Hufadine 150mg: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 24, 2020 Tinjau pada Agu 26, 2019 Waktu baca: 5 menit

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Hufadine 150 mg adalah obat untuk mengobati penyakit akibat kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung.
  • Obat ini mengandung ranitidine yang bekerja dengan cara menghambat produksi asam lambung. Hanya bisa didapatkan dengan resep dokter.
  • Dosis Hufadine untuk tukak lambung dan usus 12 jari adalah 2 x sehari 150 mg, diminum pada pagi dan malam hari. Bisa juga 300 mg sebelum tidur.
  • Dosis Hufadine untuk GERD atau hipersekresi lambung adalah 2 x sehari 150 mg. Pada kasus parah dapat diberikan hingga 6 gram/hari.
  • Konsultasikan lebih lanjut sebelum menggunakan Hufadine untuk ibu hamil dan menyusui.
  • Klik untuk mendapatkan Hufadine atau obat lambung & saluran pencernaan lainnya ke rumah Anda di HDmall. *Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD.

Hufadine 150 mg adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung. Hufadine 150 mg mengandung obat ranitidine 150 mg. Ranitidine adalah obat golongan antagonis reseptor histamin H2 (histamin H2-receptor antagonist).

Ranitidine bekerja dengan cara menghambat secara kompetitif kerja reseptor histamin H2, yang sangat berperan dalam sekresi asam lambung. Penghambatan kerja reseptor H2 menyebabkan produksi asam lambung menurun baik dalam kondisi istirahat maupun adanya rangsangan oleh makanan, histamin, pentagastrin, kafein dan insulin. Tidak seperti cimetidine, ranitidine tidak memiliki efek pada sistem enzim sitokrom P450.

Mengenai Hufadine 150 mg

Pabrik

Gratia

Golongan

Harus dengan resep dokter

Kemasan

Hufadine 150 mg dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut:

  • Dos 10 x 10 caplet 150 mg

Kandungan

Tiap kemasan obat Hufadine 150 mg mengandung zat aktif sebagai berikut:

Manfaat Hufadine 150 mg 

Kegunaan Hufadine 150 mg adalah untuk kondisi-kondisi berikut:

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD): suatu penyakit yang disebabkan oleh iritasi oleh asam lambung. Penderita biasanya mengalami sensasi terbakar pada area dada dan kerongkongan. (baca juga Penyakit-penyakit yang dipicu naiknya asam lambung).
  • Mengobati tukak lambung dan tukak usus duabelas jari.
  • Menangani erosif esophagitis, meskipun dibandingkan obat-obat golongan penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazole atau lansoprazole, efektivitasnya lebih rendah.
  • Zollinger Ellison syndrome: penyakit langka akibat adanya tumor di pankreas atau karena usus duabelas jari melepaskan hormon yang menyebabkan kelebihan sekresi asam lambung. Saat ini, obat-obat penghambat pompa proton (PPI) lebih dipilih untuk tujuan ini.
  • Sebagai obat maag kronis/akut. Obat-obat antagonis H2 seperti Hufadine 150 mg lebih banyak dipilih dibandingkan antasida, karena durasi kerjanya lebih lama dan efektivitasnya lebih tinggi.
  • Mencegah tukak lambung yang disebabkan oleh pemakaian obat-obat NSAID.
  • Mengurangi risiko aspirasi pneumonitis pada pasien sebelum menjalani operasi bedah. Untuk tujuan ini, Hufadine 150 mg lebih efektif dibandingkan obat-obat golongan penghambat pompa proton.
  • Pengobatan dispepsia pada pasien berusia muda dengan antagonis reseptor-H2 dapat diterima, namun perhatian khusus harus dilakukan jika obat diberikan kepada pasien dewasa atau usia lanjut karena obat-obat golongan antagonis reseptor-H2 dapat menutupi gejala kanker lambung.

Kontraindikasi

  • Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi obat ranitidine atau obat golongan antagonis reseptor H2 lainnya.
  • Jangan menggunakan Hufadine 150 mg untuk penderita dengan riwayat porfiria akut.

Efek samping Hufadine 150 mg

Secara umum obat ini bisa ditoleransi dengan baik. Berikut adalah beberapa efek samping Hufadine 150 mg yang mungkin terjadi:

