Mencegah Penyakit Menular Seksual Pada LGBT

Dipublish tanggal: Feb 23, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jul 10, 2019 Waktu baca: 3 menit
Mencegah Penyakit Menular Seksual Pada LGBT

LGBT atau singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender ini merupakan suatu istilah dalam kehidupan pergaulan orang Indonesia. Sesuai singkatan yang disebutkan, ini merupakan perilaku seks yang dilakukan sesama jenis baik itu sesama laki- laki atau wanita. 

Di beberapa negara, LGBT banyak sekali ditemukan dan menjadi sesuatu yang menjadi mimik pergaulan yang biasa terjadi. Namun hal ini dipandang sensitif bagi orang Indonesia.

Iklan dari HonestDocs
Paket Vaksin Hepatitis B Di NK Health Klinik

Cegah Penyakit Hepatitis B dengan Vaksin. Paket ini termasuk 3x suntik vaksin Hepatitis B, biaya registrasi, konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan tanda-tanda vital.

LGBT sudah dikenal sejak lama, dimana terdapat perkumpulan atau orang-orang yang di mata awam merupakan hal yang tidak biasa karena banyak berdampak terbalik baik dari segi agama, kesehatan, dan pergaulan bebas.

Dalam hal kesehatan, tentu para kaum LGBT lebih mudah mendapatkan resiko lebih tinggi terkait penyakit menular seksual. Penyakit ini sangat memprihatinkan bagi pergaulan masa kini yang dianggap di luar batas. 

Namun ada beberapa cara yang mungkin bisa menurunkan hingga mencegah resiko terjadinya penyakit menular seksual pada LGBT.

Jenis Penyakit Menular Seksual

Berikut beberapa resiko penyakit menular seksual yang dapat menjangkit para kaum LGBT.

  • HIV
    Penyakit HIV merupakan satu dari banyak penyakit menular seksual. Penyakit ini paling berbahaya karena dari gejala dan tahap penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Kaum LGBT merupakan kelompok yang paling rentan terkena penyakit tersebut terlebih pada mereka yang suka berganti pasangan.
  • Sifilis
    Penyakit sifilis merupakan penyakit kulit yang mudah sekali menular. Penyakit ini juga sering disebut raja singa. Sifilis paling sering menyerang pria dan memiliki tahapan gejala yang dapat muncul secara langsung dimana timbul gejala emam, sakit kepala, nafsu makan menurun, hingga timbul benjolan dengan bercak kemerahan mulai dari alat kelamin hingga seluruh bagian tubuh.
  • Gonorea
    Gonorea merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri  Neisseria gonorrheae. Penyakit ini sangat mudah menular dari kontak seksual. Penderita gonorea dapat merasakan sensasi terbakar dan nyeri di sekitar kemaluan dengan mengeluarkan cairan keputihan.

Mencegah Penyakit Menular Seksual pada LGBT

Perbaikan dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan agar tidak terjangkit penyakit akibat infeksi menular seksual terutama pada kaum LGBT. 

Memang sulit bagi para kelompok LGBT untuk menyadari kehidupan seksual yang sebenarnya sulit diterima bagi masyarakat, faktor kesehatan dalam diri kaum LGBT menjadi bencana yang tanpa disadari dapat merugikan pasangan dan orang lain.

  • Kondom
    Kondom merupakan alat kontrasepsi yang digunakan untuk mencegah sel sperma masuk ke dalam sel telur. Kondom sekaligus dapat menghalang penularan infeksi yang beresiko menilmbulkan penyakit menular seksual.
  • Vaksin
    Vaksin dalam mencegah suatu penyakit dapat membantu meningkatkan sistem imun. Vaksin tidak hanya diberikan pada masa anak-anak, ada beberapa jenis vaksin yang diberikan pada orang dewasa seperti vaksin HPV (Human Papilomavirus) atau vaksin hepatitis B. Hepatitis B juga menjadi suatu penyakit yang dapat timbul akibat kontak seksual melalui cairan tubuh dari penderita penyakit menular.
  • Jangan berganti pasangan
    Tidak hanya sebagai pasangan kaum LGBT. Pasangan lawan jenis pun perlu berhati-hati apabila selalu berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda. Ini dapat meningkatkan resiko penularan lebih besar karena kondisi kesehatan pasangan yang tidak diketahui.
  • Hindari narkoba
    Kaum LGBT selalu dikaitkan dengan kehidupan dengan penggunaan obat terlarang atau minum-minuman keras. Meskipun tidak semua dari mereka merupakan seorang pecandu, tetapi citra buruk pada kehidupan kaum LGBT menjadi pembicaraan yang suit dicegah. Pemakaian obat terlarang seperti narokoba baik hisap, jenis suntikan, dan pil perlu dihindari. Terlebih pada penggunaan narkoba jenis suntik dengan pemakaian jarum suntik yang bergantian. Ini akan menularkan infeksi yang tedapat dari darah penderita penyakit menular seksual seperti resiko terkena HIV, hepatitis, dan infeksi virus lainnya.
  • Melakukan pemeriksaan berkala
    Pemeriksaan kesehatan sangat penting, tidak hanya untuk mencegah perkembangan infeksi menular seksual, pemeriksaan kesehatan dapat membantu kita untuk mendeteksi adanya penyakit yang bisa saja muncul tanpa diketahui atau berkembang dalam waktu yang lama. 

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Sexual health for lesbian and bisexual women. NHS (National Health Service). (Accessed via: https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/sexual-health-for-lesbian-and-bisexual-women/)
Marrazzo, J. M., & Cates, W. (2011). Interventions to prevent sexually transmitted infections, including HIV infection. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America, 53 Suppl 3(Suppl 3), S64–S78. https://doi.org/10.1093/cid/cir695. National Center for Biotechnology Information. (Accessed via: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3213401/)
Wood, S. M., Salas-Humara, C., & Dowshen, N. L. (2016). Human Immunodeficiency Virus, Other Sexually Transmitted Infections, and Sexual and Reproductive Health in Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender Youth. Pediatric clinics of North America, 63(6), 1027–1055. https://doi.org/10.1016/j.pcl.2016.07.006. National Center for Biotechnology Information. (Accessed via: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5543709/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app