Obat Batuk Mukolitik Sebagai Obat Pengencer Dahak

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Jul 5, 2021 Waktu baca: 4 menit
Obat Batuk Mukolitik Sebagai Obat Pengencer Dahak

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Mukolitik adalah salah satu jenis obat batuk yang biasa digunakan untuk mengatasi batuk berdahak penyebab sakit tenggorokan
  • Obat batuk mukolitik bekerja sebagai obat pengencer dahak yang membuat dahak lebih encer sehingga mudah dikeluarkan
  • Ada beberapa jenis obat batuk mukolitik yang tersedia, di antaranya ambroxol, acetylcysteine, bromhexine, dan mecysteine
  • Obat batuk mukolitik umumnya tersedia dalam bentuk tablet, larutan cair, dan inhalasi yang bisa dibeli bebas ataupun dengan resep dokter
  • Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan obat batuk mukolitik terutama di trimester pertama kehamilan 
  • Klik untuk mendapatkan obat batuk dan flu yang bisa dikirim ke rumah Anda melalui HDmall. *Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD

Mukolitik (mucolytic) adalah salah satu jenis obat batuk yang digunakan sebagai obat pengencer dahak yang kental agar mudah dikeluarkan. Obat batuk mukolitik ini bekerja dengan cara melepas ikatan gugus sulfidril pada mucoprotein dan mukopolisakarida sehingga menurunkan viskositas mucus. 

Ketika obat pengencer dahak bekerja, tekstur dahak sudah tidak bersifat kental dan akan lebih mudah dikeluarkan dari tenggorokan sehingga membuat saluran pernapasan menjadi lebih lancar dan bebas dari dahak yang menghambat. Obat mukolitik juga bisa membantu mengurangi eksaserbasi pada sejumlah kondisi tertentu, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan batuk produktif kronis.

Jenis obat batuk mukolitik

Beberapa merk obat yang berfungsi sebagai agen mukolitik

Obat batuk mukolitik biasanya tersedia dalam bentuk tablet atau larutan cair (liquid solution). Obat pengecer dahak ini biasanya digunakan secara oral melalui mulut atau untuk inhalasi. Berikut ini beberapa obat batuk golongan mukolitik:

Manfaat obat batuk mukolitik

Manfaat obat batuk mukolitik, di antaranya:

  • Sebagai sekretolitik pada gangguan saluran napas akut dan kronis seperti: emfisema, radang paru kronis, bronkiektasis, eksaserbasi bronkitis kronis dan akut, bronkitis asmatik, asma bronkial yang disertai kesukaran pengeluaran dahak, serta penyakit radang rinofaringeal
  • Untuk pengobatan kondisi hipersekresi mukus yang kental dan tebal pada saluran pernapasan
  • Sebagai mukolitik untuk meredakan batuk berdahak (obat pengencer dahak)
  • Sebagai pembasah pada afeksi saluran nafas akut dan kronis
  • Sediaan Inhalasi uap dengan drainase postural efektif pada bronkiektasis dan beberapa kasus bronkritis kronik
  • Obat batuk mukolitik juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit tenggorokan

Kontraindikasi

  • Jangan menggunakan obat batuk mukolitik untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap obat-obat yang termasuk agen mukolitik
  • Erdosteine tidak boleh diberikan pada penderita sirosis hati dan kekurangan enzim crystathionine sintetase, fenilketonuria (hanya pada granul), pasien gagal ginjal (dengan klirens keratin < 25 ml / menit).
  • Carbocysteine tidak boleh diberikan untuk pasien penderita ulkus peptik aktif. Obat lainnya harus diberikan dengan hati-hati karena semua agen mukolitik dapat merusak sawar mukosa lambung.

Dosis obat batuk mukolitik

Berikut ini beberapa panduan penggunaan atau dosis obat batuk mukolitik, antara lain:

Ambroxol

  • Kapsul lepas lambat :

Dewasa, 1 x sehari 75 mg, sesudah makan

  • Tablet :

Dewasa dan anak usia ≥ 12 tahun, 1 tablet 30 mg 2-3 x sehari

Anak usia 6-12 tahun : ½ tablet 2-3 x sehari

  • Drops 15 mg / ml (1 ml = 20 tetes) :

Anak usia ≤ 2 tahun, 0.5 ml (10 tetes) 2 x sehari. Dapat dicampur dengan sari buah, susu atau air

  • Sirup 15 mg / 5 ml (1 sendok takar = 5 ml) :

Anak usia 6-12 tahun : 2-3 x sehari 1 sendok takar

Anak usia 2-6 tahun : 3 x sehari ½ sendok takar

Anak usia ≤ 2 tahun : 2 x sehari ½ sendok takar

Acetylcysteine

  • Nebulasi 1 ampul 1-2 x sehari. Obat diberikan selama 5-10 hari

Bromhexin

  • Sirup 4 mg/5 mL (1 sendok takar=5 ml) :

Dewasa dan anak-anak usia > 10 tahun : 3 x sehari 2 sendok takar

Anak usia 5-10 tahun : 3 x sehari 1 sendok takar

Anak usia 2-5 tahun : 2 x sehari 1 sendok takar

  • Tablet 8 mg :

Dewasa dan anak usia > 10 tahun : 1 tablet 3 x sehari

Anak usia 5-10 tahun : ½ tablet 3 x sehari

Anak usia  2-5 tahun : ½ tablet 2 x sehari

Carbocysteine

  • Dewasa, dosis awal 750 mg 3 x sehari, selanjutnya 1.5 g/hari dalam dosis terbagi
  • Anak usia 2-5 tahun, 62.5-125 mg 4 x sehari
  • Anak usia 6-12 tahun, 250 mg 3 x sehari

Erdosteine

  • Dewasa : 150-350 mg 2-3 x sehari
  • Anak dengan berat badan antara 15-19 kg : 175 mg 2 x sehari
  • Anak dengan berat badan antara 20-30 kg : 175 mg 3 x sehari
  • Anak dengan berat badan > 30 kg : 350 mg 2 x sehari

Mecysteine

  • Dewasa, 200 mg 4 x sehari selama 2 hari, selanjutnya 200 mg 3 x sehari selama 6 minggu, selanjutnya 200 mg 2 x sehari
  • Anak usia > 5 tahun, 100 mg 3 x sehari

Efek samping obat batuk mukolitik

Berikut adalah beberapa efek samping obat batuk mukolitik yang umum terjadi:

  • Obat batuk mukolitik mempunyai efek samping pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare, rasa penuh di perut, dan nyeri pada ulu hati
  • Efek samping yang lebih serius tetapi jarang terjadi misalnya reaksi alergi seperti kulit kemerahan, bengkak pada wajah, dispnea, sesak nafas dan demam
  • Efek samping obat batuk mukolitik acetylcysteine dapat terjadi pada penggunaan sistemik seperti reaksi hipersensitif seperti urtikaria dan bronkospasme (jarang terjadi)
  • Efek samping pada penggunaan aerosol inhalasi seperti iritasi nasofaringeal dan saluran cerna seperti pilek (rinore), stomatitis, mual, muntah
  • Bromheksin pernah dilaporkan menyebabkan efek samping berupa sakit kepala, vertigo, keringat berlebih, ruam kulit, serta kenaikan enzim transaminase
  • Khusus untuk obat batuk mukolitik erdosteine sampai saat ini belum ditemukan adanya efek pada saluran pencernaan dan efek sistemik. Namun, karena umumnya obat golongan mukolitik dapat merusak sawar mukosa lambung maka penggunaannya pada penderita ulkus peptik akut harus hati-hati
  • Efek samping obat batuk mukolitik mecysteine bisa menimbulkan rasa sensasi terbakar pada jantung

Interaksi obat

Berikut adalah interaksi obat-obat agen mukolitik dengan obat-obat lain :

Ambroxol :

  • Jika diberikan bersamaan dengan antibiotik seperti amoxicillin, cefuroxim, erythromycin, dan doxycycline, konsentrasi antiobiotik-antibiotik tersebut di dalam jaringan paru meningkat.
  • Obat ini juga sering dikombinasikan dengan obat-obat standar untuk pengobatan bronkitis seperti glikosida jantung, kortikosteroid dan bronkospasmolitik.

Bromhexin :

  • Pemberian bersamaan bromhexin dengan antibiotik seperti amoxicillin, cefuroxim, erythromycin, dan doxycycline akan meningkatkan konsentrasi antibiotik-antibiotik tersebut.

Perhatian

Hal-hal yang harus diperhatikan pasien saat menggunakan obat batuk mukolitik, antara lain:

  • Obat batuk mukolitik sebaiknya tidak digunakan oleh ibu hamil terutama pada trimester pertama kehamilan
  • Keamanan pemakaian obat batuk mukolitik untuk ibu menyusui belum diketahui dengan jelas. Oleh karena itu, pemberian obat-obat ini untuk ibu menyusui sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter
  • Obat batuk mukolitik sebaiknya dikonsumsi setelah makan atau bersama makanan karena diketahui bisa merusak sawar mukosa lambung
  • Ambroxol tidak boleh digunakan untuk jangka waktu yang lama tanpa resep dokter. Jika digunakan oleh pasien penderita insufisiensi ginjal, maka akumulasi dari metabolit ambroxol dapat terbentuk di hati (liver)
  • Acetylcysteine sebaiknya tidak digunakan oleh pasien yang mengalami kesulitan mengeluarkan sekret atau penderita asma bronkial, sebaiknya pilih obat batuk mukolitik lainnya
  • Erdostein memiliki bentuk formulasi granul sehingga harus digunakan secara hati-hati untuk penderita diabetes mellitus, sebaiknya dipilih obat batuk mukolitik lainnya
  • Obat batuk mukolitik harus dihentikan penggunaannya jika tidak memberikan manfaat atau perbaikan kondisi setelah 4 minggu pemakaian

23 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app