Displasia Bronkopulmonalis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Apr 24, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 278.814 orang

Ketika bayi prematur yang dilahirkan dengan paru-paru yang belum berkembang dengan baik, maka biasanya bayi tersebut sering membutuhkan perawatan tambahan dari mesin ventilator dan terapi oksigen konsentrasi tinggi. 

Sayangnya, dalam beberapa kasus, mesin ventilator ini dapat merusak saluran pernapasan bayi yang masih sensitif. Kerusakan ini dapat menyebabkan atau memperburuk sindrom gangguan pernapasan

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Displasia bronkopulmonalis adalah kondisi yang terjadi jika gejala sindrom gangguan pernapasan berlanjut selama lebih dari satu bulan setelah kelahiran.

Bayi dengan displasia bronkopulmonalis biasanya mengalami peradangan dan jaringan parut di paru-paruny. Sebagian besar bayi tumbuh dengan displasia bronkopulmonalis, meskipun mereka mungkin memiliki beberapa gejala yang berkelanjutan. 

Dalam kasus yang jarang terjadi, displasia bronkopulmonalis bisa berakibat fatal.

Penyebab dan faktor risiko Displasia Bronkopulmonalis

Displasia bronkopulmonalis paling sering terjadi karena sindrom gangguan pernapasan. Sindrom gangguan pernapasan umumnya merupakan akibat dari masalah spesifik pada pengembangan paru-paru. Paru-paru pada beberapa bayi prematur umumnya belum bisa membuat surfaktan yang cukup. 

Surfaktan adalah cairan yang melapisi bagian dalam paru-paru dan membantu paru-paru agar tetap terbuka. Bayi-bayi prematur membutuhkan surfaktan pengganti dan mungkin juga perlu menggunakan ventilator.

Mesin ventilator memberikan oksigen dengan tingkat tekanan saturasi yang tinggi. Jika pemberian ventilator tersebut merusak paru-paru bayi dan bayi masih membutuhkan bantuan pernapasan setelah beberapa minggu, maka bayi tersebut dapat didiagnosis dengan displasia bronkopulmonalis.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Faktor resiko

Risiko tinggi terjadinya displasia bronkopulmonalis biasanya pada bayi prematur dengan berat lahir rendah (kurang dari 4,5 pon). Bayi prematur dengan berat lahir rendah tidak memiliki paru-paru yang berkembang sepenuhnya saat mereka lahir. Bayi cukup bulan dengan masalah paru-paru atau infeksi juga memiliki resiko mengalami displasia bronkopulmonalis yang lebih tinggi.

Tanda dan gejala Displasia Bronkopulmonalis

Gejala yang paling sering dari displasia bronkopulmonalis yaitu bayi yang mengalami kesulitan bernapas dan memiliki upaya yang keras untuk bernapas. Tanda dan gejala yang lain dari displasia bronkopulmonalis pada bayi adalah:

  • Warna kulit kebiruan
  • Bernafas terlalu cepat
  • Batuk atau mengi
  • Sulit makan atau sering muntah

Cara mencegah Displasia Bronkopulmonalis

Karena kebanyakan kasus displasia bronkopulmonalis disebabkan oleh penggunaan mesin ventilator, maka masih sulit untuk mencari cara pencegahan dari kondisi tersebut.

Cara mengobati Displasia Bronkopulmonalis

Diagnosa

Dokter biasanya mendiagnosis displasia bronkopulmonalis jika gejala sindrom gangguan pernapasan bertahan lebih lama dari biasanya. Dokter akan menggunakan rontgen dada dan observasi terperinci untuk mendiagnosis displasia bronkopulmonalis pada bayi yang baru lahir. 

Rontgen dada dapat memperlihatkan kondisi paru-paru bayi yang terlihat kenyal. Dokter juga dapat mengambil sampel darah dari bayi untuk menguji tingkat gas darah arteri (jumlah oksigen dalam darah bayi).

Pengobatan

Bayi dengan displasia bronkopulmonalis biasanya akan diletakkan di dalam inkubator di unit perawatan intensif untuk membantu mencegah terjadinya infeksi sampai bayi tersebut cukup kuat untuk bernapas sendiri. 

Baik dengan menggunakan ventilator atau mesin nasal positive airway pressure yang dapat menyediakan asupan oksigen.

Dalam beberapa kasus, seorang dokter perlahan-lahan akan menghentikan penggunaan ventilator pada bayi. Dokter juga dapat menggunakan perangkat ventilasi alternatif bertekanan rendah yang dapat mengurangi risiko kerusakan paru-paru.

Beberapa jenis obat juga dapat mengobati displasia bronkopulmonalis seperti:

  • Obat Bronkodilator, seperti albuterol, dapat membantu menjaga saluran pernapasan bayi agar tetap terbuka.
  • Obat Diuretik, seperti furosemide, dapat mengurangi penumpukan cairan di paru-paru
  • Obat Antibiotik dapat membantu mencegah infeksi. Bayi dengan displasia bronkopulmonalis rentan terhadap infeksi paru-paru, seperti pneumonia.

Obat Steroid juga dapat mengurangi peradangan. Namun, hanya boleh digunakan dalam dosis rendah dan dalam waktu singkat. Obat tersebut dapat memiliki efek samping yang serius dan dapat mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak. 

Jika anak membutuhkan kalori ekstra karena usaha kerasnya untuk bernapas,  pemberian formula tinggi kalori mungkin juga diperlukan. Anak akan menerima nutrisi melalui infus jika mereka tidak dapat mencerna makanan secara normal.

Sebagian besar pengobatan displasia bronkopulmonalis akan di rawat di rumah sakit. Bayi dengan displasia bronkopulmonalis mungkin perlu tinggal di unit perawatan intensif neonatal (NICU) sampai tidak ada lagi masalah dengan pernapasannya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit