Bendamustine : Manfaat, Efek Samping, dan Dosis

Update terakhir: Feb 18, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 525.300 orang

Bendamustine merupakan salah satu jenis obat yang sering dipakai pada kemoterapi. Bendamustine menjadi golongan obat anti kanker atau antineoplastik yang digunakan untuk terapi leukemia kronik limfositik. Obat ini diberikan secara injeksi dan dosis pemberiannya sangatlah ketat karena disesuaikan dengan tinggi badan, berat badan, dan beratnya kondisi kanker.

Apa itu Bendamustine?

Bendamustine merupakan agen alkylating. Agen alkylating sendiri bekerja sebagai kemoterapi. Sistem farmakologinya bekerja menuju pada pusat DNA serta RNA dengan cara merusaknya sehingga mencegah pembelahan sel kanker yang memicu pada penyebaran sel ke organ lainnya. 

Pemberian bendamustine juga dapat mencegah kerusakan sel yaitu nekrosis dan apoptosis.. Agen alkylating ini banyak bekerja mengobati penyakit kanker seputar darah, paru-paru, kanker sel telur, dan kanker payudara.

Bendamustine pada terapi kanker

Bendamustine terpilih menjadi obat kemoterapi yang dikombinasikan dengan obat kemoterapi lain seperti rituximab. Pemberian bendamustine sangat efektif dalam terapi penyakit leukemia kronik limfositik atau CLL dan Limfoma non- hodgkin

Leukemia limfositik Kronik

Leukemia limfositik kronis merupakan jenis kanker yang terjadi pada sel darah putih dimana terjadi pembesaran sel limfosit. Penyakit ini tergolong ganas dengan meningkatkan jumlah sel limfosit di kelenjar getah bening. 

Pembesaran sel dapat menyebar ke limpa dan hati dan perlahan mengalami pembesaran. Sel darah merah akan mati dan memicu terjadinya anemia diikuti dengan penurunan sel darah putih.

Sel darah putih sebagai sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel normal yang berujung pada peradangan di daerah sendi, pembuluh darah, serta kelenjae tiroid. Dari hasil laboratorium telah terbukti bahwa sel B leukemia menjadi yang paling sering ditemukan. 

Hingga saat ini penyebab dari CLL belum diketahui. Gejala yang ditimbulkan antara lain nafsu makan menurun, cepat lelah, sesak napas, pembesaran limpa dan hati, serta penurunan berat badan.

Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma non-hodgkin merupakan jenis kanker yang menyebar melalui kelenjar getah bening dan dapat menyerang seluruh tubuh. Penyebab dari limfoma non-hodgkin ini adalah kelainan pada DNA pada sel limfosit. Limfosit semakin cepat membelar diri dan berkembang sehingga menjadi penumpukan di kelenjar getah bening. Ini menimbulkan pembesaran kelenjar atau limfadenopati.

Limfoma non-hodgkin banyak menyerang orang pada usia 60 tahun ke atas atu disertai dengan kelemahan sistem kekebalan tubuh seperti pada penderita HIV. Adanya kelainan autoimun pada kesehatan seseorang juga memicu mudahnya menyebabkan limfoma. 

Gejala yang ditimbulkan pada limfoma non-hodgkin antara lain berkeringat di malam hari, anemia, sesak napas, ruam kulit yang terasa gatal, nyeri dada, dan gangguan sistem pencernaan.

Efek samping Bendamustine

 Obat kemoterapi kanker memamg tergolong sebagai jenis obat yang memiliki banyak efek samping. Efek samping ringan yang dapat terjadi selama pemberian bendamustine antara lain:

  • Batuk kering
  • Mual muntah
  • Diare
  • Ruam pada kulit
  • Demam
  • Rasa lelah
  • Kesulian menelan
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Sariawan

Pemberian bendamustine juga berdampak pada penuruanan nilai neutrofil dan trombosit mencapai 20%.

Perhatian khusus selama penggunaan Bendamustine

Bendamusitne sama sekali tidak boleh diberikan bersamaan dengan obat-obatan lainnya termasuk juga vitamin, suplemen, dan obat-obatan herbal. Obat bendamustine tidak dianjurkan pemberian pada ibu hamil dan menyusui karena bedampak pada gagal janin.

Bendamustine tidak boleh diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal dan kelainan organ hati. Obat bendamustine yang dikonsumsi bersamaan dengan obat antibiotik seperti ciprofloxacin menimbulkan penurunkan kinerja obat dan metabolisme obat di dalam tubuh.

Sediaan obat Bendamustine

Bendamustine tersedia dalm bentuk suntikan berupa vial dengan dosis 100 mg/m2 pada terapi kanker limfositik kronis. Obat ini diberikan secara intravena selam 30 menit. Pemberiannya bersamaan dengan obat lain seperti antihistamin atao kortikosteroid dengan indikasi pada adanya reaksi terhadap suntikan juga dapat diberikan. Pemberian obat allupurinol diberikan untuk mencegah lisis tumor.

Obat ini diberikan ada hari pertama dan kedua dan 1 bulan dan diberikan selama 6 siklus atau lebih. Pada limfoma non-hodgkin, obat bendamustine berikan dengan dosis 120mg/m2 intravena selama lebih dari 8 siklus. 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit