Kenali Bahaya Penyebaran Infeksi Tuberkulosis Pada Kelenjar Getah Bening (Lymphadenitis Tuberculosis)

Dipublish tanggal: Jun 1, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Waktu baca: 3 menit
Kenali Bahaya Penyebaran Infeksi Tuberkulosis Pada Kelenjar Getah Bening (Lymphadenitis Tuberculosis)

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang biasanya menyerang paru-paru. Dibandingkan dengan penyakit lain yang disebabkan oleh agen infeksi tunggal, TBC adalah pembunuh terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2015, 1,8 juta orang meninggal karena penyakit ini.

Selain menyerang paru-paru, bakteri penyebab Tuberculosis dapat menyerang organ lain seperti tulang, usus, otak, kulit, dan organ manapun di seluruh tubuh (tuberculosis extra paru). 

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Bakteri tuberkulosis dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui tiga cara, yaitu melalui aliran darah, menyerang organ sekitar paru-paru dan melalui aliran getah bening.

Saat bakteri menyebar melalui aliran getah bening, bakteri juga dapat menyebabkan peradangan pada getah bening itu sendiri dan menyebabkan suatu kondisi yang disebut lymphadenitis tuberculosis.

Apa Itu Lymphadenitis Tuberculosis?

Lymphadenitis Tuberculosis juga dikenal dengan sebutan Scrofula. Biasanya kelenjar getah bening yang terinfeksi adalah kelenjar getah bening yang berada di sekitar leher. Dokter juga menyebut scrofula "lymphadenitis tuberculosis cervical": cervical mengacu pada leher dan

Lymphadenitis mengacu pada peradangan pada kelenjar getah bening, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Scrofula adalah bentuk paling umum dari infeksi TBC yang terjadi di luar paru-paru.

Secara historis, scrofula disebut "raja jahat." Sampai abad ke-18, dokter berpikir satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit itu adalah dengan disentuh oleh anggota keluarga kerajaan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Untungnya, saat ini dokter tahu bagaimana mengidentifikasi, mendiagnosis, dan mengobati kondisi ini.

Apa yang menyebabkan Lymphadenitis Tuberculosis?

Mycobacterium tuberculosis, adalah penyebab paling umum scrofula pada orang dewasa. Namun, Mycobacterium avium intracellulare juga dapat menyebabkan scrofula pada sebagian kecil kasus.

Pada anak-anak, penyebab bakteri non tuberculosis lebih umum. Anak-anak dapat dapat terinfeksi melalui makanan yang terkontaminasi.

Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah seperti penderita HIV memiliki risiko lebih besar untuk menderita scrofula. Scrofula menyumbang terjadi pada sekitar sepertiga dari semua kasus tuberkulosis pada orang dengan gangguan kekebalan tubuh di Amerika Serikat.

Apa gejala Lymphadenitis Tuberculosis?

Scrofula paling sering menyebabkan pembengkakan dan luka pada leher. Kondisi ini biasanya ditandai dengan nodus limfa yang membengkak atau nodus yang mungkin terasa seperti nodul bulat kecil. 

Nodul biasanya tidak lunak atau hangat saat disentuh. kulit mungkin mulai membesar dan bahkan mungkin mengeluarkan nanah atau cairan lain setelah beberapa minggu.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Selain gejala-gejala ini, seseorang dengan scrofula mungkin mengalami:

Scrofula kurang umum di negara-negara maju di mana TBC bukanlah penyakit menular yang umum.

Bagaimana Cara Mencegah Terjadinya Lymphadenitis Tuberculosis?

Secara umum, scrofula disebabkan oleh infeksi TB. Saat ini pengobatan TB memiliki tingkat keberhasilan sebanyak 89 hingga 94 persen. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya scrofula adalah dengan menjalani pengobatan tuberkulosis sampai sembuh total. 

Oleh karena itu jika Anda curiga Anda menderita TBC segera periksakan diri Anda ke dokter dan dapatkan penanganan yang adekuat untuk mengatasi infeksi TBC.

Bagaimana Penanganan Lymphadenitis Tuberculosis?

Dokter biasanya mendiagnosis scrofula dengan mengambil sampel jaringan dan cairan pada area yang meradang di sekitar leher. Salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah biopsi jarum halus (Fine Needle Aspiration). Prosedur ini dilakukan dengan tindakan yang sangat hati-hati untuk tidak menyebarkan bakteri ke daerah sekitarnya.

Seorang dokter pertama-tama dapat memesan beberapa pemeriksaan pencitraan, seperti foto rontgen, untuk menentukan kondisi massa yang tumbuh di leher. Kadang-kadang, pada awalnya, dokter dapat secara keliru mengidentifikasi scrofula sebagai massa leher kanker.

Tidak ada tes darah khusus untuk mendiagnosis scrofula. Namun, dokter Anda mungkin tetap akan melakukan pemeriksaan darah, seperti tes HIV, untuk mengesampingkan kondisi lain.

Pengobatan Lymphadenitis Tuberculosis

Scrofula adalah infeksi tuberculosis extra paru yang ditangani sesuai dengan regimen pengobatan tb extra paru. Pengobatan TB extra paru terdiri dari dua fase, fase intensif selama 2 bulan dengan menggunakan obat antibiotik, seperti: isoniazid, rifampisin, etambutol dan pirazinamid yang diminum setiap hari dan fase lanjutan selama 4 bulan dengan menggunakan regimen pengobatan isoniazid dan rifampisin yang diminum 3 kali setiap minggu.

Kadang-kadang dokter juga dapat meresepkan steroid oral, yang dapat membantu mengurangi peradangan pada lesi scrofula.

Seorang dokter mungkin merekomendasikan pembedahan untuk mengangkat massa leher setelah perawatan dengan antibiotik. Operasi dapat dilakukan jika benjolan yang ada masih terinfeksi oleh bakteri. 

Jika operasi dilakukan saat bakteri penyebab TB masih menginfeksi jaringan, bakteri dapat menyebabkan fistula, yang merupakan lubang terowongan antara kelenjar getah bening yang terinfeksi dan bagian tubuh lain. Efek ini dapat menyebabkan gejala yang lebih parah.

10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Kechavarz-Oliai L, Warren WS. Peripheral Tuberculous Lymphadenitis. Am J Dis Child. 1971;122(1):74–75. doi:10.1001/archpedi.1971.02110010110022. JAMA Network. (https://jamanetwork.com/journals/jamapediatrics/article-abstract/504109)
Reynolds, D., & Dulohery, M. (2016). Tuberculous Lymphadenitis of the Breast in a Young Woman. Chest, 150(4), 171A. https://doi.org/10.1016/j.chest.2016.08.180. CHEST. (https://journal.chestnet.org/article/S0012-3692(16)56379-X/fulltext)
Polesky, A., Grove, W., & Bhatia, G. (2005). Peripheral Tuberculous Lymphadenitis. Medicine, 84(6), 350-362. https://doi.org/10.1097/01.md.0000189090.52626.7a. LWW Journals. (https://journals.lww.com/md-journal/Fulltext/2005/11000/Peripheral_Tuberculous_Lymphadenitis_.3.aspx)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app