Waspada, Ini 5 Penyakit yang Sering Muncul Pasca Gunung Meletus

Dipublish tanggal: Jul 23, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 4 menit
Waspada, Ini 5 Penyakit yang Sering Muncul Pasca Gunung Meletus

Kejadian Gunung Bromo meletus pada Jumat (19/7) silam membuat panik para wisatawan dan masyarakat sekitar. Meski tinggi kolom abunya tak jelas terlihat, petugas berwenang meminta masyarakat sekitar untuk memakai masker dan kacamata guna melindungi diri. Hati-hati, asap dan debu vulkanik dapat memicu berbagai penyakit akibat letusan gunung berapi.

Daftar penyakit akibat letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi, termasuk Gunung Bromo, sering kali mengeluarkan gas beracun. Gas vulkanik ini terdiri dari sejumlah senyawa seperti karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), asam hidroklorida (HCl), asam fluorida (HF), asam sulfat (H2SO4), dan partikel lainnya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Mata via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 12

Gas-gas tersebut umumnya tidak berwarna atau berbau. Namun apabila terhirup, gas beracun dari gunung berapi dapat mengganggu kesehatan. Bahkan dampak fatalnya, hal ini dapat menyebabkan kematian jika tidak cepat-cepat ditangani.

Berikut 5 penyakit akibat letusan gunung berapi yang paling sering terjadi, di antaranya:

1. Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)

Infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA adalah salah satu penyakit akibat letusan gunung berapi yang paling umum. Kondisi ini terjadi ketika debu vulkanik dan gas beracun masuk ke dalam tubuh dan mengiritasi saluran napas bagian atas. Mulai dari hidung dan nasal, sinus paranasal, faring, hingga bagian laring di atas pita suara.

Dalam jangka pendek, partikel abu vulkanik dapat menyebabkan batuk kering, bersin, hidung meler, hingga sakit tenggorokan. Lama-kelamaan, partikel tersebut akan terus menumpuk dan memicu asma.

Baca Selengkapknya: Obat Sesak Napas Alami dan Kimiawi Anjuran Dokter

2. Infeksi saluran pernapasan bawah

Saking kecilnya ukuran partikel, debu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan bawah dan memicu peradangan. Saluran pernapasan bagian bawah itu sendiri terdiri meliputi bagian laring di bawah pita suara, trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru-paru.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Mata via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 12

Karena sudah masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan, bahaya asap dan abu vulkanik juga akan semakin besar bagi kesehatan. Salah satunya, seseorang berpotensi mengalami pneumonia dan bronkitis akibat terus-terusan menghirup debu vulkanik pasca gunung meletus.

Pada penderita asma, debu halus dari letusan gunung berapi dapat merangsang saluran udara untuk menghasilkan lebih banyak cairan. Hal ini dapat menyebabkan penderita batuk-batuk, napas berat, dan memperparah gejala asmanya.

Semakin lama dibiarkan, partikel berbahaya dari gunung berapi juga dapat memicu silikosis. Silikosis adalah timbulnya jaringan parut dan kerusakan paru-paru akibat paparan partikel kristal silika. Kristal tersebut tersedia dalam beberapa bentuk seperti kuarsa, kristobalit, dan tridimit yang semuanya berpotensi ada di dalam abu vulkanik

3. Iritasi mata

Gas beracun yang keluar dari gunung berapi dapat terkumpul di udara dan membentuk hujan asam. Meskipun bentuknya air yang notabene mampu melembapkan kulit, zat asam dari air hujan justru dapat menyebabkan iritasi mata.

Kondisi ini dapat diperparah jika mata Anda terkena debu vulkanik yang bertebaran secara langsung. Hati-hati, paparan abunya bisa membuat mata jadi perih, kemerahan, melukai kornea hingga memicu abrasi kornea.

Hindari menggunakan lensa kontak pada saat terjadi erupsi gunung berapi. Pemakaian lensa kontak alias softlens dapat memperparah iritasi mata.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Mata via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 12

Baca Juga: Obat Tetes Mata yang Cocok untuk Anda

4. Iritasi kulit

Abu vulkanik juga dapat memicu iritasi kulit pada sebagian orang, terlebih jika abu tersebut mengandung zat asam. Gejala iritasi kulti akibat paparan abu vulkanik meliputi kulit gatal, kemerahan, dan iritasi.

Sebisa mungkin hindari menggaruk kulit gatal akibat paparan debu vulkanik. Alih-alih meredakan gatal, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan bekas luka dan memperparah gatal.

5. Gangguan pencernaan

Selain dapat terhirup langsung oleh manusia,  abu vulkanik juga dapat mencemari tanah dan sumber air di sekitar gunung meletus. Konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi partikel gunung berapi dapat meningkatkan reaksi toksik dan memicu gangguan pencernaan.

Cara mencegah efek buruk gunung meletus bagi kesehatan

Anda tentu tidak ingin diri Anda maupun keluarga terkena salah satu penyakit akibat gunung meletus. Nah mulai sekarang, Anda bisa melakukan upaya pencegahan sedini mungkin supaya tubuh tetap fit dan tidak jatuh sakit.

Agar terhindar dari efek buruk gunung meletus bagi tubuh, lakukan hal-hal berikut ini:

  • Sebisa mungkin, hindari ke luar rumah sampai situasi kondusif dan dinyatakan aman oleh petugas berwenang.
  • Jika ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan Anda ke luar rumah, gunakan masker, kacamata, baju lengan panjang, celana panjang, dan topi untuk melindungi tubuh dari paparan abu vulkanik.
  • Tutup jendela dan ventilasi rapat-rapat sebelum Anda membersihkan atap dan bagian luar rumah.
  • Tutup sumber air agar tidak terkontaminasi debu vulkanik.
  • Cuci bersih semua bahan makanan, mulai dari sayur, buah, daging, dan sebagainya.

Jika Anda maupun keluarga mulai merasakan salah satu penyakit akibat letusan gunung berapi, segera periksakan diri ke dokter terdekat. Terlebih bagi anak-anak dan lansia yang tubuhnya lebih rentan terkena penyakit.

Pastikan untuk selalu mengikuti aturan minum obat dari dokter supaya Anda dan keluarga cepat sembuh. Seimbangkan juga dengan memperbanyak minum air putih dan menjaga pola hidup sehat supaya tubuh tetap fit pasca letusan gunung berapi.

Baca Selengkpanya: Panduan Keselamatan dan Evakuasi Jika Terjadi Gunung Meletus

2 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Key Facts About Volcanic Eruptions. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (https://www.cdc.gov/disasters/volcanoes/facts.html)
The health hazards of volcanoes and geothermal areas. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2078062/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app