alergi susu biasanya akan menghilang seiring pertambahan usia anak. Namun, ada juga yang terus memiliki alergi ini hingga mereka dewasa. Tindakan pengobatan untuk mengatasi alergi susu adalah dengan menghindari produk-produk susu. Cara alternatifnya adalah dengan pemberian ASI, mengganti susu dengan susu kacang kedelai dan susu yang mengandung zat-zat hipoalergenik seperti kasein dan whey. 

Pemberian obat-obatan seperti obat golongan antihistamin juga dapat diberikan untuk mengatasi reaksi alergi. Pada reaksi alergi yang lebih serius, yaitu anafilaksis, penanganan dilakukan dengan memberikan suntikan adrenalin atau yang dikenal dengan epinephrine.


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Gupta, RC. KidsHealth (2015). Milk Allergy. (https://www.rchsd.org/health-articles/milk-allergy/)
BetterHealth (2017). Allergies. Cow’s Milk Allergy. (https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/cows-milk-allergy)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app