Etamoxul: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 24, 2020 Tinjau pada Agu 5, 2019 Waktu baca: 8 menit

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Etamoxul adalah obat antibiotik untuk mengobati berbagai jenis infeksi seperti infeksi saluran pencernaan, pernafasan, saluran kemih dan berbagai jenis infeksi lain
  • Etamoxul mengandung cotrimoxazole, suatu obat antibiotik yang merupakan kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole. Harus dengan resep dokter
  • Etamoxul dijual dalam sediaan kaplet, kaplet forte, dan sirup. Penggunaan dosis anak-anak dan orang dewasa harus diperhatikan dan sesuai petunjuk dokter
  • Efek samping Etamoxul (cotrimoxazole) yang umum terjadi antara lain mual, muntah, ruam, diare , demam, gatal, nyeri otot dan nyeri sendi
  • Penggunaan Etamoxul harus dihentikan jika tanda awal reaksi alergi seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, atau tanda lain muncul, karena bisa berakibat fatal
  • Klik untuk mendapatkan Etamoxul atau obat antibiotik lainnya ke rumah Anda di HDmall. *Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD

Etamoxul adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi seperti infeksi saluran pencernaan, pernafasan, saluran kemih dan berbagai jenis infeksi lainnya. Etamoxul mengandung cotrimoxazole, suatu obat antibiotik yang merupakan kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole. Berikut ini adalah informasi lengkap Etamoxul yang disertai tautan merk-merk obat lain dengan nama generik yang sama.

Mengenai Etamoxul

Golongan

Harus dengan resep dokter

Kemasan

Etamoxul dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :

  • Dos 10 x 10 kaplet
  • 10 x 10 kaplet forte
  • Botol 60 ml sirup

Kandungan

Tiap kemasan Etamoxul mengandung zat aktif (nama generik) sebagai berikut :

  • (trimethoprim 80 mg + sulfamethoxazole  400 mg) / kaplet
  • (trimethoprim 160 mg + sulfamethoxazole  800 mg) / kaplet forte
  • (trimethoprim 40 mg + sulfamethoxazole  200 mg) / 5 ml sirup

Sekilas tentang zat aktif (nama generik)

cotrimoxazole adalah antibiotik kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole yang digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi bakteri. kombinasi ini dengan perbandingan satu bagian trimethoprim dan lima bagian sulfamethoxazole.  Cotrimoxazole bekerja dengan cara menghambat enzim metabolisme asam folat pada bakteri yang peka. Trimethoprim sendiri adalah bakterisida sedangkan sulfamethoxazole adalah bakteriostatik. Dalam bentuk kombinasi, antibiotik ini berfungsi sebagai bakterisida. Cotrimoxazole bermanfaat untuk mengobati infeksi-infeksi oleh bakteri yang resisten sulfamethoxazole tapi masih peka terhadap trimethoprim.

Manfaat Etamoxul

Kegunaan Etamoxul (cotrimoxazole) adalah untuk pengobatan infeksi- infeksi berikut :

  • Infeksi saluran pernafasan : otitis media akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae. Eksaserbasi akut bronchitis kronis yang disebabkan oleh pneumoniae atau H. influenzae, sebagai obat alternatif jika obat golongan penicillin tidak dapat digunakan.
  • Infeksi saluran pencernaan : sebagai pencegahan traveller diare yang disebabkan oleh bakteri E. coli, sebagai alternatif antibiotik golongan quinolon.
  • Infeksi saluran kemih : obat ini juga bermanfaat untuk pengobatan infeksi saluran kemih yang disebabkan bakteri coli, Klebsiella, Enterobacter, Morganella morganii, Proteus mirabilis, atau P. vulgaris.
  • Brucellosis dan kolera : obat ini adalah antibiotik alternatif untuk pengobatan brucellosis untuk pasien yang tidak bisa menggunakan tetracycline (misalnya anak-anak).
  • Infeksi mikobakteri : infeksi kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium marinum juga bisa menggunakan antibiotik ini.
  • Pertusis : sebagai alternatif erythromycin.
  • Demam tifus dan infeksi Salmonella lain : umumnya demam tifus diobati dengan antibiotik golongan quinolon atau cephalosporin generasi ketiga seperti ceftriaxone dan cefotaxime, namun cotrimoxazole sering digunakan sebagai alternatifnya.
  • Selengkapnya lihat dosis.

Kontra indikasi

  • jangan menggunakan Etamoxul untuk pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap  trimethoprim dan sulfamethoxazole, atau obat-obat golongan sulfonamide lainnya).
  • Penggunaan obat ini untuk pasien dengan gangguan hati dan ginjal yang berat sebaiknya dihindari.
  • Jangan digunakan untuk wanita hamil terutama menjelang kelahiran, anak < 2 tahun (kecuali untuk pengobatan atau pencegahan pneumocytosis jiroveci (P. carinii) pada bayi dari usia empat minggu atau lebih).
  • Obat ini diketahui ikut keluar bersama air susu ibu, oleh karena itu pemakaian selama menyusui sebaiknya dikonsultasikan pada dokter.

Efek Samping Etamoxul

Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat menggunakan Etamoxul  :

  • Efek samping Etamoxul (cotrimoxazole) yang umum seperti mual, muntah, ruam, diare , demam, gatal nyeri otot dan sendi.
  • Reaksi alergi yang parah bisa terjadi bagi orang-orang yang sensitif terhadap obat-obat golongan sulfonamide termasuk Etamoxul (cotrimoxazole), seperti sindrom stevens-johnson, nekrolisis epidermal toksik, nekrosis hati fulminan, agranulositosis, anemia aplastik, dan diskrasia darah lainnya.
  • Hati-hati terhadap kemungkinan super infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan jamur atau bakteri pada pencernaan.
  • Obat ini bisa menyebabkan hemolisis pada pasien yang kekurangan enzim glukosa-6-fosfat  dehidrogenase (enzim yang berperan dalam produksi sel darah merah), terutama jika diberikan pada dosis yang tinggi.
  • Pada pasien lanjut usia, efek samping lebih rentan terjadi misalnya penekanan sumsum tulang dan penurunan trombosit (terutama jika obat ini diberikan bersamaan dengan diuretik jenis tiazid).

Dosis Etamoxul

Etamoxul (cotrimoxazole) diberikan dengan dosis berikut :

syrup :

  • Dosis anak usia 5-12 tahun : 2 x sehari 2 sendok teh.
  • Dosis anak usia 6 bulan-5 tahun : 2 x sehari 1 sendok teh.
  • Dosis anak usia 2-6 bulan : 2 x sehari ½ sendok teh.
  • pada keadaan infeksi berat dosis dapat ditingkatkan.

tablet

  • Dosis dewasa : 2 x sehari 2 tablet.
  • Dosis anak usia 5-12 tahun : 2 x sehari 1 tablet.
  • Dosis anak usia 1-5 tahun : 2 x sehari ½ tablet.
  • pada kondisi infeksi yang lebih berat, dosis dapat ditingkatkan.

forte :

  • Dosis dewasa : 2 x sehari 1 caplet.
  • pada kondisi infeksi yang lebih berat, dosis dapat ditingkatkan.

Dosis Lazim Etamoxul (cotrimoxazole):

Dosis menyesuaikan dengan masing-masing penyakit :

Dosis lazim dewasa untuk pneumocystis pneumonia : 15 - 20 mg / kg / hari (trimethoprim ) secara oral atau intravena dibagi dalam  3 - 4 dosis setiap 6 - 8 jam, selama 14 - 21 hari

Dosis lazim dewasa untuk pneumocystis pneumonia profilaksis : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral 1 x sehari.

Dosis lazim dewasa untuk infeksi saluran kemih :

  1. Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole 160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 10 - 14 hari.
  2. Infeksi berat: 8 - 10 mg / kg / hari (trimethoprim ) intravena dibagi dalam 2 - 4 dosis setiap 6, 8, atau 12 jam selama 14 hari. Dosis maksimum (trimethoprim ) adalah 960 mg / hari

Dosis lazim dewasa untuk pielonefritis (infeksi saluran ginjal) : Tanpa komplikasi : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 7 - 14 hari.

