Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
AHMAD MUHLISIN
Pengobatan

Daftar Obat Alergi Gatal Pada Kulit yang Ampuh

Update terakhir: NOV 18, 2019 Tinjau pada NOV 18, 2019 Waktu baca: 8 menit
Telah dibaca 1.262.330 orang

Daftar Obat Alergi Gatal Pada Kulit yang Ampuh

Kebanyakan dari kita menganggap alergi sebagai hal biasa. Tidak aneh memang, mengingat seringnya kita melihat orang-orang sekitar atau bahkan kita sendiri yang tiba-tiba mengalami gatal-gatal sehabis mengonsumsi makanan laut atau karena udara dingin misalnya. Lantas, apa saja obat gatal alergi yang aman dan mujarab meredakan gejalanya? Mari simak daftarnya berikut ini.

Apa itu alergi?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespon zat yang dianggapnya "penyerang". Zat asing yang merangsang sistem imun tubuh tersebut dikenal sebagai alergen.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Ketika tubuh terpapar pemicu alergi, saat itulah tubuh akan bereaksi dengan melepaskan histamin yang dapat menyebabkan reaksi peradangan, seperti kemerahan, gatal-gatal, dan lainnya.

Beberapa obat dapat meredakan gejala alergi, namun biasanya tidak dapat menghilangkan alergi itu sendiri. Apabila pencetusnya atau penyebab dasarnya tidak diketahui, maka tentu akan sulit untuk mengatasi alergi sehingga alergi akan terus kambuh dan berulang. 

Oleh karena itulah, perlu dilakukan tes kulit untuk menentukan alergen mana yang membuat Anda alergi. Jika jenis alergennya telah diketahui, maka Anda tentu dapat menghindarinya dan besar kemungkinan untuk 'sembuh' dari alergi.

Daftar obat alergi yang tersedia di apotek

Ketika terjadi alergi, biasanya dokter akan meresepkan kombinasi obat untuk meredakan gejalanya. Meski demikian, tak jarang gejala juga bisa menghilang hanya dengan obat tunggal.

Jika alergi tergolong ringan, Anda bisa membeli obat alergi yang dijual bebas di apotek. Namun pada kasus alergi berat, jangan coba-coba mengonsumsi obat alergi sendiri.

Sebaiknya segera cari pertolongan medis guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Gejala alergi berat meliputi pusing, sesak napas, hingga pembengkakan pada wajah, bibir, dan kelopak mata.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Berikut ini beberapa jenis obat alergi yang ampuh meringankan gejalanya, antara lain:

1. Antihistamin

Antihistamin digunakan untuk mengobati gejala alergi yang umumnya terbagi dalam dua golongan, yaitu sedatif (penenang) dan non sedatif (non penenang).

Antihistamin sedatif bekerja dengan cara mempengaruhi otak, sehingga dapat memberikan efek kantuk. Efek samping lainnya antara lain menyebabkan pusing, konstipasi, masalah lambungpenglihatan buram, mulut kering, dan sulit buang air kecil. 

Sedangkan antihistamin non sedatif tidak begitu menyebabkan kantuk, meskipun pada beberapa pengguna masih merasa ngantuk setelah minum obat alergi jenis ini. Efek samping lainnya juga dapat menyebabkan mulut kering, dan masalah lambung.

Semua jenis antihistamin di atas memiliki cara kerja yang sama, yaitu dengan memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh untuk mencegah atau mengurangi tanda dan gejala reaksi alergi, seperti pembengkakan, gatal-gatal dan peningkatan sekresi bronkus dan lainnya. Obat jenis ini tersedia dalam bentuk oral, krim, losion, semprotan hidung, dan tetes mata (untuk konjungtivitis akibat alergi).

