Kenali Anemia Defisensi Besi dari Penyebab,Gejala,dan Pengobatannya

Update terakhir: Mar 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 662.033 orang

Badan cepat lelah dan kurang berenergi, mungkin Anemia

Pernahkah Anda merasa badan cepat lelah, letih, lesu dan kurang bergairah? Jika hal ini sering Anda alami dalam kehidupan sehari-hari, mungkin saja Anda sedang mengalami anemia. Anemia terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat. Sel darah merah mempunyai fungsi membawa oksigen ke dalam jaringan tubuh dan pada kondisi anemia sel darah merah tersebut tidak dapat berfungsi membawa oksigen ke jaringan tubuh dengan baik.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kasus anemia cukup tinggi. Anak-anak, ibu hamil dan wanita yang berada pada masa subur memiliki risiko tertinggi menderita anemia. Terdapat banyak jenis dari anemia, namun pada artikel ini kami akan lebih fokus membahas tentang anemia defisiensi besi. Selamat membaca.

Apa sih Anemia Defisensi Besi itu?

Anemia terjadi ketika kamu memiliki tingkat sel darah merah dalam darahmu yang lebih rendah dari kondisi normal. Anemia defisiensi besi merupakan kondisi dimana seseorang tidak memiliki zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya atau pengurangan sel darah karena kurangnya zat besi.

Anemia jenis ini  umum terjadi pada orang di segala usia, termasuk anak-anak, dengan penderita wanita lebih banyak dibanding pria. Meskipun anemia jenis ini tergolong umum, namun banyak orang yang tidak mengetahui bahwa mereka menderita anemia kekurangan zat besi.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya Anemia Defisensi Besi?                       

Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti, rendahnya asupan besi, gangguan absorbsi besi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun:

Kehilangan zat besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari beberapa hal sebagai berikut:

  • Saluran cerna: akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker lambung, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
  • Saluran genitalia (perempuan): keluarnya darah menstruasi secara berlebihan atau dalam jumlah yang terlampau banyak (menorrhagia)
  • Saluran kemih: keluarnya darah dari saluran kemih (hematuria)
  • Saluran nafas: keluarnya darah dari saluran nafas atau biasa disebut batuk darah  (hemoptisis)

Faktor nutrisi, yaitu akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan (asupan yang kurang) atau kualitas zat besi yang rendah.

Kebutuhan besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan, dan kehamilan.

Gangguan absorbsi besi, seperti pada gastrektomi dan kolitis kronik, atau dikonsumsi bersama kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan kopi), polyphenol (coklat, teh, dan kopi), dan kalsium (susu dan produk susu).

Apa saja tanda dan gejala-gejala dari Anemia Defisiensi Besi?

Ada banyak gejala dari anemia, namun setiap individu tidak akan mengalami seluruh gejala dan apabila anemianya sangat ringan, bahakan gejalanya mungkin tidak tampak. Beberapa gejalanya antara lain; warna kulit yang pucat, mudah lelah, peka terhadap cahaya, pusing, lemah, nafas pendek, lidah kotor, selera makan menurun, sakit kepala, pusing, kaki dan tangan terasa dingin, sensasi kesemutan pada kaki, system imun tubuh menurun dan lain-lain.

Satu gejala aneh yang cukup karakteristik untuk defisiensi zat besi adalah Pica, dimana pasien memiliki keinginan makan yang tidak dapat dikendalikan terhadap bahan seperti tepung (amilofagia), es (pagofagia), dan tanah liat (geofagia). Beberapa dari bahan ini, misalnya tanah liatdan tepung, mengikat zat besi pada saluran makanan, sehingga memperburuk defisiensi.

Apas aja faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya Anemi Defesiensi Besi?

Berikut beberapa faktor yang memiliki risiko mengalami anemia defisiensi zat besi, yaitu: 

  • Wanita menstruasi
  • Wanita menyusui/hamil karena peningkatan kebutuhan zat besi
  • Bayi, anak-anak dan remaja yang merupakan masa pertumbuhan yang cepat
  • Orang yang kurang makan makanan yang mengandung zat besi, jarang makan daging dan telur selama bertahun-tahun.
  • Menderita penyakit maag.
  • Penggunaan aspirin jangka panjang
  • Colon cancer
  • Vegetarian karena tidak makan daging, akan tetapi dapat digantikan dengan brokoli dan bayam

Bagaimana cara mengobati Anemia Defesiensi Besi?

Pengobatan anemia defisiensi besi tergantung separah apa anemianya. Biasanya orang-orang memerlukan zat besi tambahan dari obat atau cairan. Mengonsumsi suplemen penambah zat besi dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh. Defisiensi zat besi berespons sangat baik terhadap pemberian obat oral seperti garam besi (misalnya sulfas ferosus) atau sediaan polisakarida zat besi (misalnya polimaltosa ferosus).

Selain dengan mengkonsumsi suplemen penambah zat besi, asupan zat besi melalui konsumsi makanan juga perlu ditingkatkan, hal ini demi menjaga cadangan dan tingkat zat besi yang normal. Makanan-makanan tersebut seperti, hati ayam dan hati sapi, kacang-kacangan, misalnya kacang hitam, kacang hijau, dan kacang merah, daging merah tanpa lemak, bayam, brokoli dan lain-lain. Agar dapat memaksimalkan penyerapan zat besi, asupan vitamin C juga diperlukan.

Jika terdapat gejala-gejala yang telah disebutkan seperti diatas, penting untuk Anda mengkonsultasikan keadaan tersebut ke dokter untuk menegakkan diagnosis serta mempermudah dokter untuk memberikan terapi pengobatan. Jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi akan zat besi agar kebutuhan zat besi dalam tubuh Anda terpenuhi. Semoga bermanfaat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit