Penyakit yang Dapat Terdeteksi Lewat Bau Mulut

Dipublish tanggal: Agu 6, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Penyakit yang Dapat Terdeteksi Lewat Bau Mulut

Tahukah Anda bahwa kondisi kesehatan gigi yang buruk merupakan salah satu faktor penyebab utama dari mayoritas kasus halitosis atau bau mulut yang tidak sedap. 

Namun, selain itu ternyata bau mulut juga bisa menjadi pertanda mengenai suatu kondisi medis lain. Dalam jurnal Gut April 2015, sebuah studi mengungkapkan mengenai teknologi uji nafas terbaru mampu mendeteksi adanya penyakit kanker lambung tahap awal.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Akan tetapi, kanker lambung bukanlah satu-satunya yang bisa mengakibatkan nafas menjadi bau.

Kondisi medis yang mengakibatkan bau mulut

1. Penyakit gusi

Studi tahun 2012 menunjukkan kaitan langsung periodontitis serta gingivitis/radang gusi terhadap bau mulut. Halitosis merupakan akibat dari bakteri dalam mulut penderita.

2. Kanker

Kanker bisa menyebabkan nafas mempunyai banyak komplikasi. Nah, bau mulut merupakan pertanda tahap awal dari kanker. Cleveland Clinic sudah menguji alat pendeteksi kanker paru dari 80% pasien, hanya dari uji nafas mereka.

Hal ini disebabkan karena kemoterapi dan terapi radiasi bisa menjadikan mulut kering dan mempengaruhi produksi air liur. Jika air liur kurang, bakteri mampu meningkatkan lepasnya gas sulfur yang menyebabkan bau nafas.

3. Alergi

Alergi dapat menyebabkan tenggorokan gatal, hidung tersumbat juga mata berair, bahkan bau mulut. Bakteri jahat yang menyebabkan bau mulut dapat ada karena lendir serta ingus. 

Selain itu, mulut kering saat alergi juga mengakibatkan bau mulut. Memang belum ada solusi terbaik untuk ini, tetapi dengan menghilangkan ingus serta menjaga kebersihan mulut akan membantu meringankan Anda dari alergi dan bau mulut.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

4. Diabetes

Ketika diabetes, produksi insulin akan berkurang. Dimana nantinya tubuh akan terarahkan untuk membakar lemak (ketoasidosis) yang kemudian akan memicu terjadinya peningkatan keton, yaitu produk dari metabolisme lemak. 

Kemudian tubuh Anda akan mengeluarkannya melalui urin serta paru-paru. Hal inilah yang mengakibatkan nafas bau seperti aseton/dimetil keton.

5. Penyakit liver

Ilmuwan menyebut bau mulut yang terjadi pada penderita penyakit liver sebagai fetor hepaticus. 

Fakta ilmiah mengungkapkan bahwa bau mulut dapat mendeteksi adanya masalah hati, bahkan gejala ini bisa muncul sebelum gejala yang lainnya.

6. Gagal ginjal

Gagal ginjal juga dapat diindikasikan dengan bau mulut. Ini terjadi karena perubahan metabolisme kemudian mulut menjadi kering, air liur berkurang, serta indra pengecap menurun. 

Hal tersebut masih merupakan spekulasi para peneliti. Dimana kondisi tadi mempengaruhi halitosis dan air liur tidak mampu membersihkan mulut.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

7. Candida albicans

Jamur Candida albicans terbukti menjadi masalah yang sudah biasa, terutama bagi mereka menindik lidah. Selain itu juga terindikasi pada mereka yang memakai gigi palsu/behel gigi.

8. Refluks asam lambung kronis

Ulasan dari beberapa studi tentang penderita GERD (Gastroesophogeal Reflux Disease) menunjukkan, halitosis kerap mengganggu penderita GERD. 

Asam yang meningkat serta bahan lain yang beberapa sudah dicerna ke esofagus dan rongga mulut bisa menyebabkan bau mulut dan kesulitan menjaga kebersihan mulut.

9. Helicobacter pylor

Tahukah Anda bahwa kondisi kesehatan gigi yang buruk merupakan salah satu faktor penyebab utama dari mayoritas kasus halitosis atau bau mulut yang tidak sedap. 

Infeksi Helicobacter pylori pada umumnya berhubungan dengan penyakit maag dan gangguan saluran pencernaan lainnya, yang juga memungkinkan terjadinya halitosis atau bau mulut pada si penderita. 

Sebuah studi penelitian mengungkapkan fakta bahwa seseorang yang mengalami gangguan pencernaan juga mengalami halitosis serta infeksi Helicobacter pylori. 

Akan tetapi, jika si penderita bisa segera menangani infeksi tersebut, halitosis juga akan teratasi.

10. Sindrom Sjögren

Kondisi mulut yang kering bisa jadi disebabkan oleh adanya gangguan autoimun, yaitu kondisi dimana tubuh Anda menyerang diri sendiri.

Nah, kondisi medis ini juga biasa dikenal dengan sebutan sindrom Sjögren, sindrom ini berlangsung saat tubuh Anda berupaya menyerang dan menghambat kelenjar eksokrin, sebuah kelenjar yang seperti kelenjar air liur, dari bekerja menjalankan fungsinya. 

Hal seperti ini mampu mengakibatkan mulut Anda menjadi  kering serta masalah lain yang juga berkaitan.

Dengan demikian, sudah seharusnya Anda benar-benar menjaga kebersihan dan juga kesehatan mulut Anda supaya terhindar dari bau mulut atau bau nafas. 

Pastikan Anda rutin untuk berkunjung ke dokter gigi guna membersihkan dan mengontrol kondisi kesehatan gigi Anda. 

Selain itu, rajinlah menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan pasta gigi ber-fluoride yang berfungsi untuk melenyapkan sisa makanan serta plak. Ingat juga untuk membersihkan dan menyikat lidah Anda.

13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Bollen CML, et al. Halitosis: The multidisciplinary approach. International Journal of Oral Science. 2012;4:55.
Tongue scrapers only slightly reduce bad breath. Academy of General Dentistry. http://www.knowyourteeth.com/infobites/abc/article/?abc=t&iid=306&aid=3192.
Diagnosing and treating bad breath. Dental Abstracts. 2014;59:203.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app