Hipogonadisme - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Feb 10, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Tinjau pada Apr 24, 2019 Waktu baca: 4 menit

Hilangnya gairah seksual, jangan anggap remeh!

Pubertas merupakan suatu tahap dalam proses tumbuh kembang. Sebagai suatu tahapan fisiologis, pubertas yang terjadi akan diikuti kemampuan dalam bereproduksi. Pada laki-laki manifestasinya dalam pembentukan sperma, sedangkan pada wanita berupa pematangan sel telur. Perubahan fisis yang mencolok terjadi selama proses ini, diikuti perkembangan ciri-ciri seksual sekunder, perubahan dalam komposisi tubuh dan perubahan maturasi tulang yang cepat, diakhiri dengan penyatuan epifisis serta terbentuknya perawakan akhir dewasa.

Terbentuknya karakteristik seksual sekunder pada manusia sangat dipengaruhi oleh produksi hormone seksual. Hormon seksual memiliki fungsi untuk mengatur karakteristik seksual sekunder, di antaranya membantu produksi sperma dan perkembangan testis pada pria. Sedangkan pada wanita, hormon ini berperan dalam pertumbuhan payudara dan siklus menstruasi

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Selain itu hormon seksual juga berperan dalam pertumbuhan rambut kemaluan, baik pada pria maupun wanita. Apabila terjadi penurunan produksi hormone seksual pada manusia maka terbentuknya karakteristik seksual sekunder pun akan terhambat. Hal ini dalam Bahasa medis biasa disebut dengan hipogonadisme. Yuk, baca artikel ini lebih lanjut untuk mengetahui tentang apa itu hipogonadisme.

Apa sih Hipogonadisme itu?

Hipogonadisme merupakan istilah medis untuk penurunan aktivitas kelenjar seksual. Kelenjar seksual, (pada pria disebut testis dan pada wanita disebut ovarium), merupakan kelenjar yang memproduksi hormon reproduksi beserta sel gamet, ovum, atau sperma. 

Hipogonadisme adalah berkurangnya atau menurunnya hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual sehingga mempengaruhi fungsi dan ciri seks dari kelamin baik pria dan wanita.

Penyakit hipogonadisme sendiri dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu hipogonadisme primer dan sekunder. Hipogonadisme primer merupakan kondisi ketika terjadi kerusakan pada kelenjar seksual dan tidak mampu memproduksi hormon seksual dalam jumlah yang diperlukan tubuh. Sedangkan hipogonadisme sekunder merupakan kondisi dimana terjadi kerusakan pada kelenjar di sekitar otak, yaitu hipofisis (pituitari) atau hipotalamus. Fungsi dari kelenjar ini adalah untuk mengirimkan sinyal agar dapat menghasilkan hormon seksual. 

Apa saja tanda dan gejala-gejala dari Hipogonadisme?

Kurangnya hormone seksual tentu saja bisa menimbulkan masalah baik pria maupun wanita. Beberapa gejala-gejala yang biasa muncul pada pria dengan hipoginadisme yaitu:

  • Mudah lelah
  • Berkurangnya masa otot
  • Lengan dan kaki tumbuh ramping seperti wanita
  • Sulit berkonsetrasi
  • Tubuh jarang ditumbuhi rambut
  • Mandul, sulit memiliki keturunan
  • Hilangnya gairah seksual
  • Suara terdengar tidak seperti layaknya pria normal
  • Testis dan penis yang mengecil
  • Osteoporosis
  • Disfungsi ereksi

Sedangkan gejala-gejala yang biasa terjadi pada wanita dengan penyakit hipogonadisme yaitu sebagai berikut:

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7
  • Suasana hati atau mood yang mudah berubah-ubah
  • Menstruasi yang tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali
  • Payudaya yang tumbuh lebih lambat dari wanita normal lainnya
  • Menurunnya gairah seksual
  • Hilangnya bulu rambut pada badan
  • Badan terasa panas

Apa yang menyebabkan terjadinya hipogonadisme?

Pada umumnya penyebab terjadinya hipogonadisme terbagi atas dua jenis, pimer dan sekunder. Penyebab primer biasanya dikarenakan kerusakan pada kelenjar seksual. Berikut ini sejumlah penyebab kerusakan pada kelenjar seksual, di antaranya:

Sedangkan penyebab sekunder merupakan kerusakan yang terletak pada kelenjar hipofisis di dalamgt;otak. Akibat kerusakan ini, otak tidak mampu mengirim sinyal pada kelenjar seksual untuk memproduksi hormon seksual. Contoh penyebab sekunder seperti, HIV, AIDS, Obesitas, tumor yang dekat dengan hipofisis, TBC, cedera pada otak, penuaan, kekurangan nutrisi, efek samping penggunaan obat-obatab tertentu dan lain-lain.

Diagnosis Hipogonadisme

Untuk mendiagnosis hipogonadisme, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan medis serta gejala yang dialami. Pemeriksaan fisik juga perlu dilakukan untuk memeriksa kelenjar seksual, rambut di tubuh, dan massa otot.

Beberapa pemeriksaan lainnya juga dapat dilakukan untuk memastikan hasil diagnosis yaitu:

Pengobatan Hipogonadisme

Pengobatan atau terapi pada penderita dengan hipoganadisme biasanya tergantung dari faktor-faktor penyebabnya. Pengobatan pasien dengan hipogonadisme biasanya dilakukan dengan penggantian hormon seks pada laki-laki dan perempuan. Untuk pengobatan pasien dengan hipogonadisme, pendekatan yang biasa dilakukan adalah dengan penggantian hormon seks untuk mempertahankan karakteristik seks sekunder. 

Pada pria, penanganan hipogonadisme umumnya dilakukan melalui terapi penggantian testosteron dengan cara memasukkan testosteron buatan ke dalam tubuh untuk menutupi kekurangan hormon tersebut. Sedangkan pada wanita, penanganan hipogonadisme umumnya dilakukan melalui pemberian hormon estrogen buatan dalam bentuk suntik, pil, atau koyo. 

Penggantian steroid seks tidak menghasilkan peningkatan ukuran testis pada laki-laki ataupun kesuburan pada laki-laki maupun perempuan. Kontrasepsi oral juga diketahui dapat memberikan estrogen dan progesteron dalam kombinasi yang dapat memenuhi kebutuhan hormon pasien. 

 Kenali tanda dan gejala-gejala pada penyakit hipogonadisme ini terutama pada anak-anak yang sedang mengalami masa pubertas. Pantau dan amati perkembangan anak-anak Anda. Apabila Anda khawatir akan pertumbuhan seksual sekunder anak Anda segera konsultasikan ke dokter. Untuk terapi atau pengobatan yang lebih lanjut.

 


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Mayo Clinic (2016). Diseases and Conditions. Male Hypogonadism. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/male-hypogonadism/symptoms-causes/syc-20354881)
NIH (2016). MedlinePlus. Hypogonadism. (https://medlineplus.gov/ency/article/001195.htm)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app