Dosis lazim dewasa untuk eksaserbasi akut bronchitis kronis : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 14 hari.

Dosis lazim dewasa untuk traveller diare : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 5 hari.

Dosis lazim dewasa untuk otitis media : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 10 - 14 hari.

Dosis lazim dewasa untuk cystitis profilaksis : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole 80 mg / 400 mg secara oral 1x sehari menjelang tidur.

Dosis lazim dewasa untuk meningitis : 5 mg / kg (trimethoprim) intravena setiap 6, 8, atau 12 jam selama 21 hari - 6 minggu. Bisa dikombinasikan dengan chloramphenicol jika pasiem alergi dengan antibiotik golongan betalaktam.

Dosis lazim dewasa untuk pneumonia : 2,5 mg – 5 mg / kg (trimethoprim) secara oral atau intravena setiap 6, 8 atau 12 jam. Lama pengobatan selama 21 hari.

Dosis lazim dewasa untuk prostatitis : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam. Jangka waktu pengobatan, akut : 10 - 14 hari; kronis :1 - 3 bulan.

Dosis lazim dewasa untuk sinusitis : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam. Selama 10-14 hari.

Dosis lazim dewasa untuk infeksi saluran pernapasan atas : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg  secara oral setiap 12 jam.

Dosis lazim pediatric untuk otitis media : Usia ≥ 2 bulan : 4 mg / kg (trimethoprim) secara oral setiap 12 jam selama 10 hari.

Dosis lazim pediatric untuk infeksi saluran kemih :

  1. Usia ≥ 2 bulan : 4 mg / kg (trimethoprim) secara oral setiap 12 jam selama 10 – 14 hari.
  2. Infeksi berat : 8 - 10 mg / kg / hari (trimetoprim) injeksi intravena dibagi dalam 2 - 4 setiap 6, 8, atau 12 jam selama 14 hari. Dosis maksimum trimethoprim adalah 960 mg/ hari.

Dosis lazim pediatric untuk pneumocystis pneumonia : Usia ≥2 bulan : 15 - 20 mg / kg / hari (trimethoprim) secara oral atau injeksi intravena dibagi dalam 3 - 4 dosis,  setiap 6 - 8 jam selama 14 - 21 hari.

Dosis lazim pediatric untuk pneumocystis pneumonia profilaksis : Usia ≥2 bulan : 75 mg / m2 (trimethoprim) secara oral 2x sehari. Dosis harian total (trimethoprim) tidak melebihi 320 mg.

Interaksi obat

Berikut adalah interaksi obat yang mengandung cotrimoxazole dengan obat-obat lain :

