Penyebab dan Cara Mengatasi Diare

Dipublish tanggal: Sep 6, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Waktu baca: 2 menit

BAB cair merupakan suatu kondisi saat Anda BAB dan feses yang dikeluarkan berbentuk cairan. Apabila Anda dalam sehari bisa BAB sebanyak 3-4 kali dan feses berbentuk cair, bisa dikatakan bahwa Anda mengalami diare. Maka dari itu, BAB dengan feses berbentuk cair berhubungan dekat dengan diare. 

Gejala apabila Anda mengalami diare antara lain : ingin terus buang air besar, mual, muntah, perut kembung, serta kadang disertai kram. Kebanyakan orang pasti mengalami diare minimal 1-2 kali dalam setahun. Biasanya diare berlangsung antara 2-3 hari dan dapat diobati menggunakan obat yang dijual di apotik secara bebas tanpa resep dokter. 

Namun, apabila kondisi tubuh dan sistem imun Anda sedang menurun, perlu diwaspadai jika diare dapat berlangsung lebih lama hingga lebih dari 1 minggu dan lebih sering. 

Penyebab Diare

Penyebab diare dapat bermacam-macam, antara lain: masalah pencernaan, infeksi virus, penyakit usus besar, usus halus, dan perut, kontaminasi mikroorganisme parasit di makanan atau air, dan konsumsi obat. 

Masalah pencernaan

Diare dapat disebabkan karena adanya masalah di sistem pencernaan atau karena tubuh tidak dapat mencerna salah satu komponen dalam makanan, seperti laktosa

Ketidakmampuan tubuh dalam mencerna laktosa karena kurangnya enzim lactase sering menyebabkan diare atau BAB berbentuk cair. Kondisi ini disebut sebagai intoleransi laktosa (gula pada susu) atau lactose intolerance.

Infeksi virus 

Virus yang dapat menyebabkan diare salah satunya rotavirus. Rotavirus dapat menyebabkan diare khususnya pada anak-anak. 

Penyakit usus besar, usus halus, dan perut

Penyakit yang berkaitan dengan usus halus, usus besar, dan perut juga bisa menyebabkan diare pada penderitanya. Contoh penyakitnya yaitu penyakit Crohn atau irritable bowel syndrome.

Kontaminasi mikroorganisme parasit di makanan atau air

Mikroorganisme seperti Eschericia coli dan Entamoeba sp. dapat mengontaminasi makanan dan air sehingga dapat menyebabkan BAB berbentuk cair. Infeksi bakteri Entamoeba sp. juga dapat menyebabkan penyakit disentri atau amebiasis

Konsumsi obat

Obat-obatan tertentu juga bisa menyebabkan BAB berbentuk cair bila dikonsumsi. Misalnya obat antasida dengan kandungan magnesium sebagai antibiotik atau sebagai obat kanker.

Cara Mengatasi Diare

Walaupun diare terlihat sepele namun tetap saja perlu diobati. Berikut beberapa cara mengobati diare, yaitu minum banyak air putih, menghindari makanan berlemak, pedas, dan berbumbu tajam, serta menghindari olahraga berat supaya Anda tidak dehidrasi

Minum banyak air putih 

Apabila Anda diare, Anda perlu banyak minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang keluar supaya tidak dehidrasi. Selain air putih, Anda juga bisa mengonsumsi minuman eletrolit. Begitu pula pada bayi dan anak-anak, juga perlu banyak dan sering minum air putih untuk mencegah dehidrasi setelah diare. 

Apabila anak Anda BAB berbentuk cair dan disertai dengan demam, mual, serta muntah, sebaiknya anak Anda lebih banyak istirahat dan mengurangi aktivitas supaya cepat pulih. 

Menghindari makanan berlemak, pedas, dan berbumbu tajam. 

Makan makanan yang pedas, berlemak, dan berbumbu tajam dapat memicu terjadinya diare, maka dari itu, Anda harus menghindari konsumsinya 2 hari setelah diare Anda sembuh. Selain itu, Anda juga harus menghindari olahraga berat supaya Anda tidak semakin dehidrasi setelah diare. 

Sebenarnya BAB berbentuk cair merupakan kondisi yang tidak terlalu serius dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, apabila BAB cair disertai dengan darah, lendir, menyebabkan demam penurunan berat badan, serta terjadi lebih dari 3 hari, perlu segera ditangani dan diobati.


14 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Swain, M. R., Anandharaj, M., Ray, R. C., Parveen Rani, R. (2014, May 28). Fermented fruits and vegetables of Asia: A potential source of probiotics. Biotechnology Research International, 2014, 250424.Retrieved from (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4058509/)
Probiotics: In depth. (2016, October) (http://nccam.nih.gov/health/probiotics/introduction.htm)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app