  • Efek samping yang umum terjadi misalnya diare dan gangguan saluran cerna lainnya, konstipasi, nyeri otot, pusing, merasa letih, dan timbul ruam pada kulit.
  • Efek samping obat golongan antagonis reseptor H2 pada saluran kardiovaskular misalnya takikardia, bradikardia, hipotensi, perpanjangan interval QT, telah dilaporkan terjadi. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penggunaan secara intravena. Sedangkan penggunaan secara oral maupun infus lebih jarang terjadi.
  • Efek samping hematologi seperti diskrasia darah termasuk agranulositosis, leukopenia, pansitopenia, trombositopenia kadang terjadi pada pemakaian obat ini. Jika pasien mengalami demam, menggigil, sakit tenggorokan, mudah memar, dan gejala lain dari diskrasia darah, pemakaian obat ini harus dihentikan.
  • Efek samping Hufadine 150 mg pada organ hati secara umum jarang, namun tetap harus diwaspadai. Jika ciri-ciri toksisitas hati terjadi seperti demam, ruam, eosinofilia, dan ciri-ciri hipersensitivitas lainnya terjadi, obat ini harus dihentikan pemakaiannya.
  • Pasien yang pernah mengalami toksisitas hati akibat pemakaian antagonis reseptro H2 lain, harus hati-hati menggunakan obat ini.
  • Reaksi hipersensitivitas akibat pemakaian obat ini sangat jarang, namun jika terjadi bisa menyebabkan syok anafilaksis yang berakibat fatal.
  • Dilaporkan juga kasus ginekomastia dan impotensi, namun jarang terjadi.

Dosis Hufadine 150 mg

Hufadine 150 mg diberikan dengan dosis sebagai berikut:

  • Tukak lambung dan usus duabelas jari (duodenum): 2 x sehari 150 mg pada pagi dan malam hari atau 300 mg sebelum tidur. Pencegahan kambuhan: 150 mg sebelum tidur.
  • Hipersekresi lambung: 2 x sehari 150 mg. Pada kasus parah dapat diberikan hingga 6 gram/hari.
  • Gangguan fungsi ginjal dengan klirens creatinin < 50 ml / menit: 150 mg setiap 24 jam. Frekuensi dapat ditingkatkan setiap 12 jam atau lebih sering.

Dalam pemilihan obat, manfaat yang diperoleh harus dipastikan lebih besar daripada risiko yang mungkin dialami pasien. Oleh karena itu, penggunaan obat Hufadine 150 mg harus sesuai dengan yang dianjurkan.

Interaksi Hufadine 150 mg

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain, sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, obat tidak dapat bekerja dengan maksimal atau bahkan menimbulkan racun yang membahayakan tubuh.

Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang sedang Anda konsumsi dan beri tahukan pada dokter. Jenis obat yang dapat berinteraksi dengan Ranitidine adalah:

  • Obat-obat yang bioavailabilitasnya baik dalam kondisi asam seperti ketoconazoleitraconazole, atazanavir, dan ester ampicillin, penyerapannya akan menurun sehingga mengurangi efektivitasnya.
  • Obat-obat yang labil dalam kondisi asam seperti erythromycin dan digoxin penyerapannya akan meningkat jika digunakan bersama Ranitidine.
  • Antagonis histamin H2 seperti Ranitidine menurunkan absorpsi sefpodoksim.
  • Ranitidine memberi efek antagonis terhadap efek tolazolin.
  • Bioavailabilitas ranitidin akan menurun jika digunakan bersama dengan antasida.
  • Ranitidin dapat menghambat metabolisme antikoagulan coumarin, teofilin, diazepam, dan propanolol di dalam organ hati.

Perhatian

Hal-hal yang perlu diperhatikan pasien jika menggunakan obat Hufadine 150 mg adalah sebagai berikut:

  • Hentikan pemakaian Hufadine 150 mg jika terjadi reaksi alergi, seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya, karena bisa berakibat yang lebih fatal.
  • Penyesuaian dosis Hufadine 150 mg perlu dilakukan pada pasien dengan klirens kreatinin < 50 mL/menit. Pemantauan fungsi ginjal secara berkala sangat dianjurkan.
  • Hati-hati memberikan Hufadine 150 mg untuk pasien dengan disfungsi hati karena Hufadine 150 mg dimetabolisme di hati.
  • Hufadine 150 mg bisa menyebabkan pusing. Jangan mengemudi atau menyalakan mesin selama menggunakan obat ini.
  • Ranitidine ikut keluar bersama air susu ibu (ASI), dengan konsentrasi puncak terlihat 5,5 jam setelah pemberian. Perhatian harus dilakukan ketika Hufadine 150 mg diresepkan untuk wanita menyusui. Beri jarak yang cukup antara penggunaan obat dan menyusui.
  • Efektivitas dan keamanan penggunaan pada anak-anak belum diketahui.

Penggunaan Hufadine 150 mg untuk ibu hamil

FDA di Amerika Serikat (setara BPOM di Indonesia) menggolongkan Ranitidine ke dalam kategori B dengan penjelasan sebagai berikut :

Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.

Karena penelitian klinis pada manusia belum dilakukan, sebaiknya penggunaan Ranitidine oleh ibu hamil hanya jika dibutuhkan sebagaimana pertimbangan dokter.

Artikel terkait:


21 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Zantac - ranitidine hydrochloride tablet, film coated. (2016). (http://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/drugInfo.cfm?setid=08010bf7-1f61-48b3-e1b5-7cecb72ba863)
Ranitidine - ranitidine hydrochloride capsule and ranitidine hydrochloride tablet, film coated. (2014). (http://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/drugInfo.cfm?setid=b0af5ca1-9189-4c62-bdf1-f1124ec337e7)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app