Baca Juga: Obat Gatal Kulit Paling Ampuh di Apotek

Iklan dari HonestDocs
Beli DEXTAMINE Kaplet via HonestDocs

DEXTAMINE digunakan untuk mengurangi reaksi alergi yang serius dan menekan proses peradangan yang terjadi pada tubuh. Dapatkan GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Dextamine tab 1

Berikut beberapa contoh obat alergi golongan antihistamin:

Obat alergi di apotek yang bisa dibeli tanpa resep dokter

Antihistamin sedatif (ada efek mengantuk):

  • Brompheniramine (Dimetane)
  • Chlorpheniramine (CTM)
  • Diphenhydramine (Benadryl)

Antihistamin non sedatif (tidak bikin ngantuk):

  • Cetirizine (Zyrtec, Zyrtec-D)
  • Clemastine (Tavist)
  • Fexofenadine (Allegra, Allegra D)
  • Loratadine (Claritin, Claritin D, Alavert)

Obat tetes mata alergi:

  • Antazoline/Naphazoline (Vasocon A)
  • Ketotifen fumarat (Zaditor, Alaway, Zyrtec, Claritin Eye dan Refresh Eye)
  • Naphazoline/Pheniramine (Naphcon-A, Opcon-A, Visine A)

Obat alergi yang perlu resep dokter:

Antihistamin oral:

  • Acrivastine (Semprex-D)
  • Carbinoxamine (Palgic)
  • Cyproheptadin (Periactin)
  • Desloratadine (Clarinex)
  • Hydroxyzine (Vistaril)
  • Levoceterizine (Xyzal)

Tetes mata alergi:

  • Azelastine (Optivar)
  • Emadastine (Emadine)
  • Epinastin (Elestat)
  • Olopatadine (Patanol, Pataday, Pazeo)

Semprotan hidung untuk rhinitis alergi:

  • Azelastine (Astelin, Astepro).
  • Azelastin dan flutikason (Dymista).
  • Olopatadine (Patanase).

Obat antihistamin dapat berinteraksi dengan obat lain yang menyebabkan kantuk (obat tidur, obat penghilang kecanduan narkotika, obat penenang, relaksan otot, obat antidepresan, dan kejang), obat dengan aktivitas antikolinergik (amitriptilin dan antidepresan trisiklik lainnya, antipsikotik seperti chlorpromazine), dan obat tertentu untuk mencegah muntah (prochlorperazine dan promethazine).

2. Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan tiruan dari hormon manusia yang normalnya diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kortikosteroid bekerja dengan cara mengurangi peradangan yang menyebabkan alergi.

Obat ini dapat diperoleh dalam dalam bentuk semprotan hidung, krim topikal dan salep, tablet, injeksi, dan tetes mata. Hati-hati, kortikosteroid termasuk obat keras yang dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius. 

Berikut beberapa contoh obat kortikosteroid:

Obat alergi kortikosteroid yang dapat dibeli tanpa resep dokter:

Semprotan hidung:

  • Triamcinolone acetonide (Nasacort)
  • Flutikason propionat (Flonase)
  • Budesonide (Rhinocort)

Obat kortikosteroid yang perlu resep dokter:

Kortikosteroid oral:

  • Prednisone
  • Prednisolon
  • Kortisol
  • Methylprednisolone

Semprotan hidung:

  • Beclometason dipropionat (QNasl)
  • Budesonide (Rhinocort)
  • Ciclesonide (Omnaris, Zetonna)
  • Flunisolide
  • Fluticasone furoate (Veramyst)
  • Flutikason propionat (Flonase)

Obat kortikosteroid dalam bentuk semprotan hidung memiliki beberapa efek samping seperti iritasi hidung, mimisan, iritasi tenggorokan, sakit kepala, mual, muntah, batuk, dan infeksi jamur di tenggorokan jika digunakan dalam jangka panjang. Dalam bentuk oles (topikal), kortikosteroid dapat menyebabkan kulit menipis, panas seperti terbakar, gatal, kemerahan, hingga perubahan pada warna kulit.