  • ACE inhibitor seperti captopril, enalapril, lisinopril, dan ace inhibitor lainnya jika diberikan bersamaan Etamoxul (cotrimoxazole), berpotensi terjadi hiperkalemia.
  • Obat-obat antiaritmia : Etamoxul (cotrimoxazole) meningkatkan resiko aritmia ventrikel pada pasien yang menggunakan amiodarone. Sedangkan pemberian bersamaan dengan obat dofetilide terjadi peningkatan resiko perpanjangan Interval QT.
  • Kalium aminobenzoate menghambat efek obat-obat golongan sulfonamide (seperti sulfamethoxazole).
  • Obat-obat golongan sulfonilurea meningkatkan efek farmakologi Etamoxul (cotrimoxazole).
  • Etamoxul (cotrimoxazole) menghambat metabolisme phenytoin sehingga meningkatkan waktu paruhnya.
  • Diuretik : obat-obat diuretik terutama golongan tiazide meningkatkan potensi terjadinya penurunan kadar trombosit, terutama untuk pasien usia lanjut.
  • Etamoxul (cotrimoxazole) menghambat klirens obat-obat antikoagulan dan meningkatkan protrombin time (PT) sehingga meningkatkan efek obat-obat ini.
  • Jika diberikan bersamaan dengan siklosporin dapat meningkatkan resiko kerusakan ginjal pada pasien penerima transplantasi ginjal
  • Etamoxul (cotrimoxazole) meningkatkan kadar digoxin dalam plasma terutama pada pasien usia lanjut.
  • Antibiotik ini juga meningkatkan konsentrasi plasma obat-obat antivirus seperti lamivudine dan zalcitabine.
  • Indomethacin meningkatkan konsentrasi sulfamethoxazole dalam plasma.
  • Etamoxul (cotrimoxazole) berpotensi meningkatkan efek samping berupa hipoglikemia pada pemakaian anti dibetes oral, seperti glibenclamide.
  • Efek samping anemia megaloblastik terjadi ketika pemberian bersamaan Etamoxul (cotrimoxazole) dan pyrimethamine.
  • Pemberian bersamaan rifampisin dan Etamoxul (cotrimoxazole) menyebabkan kadar rifampisin dalam plasma meningkat di sisi lain terjadi penurunan kadar trimethoprim.
  • Etamoxul (cotrimoxazole) menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma procainamide dan amantadine sehingga meningkatkan toksisitasnya.
  • Jika diberikan bersamaan dengan clozapine dan antipsikotik lainnya, resiko efek samping hematologis meningkat.

Perhatian

Hal-hal yang harus diperhatikan saat menggunakan obat ini adalah sebagai berikut :

  • Etamoxul (cotrimoxazole) harus dihentikan jika tanda-tanda awal reaksi alergi seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya muncul, karena jika terjadi bisa berakibat fatal.
  • Obat ini harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang mempunyai penyakit asma bronkial.
  • Orang-orang yang kekurangan folat seperti pasien lanjut usia, pecandu alkohol, sedang menggunakan obat anti konvulsan, atau oang-orang yng mengalami malnutrisi, jika menggunakan Etamoxul (cotrimoxazole) harus mendapatkan perhatian serius.
  • seperti antibiotik lainnya obat ini harus digunakan sampai dosis yang disarankan habis. Jangan menghentikan pemakaian sebelum waktunya untuk menghindari terjadinya resistensi.
  • Pasien yang menggunakan antibiotik ini harus mengkonsumsi cukup cairan untuk mencegah kristaluria.

Toleransi terhadap kehamilan

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan cotrimoxazole kedalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut :

Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia sehingga tidak direkomendasikan untuk ibu hamil. Akan tetapi apabila besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa, maka penggunaannya dapat dipertimbangkan. 

Oleh sebab itu, penggunaan obat-obat yang mengandung cotrimoxazole oleh ibu hamil harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. 

Artikel Terkait


17 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Cheng, A., McBryde, E., Wuthiekanun, V., Chierakul, W., Amornchai, P., & Day, N. et al. (2009). Dosing Regimens of Cotrimoxazole (Trimethoprim-Sulfamethoxazole) for Melioidosis. Antimicrobial Agents And Chemotherapy, 53(10), 4193-4199. https://doi.org/10.1128/aac.01301-08. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. (https://aac.asm.org/content/53/10/4193)
Deconinck, L., Dinh, A., Nich, C., Tritz, T., Matt, M., & Senard, O. et al. (2019). Efficacy of cotrimoxazole (Sulfamethoxazole-Trimethoprim) as a salvage therapy for the treatment of bone and joint infections (BJIs). PLOS ONE, 14(10), e0224106. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0224106. Public Library Of Science (PLOS). (https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0224106)
Fralick, M., Macdonald, E., Gomes, T., Antoniou, T., Hollands, S., Mamdani, M., & Juurlink, D. (2014). Co-trimoxazole and sudden death in patients receiving inhibitors of renin-angiotensin system: population based study. BMJ, 349(oct28 8), g6196-g6196. https://doi.org/10.1136/bmj.g6196. The BMJ. (https://www.bmj.com/content/349/bmj.g6196)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app