Waspadai Gejala Kolik Pada Bayi Berikut

Dipublish tanggal: Agu 31, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 31, 2020 Waktu baca: 3 menit
Waspadai Gejala Kolik Pada Bayi Berikut

Kolik pada bayi merupakan istilah yang dipakai ketika si kecil terus-menangis tanpa henti, bahkan hingga berjam-jam lamanya. 

Kolik pada bayi ini biasanya muncul beberapa minggu usai ia dilahirkan, dan dapat berhenti setelah si kecil mencapai umur 4 bulan. Umumnya tangisan bayi yang tak kunjung reda tersebut terjadi saat petang pada setiap harinya. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Lambung & Saluran Pencernaan via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 4

Gejala Kolik Pada Bayi

Bayi yang mengalami kolik bisa menangis terus hingga 3 jam lebih lamanya selama lebih dari 3 minggu. Saat menangis, bayi yang mengalami kolik umumnya menunjukkan gejala seperti:

  • Kedua tangan tampak mengepal
  • Lutut ditarik mendekati perut
  • Wajah merah
  • Punggung melengkung

Walau normal dan tidak berbahaya, bayi yang mengalami gejala kolik di bawah ini sebaiknya segera dibawa ke dokter:

  • Tubuh terkulai sewaktu digendong
  • Tangisannya terdengar melengking (nada tinggi) dan terus-menerus
  • Disertai muntah cairan hijau
  • Urin yang dikeluarkannya tak sebanyak biasanya
  • Ada lendir atau darah dalam tinjanya
  • Diare terus-menerus
  • Nafsu makannya menurun
  • Kejang 
  • Ada bagian kulit yang tampak pucat atau membiru
  • Ubun-ubun terlihat menonjol
  • Pernapasannya tampak terganggu
  • Disertai demam 38° C atau lebih kalau usianya di bawah 3 bulan, dan 39° C untuk yang di atas itu

Penyebab Kolik Pada Bayi

Sayangnya, penyebab kolik pada bayi masih merupakan misteri. Beberapa pihak berpendapat kolik pada bayi disebabkan gangguan pencernaan, apakah itu lapar, kenyang, kembung, hingga reaksi sensitif usus terhadap protein tertentu. 

Kemungkinan penyebab kolik lainnya adalah karena bayi terlahir prematur sehingga sistem sarafnya belum benar-benar berkembang maksimal. 

Cara mengatasi Kolik Pada Bayi

Seiring bertambahnya usia, kolik pada bayi dapat membaik dan berhenti dengan sendirinya tanpa perawatan khusus. Meski begitu, tak ada salahnya mencoba beberapa saran berikut:

1.Berhenti memberikan susu sapi

Intoleransi protein susu sapi atau produk susu lainnya mungkin membuat pencernaan bayi kurang nyaman sehingga ia menangis terus. 

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Dalam hal ini, tak ada salahnya mencoba alternatif susu lain. Coba cari yang disertai label hypoallergenic karena kadar proteinnya biasanya sedikit saja. 

Yang perlu diperhatikan untuk bayi dengan usia di bawah 6 bulan adalah hindari memberikan susu formula kedelai. Susu tersebut mengandung hormon yang dapat berdampak pada perkembangan seksual maupun fisiknya. 

Kalau gejala kolik tetap sama meski sudah mencoba susu alternatif, maka kembalilah ke susu sapi. Mungkin intoleransi protein bukan penyebab koliknya.

2.Sang ibu coba berhenti minum susu

Bagi Anda yang menyusui, bisa juga mencoba berhenti minum susu sementara waktu. Siapa tahu kondisi si kecil membaik setelahnya.

Siapa tahu letak permasalahannya justru ada pada produk susu yang diminum ibu. Nah, supaya asupan kalsium tetap terjaga, tetaplah minum suplemen. 

3.Memberikan obat

Simethicone misalnya, dapat ditambahkan ke dalam susu atau ASI yang hendak diminum bayi. Obat tetes ini dapat membantu mengurangi gas dalam pencernaan bayi. Gunakan sesuai petunjuk kemasan atau saran dari dokter. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Lambung & Saluran Pencernaan via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 4

Tips menenangkan Bayi yang sedang Kolik

Walau menangis lama pada bayi baru lahir tergolong wajar, tak berarti Anda harus diam saja. Upaya menenangkan si kecil tetap diperlukan, misalnya dengan cara:

  • Memijat lembut perutnya
  • Menggendong sewaktu ia menangis (gunakan selimut atau kain supaya lebih nyaman)
  • Memandikannya dengan air hangat agar lebih rileks
  • Cobalah berikan dot
  • Bersenandung atau mengucapkan “ssshh...ssshh..”
  • Letakkan si kecil di ranjang
  • Pastikan suasana kamarnya tak hanya tenang, namun juga sejuk dan remang-remang
  • Letakkan dalam bouncer atau kursi goyang untuk bayi
  • Ajak jalan-jalan
  • Hindari mengguncang tubuhnya karena bisa berbahaya

Sedangkan untuk cara lain seperti pemberian air gula atau obat herbal, akupuntur, hingga chiropractic sebaiknya tidak sembarangan dilakukan karena bisa berbahaya bagi si kecil. Apalagi, keampuhan beberapa metode tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Tips mencegah Kolik pada Bayi

Untungnya ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk mencegah terjadinya kolik pada bayi, yaitu:

  • Ganti botol susunya sehingga ukuran lubangnya lebih besar. Dengan begitu, tak banyak udara yang masuk dalam pencernaan. 
  • Untuk ibu menyusui, kurangi asupan teh, kopi, serta makanan pedas
  • Tepuk punggungnya lembut untuk membantunya bersendawa. Pastikan Anda melakukannya dengan tepat (bayi disandarkan pada salah satu pundak sehingga kepala dan lehernya tersanggah dengan baik, lalu usap dan tepuk lembut punggungnya). Normal kok kalau ia sedikit gumoh ketika bersendawa.

Tips terakhir untuk orang tuanya adalah jangan stres. Jagalah hati supaya tak sampai emosi ketika menghadapi kolik pada bayi. 

Jika perlu, bergantianlah dengan suami, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya saat proses menenangkan si kecil.

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Colic (for Parents) - Nemours KidsHealth (https://kidshealth.org/en/parents/colic.html)
Colic: Causes, symptoms, and treatments. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/162806)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app