Obat ini dapat berinteraksi dengan obat lain yang memengaruhi metabolisme kortikosteroid, seperti ketoconazole (Nizoral, Xolegel, Extina, Ketoconazole Cream) dan ritonavir (Kaletra kapsul, Kaletra Tablet, Norvir).

3. Penstabil sel mast

Obat alergi penstabil sel mast merupakan obat jangka panjang yang bekerja dengan cara mencegah masuknya kalsium ke dalam sel mast. Selama reaksi alergi, sel mast melepaskan histamin dan zat lainnya, sehingga dengan mengonsumsi obat alergi ini secara teratur dapat membantu mencegah reaksi yang ditimbulkan alergi.

Obat penstabil sel mast memiliki efek samping yang dapat menyebabkan sensasi menyengat atau nyeri sesaat di dalam hidung.

Berikut beberapa contoh obat penstabil sel mast:

Obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter:

  • Tetes mata: Cromolyn (Opticrom)
  • Semprotan hidung: Natrium Cromolyn (Nasalcrom)

Harus dengan resep dokter:

Inhaler: Sodium Cromolyn (Intal)

Tetes mata:

  • Lodoxamine (Alomide)
  • Nedocromil (Alocril)
  • Pemirolast (Alamast)

4. Penghambat leukotrien

Zat lain yang dilepaskan selama reaksi alergi adalah leukotrien, yaitu zat yang dapat memperburuk kondisi alergi dan asma. Beberapa obat alergi jenis ini bekerja dengan cara menargetkan reseptor leukotrien untuk mengurangi gejala alergi.

Contoh obat penghambat leukotrien adalah Montelukast (Singulair), yang bisa didapatkan dengan resep dokter.

Obat alergi jenis penghambat leukotrien memiliki beberapa efek samping, yaitu rasa lemas atau lelah yang tak biasa, masalah lambung, sakit telinga, pusing, batuk, sakit kepala, hingga susah tidur.

Obat ini dapat berinteraksi dengan obat lain yang merangsang metabolisme hati, seperti fenitoin (Dilantin), fenobarbital, dan karbamazepin (Tegretol), serta antibiotik Rifampisin.

5. Antikolinergik

Seseorang yang mengalami rhinitis alergi biasanya memiliki gejala hidung berair atau berlendir. Dengan menggunakan semprotan hidung antikolinergik, cairan atau lendir di hidung akan berkurang meskipun tidak sepenuhnya mengatasi hidung yang tersumbat.

Contoh obat antikolinergik yaitu Ipratropium Bromida (Atrovent), bisa didapatkan dengan resep dokter.

Antikolinergik dalam bentuk semprotan memiliki beberapa efek samping yang dapat menyebabkan hidung berdarah, hidung tersumbat, mulut kering dan iritasi tenggorokan, rasa tidak enak di mulut, pusing, dan mual.

6. Dekongestan

Untuk Anda yang ingin mengatasi hidung yang tersumbat akibat alergi dapat menggunakan obat ini. Dekongestan bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah, yang membatasi jumlah sekresi yang berasal dari lapisan dalam hidung sehingga masalah hidung yang tersumbat dapat teratasi. Namun sayangnya obat ini tidak dapat meringankan gejala alergi lainnya seperti gatal-gatal dan bersin.

Obat alergi dekongestan tersedia dalam bentuk semprotan, pil, dan tetes hidung. Contoh obat dekongestan yang dapat dibeli bebas tanpa resep dokter yaitu Oxymetazoline (Afrin).

Dekongestan dalam bentuk semprotan atau tetes hidung dapat memiliki efek samping seperti luka bakar, sensasi sengatan, hidung kering, hidung meler, dan bersin. Sedangkan dekongestan oral dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, gugup, detak jantung meningkat, tekanan darah meningkat, kehilangan nafsu makan, dan gangguan tidur.

Dekongestan oral dapat berinteraksi dengan antidepresan, obat alergi lainnya, hingga obat-obatan yang digunakan untuk mengobati migrain dan tekanan darah tinggi.

7. Immunomodulator

Immunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh, baik secara spesifik maupun non spesifik. Obat alergi jenis ini dapat digunakan untuk mengobati alergi kulit. Sering juga digunakan jika obat lain tidak bekerja dengan efektif atau tidak dapat ditolerir oleh tubuh.

Berikut beberapa contoh obat imunomodulator:

Harus dengan resep dokter:

Imunomodulator topikal:

  • Tacrolimus (Salep Protopic)
  • Pimecrolimus (Krim Elidel)

Imunomodulator topikal untuk alergi kulit dapat menyebabkan rasa sakit, terbakar, iritasi, dan gatal di area yang dioleskan. Terkadang juga menyebabkan gejala sakit kepala dan flu.

Obat ini juga dapat berinteraksi dengan beberapa antibiotik, antijamur, penghambat saluran kalsium, dan simetidin (Tagamet).

8. Suntik epinefrin

Epinefrin merupakan senyawa kimia yang diproduksi oleh tubuh secara alami ketika mengalami stres. Injeksi (suntikan) epinefrin membantu tubuh untuk meredakan reaksi alergi yang serius dengan cara menyempitkan pembuluh darah dan melebarkan saluran pernapasan.

Obat alergi ini digunakan dalam kondisi darurat untuk mengobati reaksi alergi yang sangat serius atau mengancam jiwa, biasa disebut sebagai anafilaksis.  Ketika terjadi reaksi alergi yang serius, epinefrin akan bertindak cepat untuk meningkatkan pernapasan dan tekanan darah, meredakan gatal-gatal, merangsang jantung, serta mengurangi pembengkakan di wajah, bibir, dan tenggorokan.

Tips sebelum menggunakan obat alergi

Ada beberapa tips bermanfaat yang dapat menjadi pertimbangan Anda dalam menggunakan obat alergi, seperti:

1. Pilihlah obat alergi yang mampu mengurangi gejala tanpa mengganggu tugas sehari-hari

Contohnya antihistamin non sedatif. Penting juga untuk menemukan obat alergi yang bisa digunakan dengan aman untuk jangka panjang, karena pada beberapa orang alergi dapat berlangsung lama (bahkan mungkin setahun).

2. Gunakan suntik alergi atau imunoterapi

Hal ini dilakukan jika beberapa obat alergi diatas masih belum dapat mengatasi gejala alergi Anda. Imunoterapi bekerja dengan cara melatih sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan reaksi berlebihan terhadap alergen tertentu.

Pada dasarnya pengobatan ini menghadirkan substansi alergen pada sistem imun dalam jumlah kecil namun secara terus-menerus supaya dapat beradaptasi.

3. Obat alergi tidak disarankan untuk digunakan pada anak < 2 tahun tanpa anjuran dokter

Gejala alergi ringan pada anak dapat diatasi tanpa obat-obatan, seperti semprotan larutan garam untuk mengatasi hidung yang tersumbat. Jika alergi dalam bentuk ruam, penggunaan krim emolien dirasa cukup membantu.

Sementara untuk gejala alergi yang lebih parah (ruam yang meluas, bengek, hingga mata berair) orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter anak.

Alergi memiliki beberapa gejala yang mudah dikenali, seperti gatal pada bagian tubuh, timbulnya ruam merah pada kulit, gangguan pencernaan, gangguan pernapasan dan lainnya. Alergi juga memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan di kemudian hari, seperti timbulnya asma dan penyakit lainnya.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk mengetahui obat alergi dan pencegahan sedini mungkin untuk mengendalikannya. Kenali dengan benar apa itu alergi, penyebab, gejala, serta risikonya, dan segera konsultasikan ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.

Referensi

Mayo Clinic. (2017). Allergy Medications: Know Your Options.

Medical News Today. (2018). Common Types of Allergy Medicine.

WebMD. (2017). Allergy Medications.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Pencarian yang sering mengarah ke halaman ini