Dionicol 500 mg: Manfaat, Efek Samping, dan Dosis

Update terakhir: Mar 12, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 904.424 orang

Dionicol adalah merek dagang thiamphenicol dan merupakan obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada saluran pernafasan, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran kemih yang peka terhadap thiamphenicol. 

Thiamphenicol adalah antibiotik spektrum luas yang bekerja dengan cara berikatan dengan ribosom bakteri secara reversible sehingga menghambat sintesis protein dari bakteri yang peka, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan bakteri. Tiamfenikol (thiamphenicol) memiliki spektrum aktivitas yang sama dengan chloramphenicol, tetapi 2.5 - 5 kali lebih kuat.

Mengenai Dionicol

Golongan

Resep dokter

Kemasan

Obat antibiotik ini dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut : Dos 10 x 10 caplet 500 mg

Kandungan

Tiap kemasan obat Dionicol mengandung zat aktif thiamphenicol sebagai berikut : Thiamphenicol 500 mg / caplet

Manfaat Dionicol

Kegunaan Dionicol adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Untuk mengobati demam tifoid, paratifoid, infeksi Salmonella sp sp, H. influenzae, terutama infeksi meningeal, Rickettsia, Lympogranulloma psittacosis, bakteri gram negatif penyebab bakteria meningitis, infeksi kuman yang resisten terhadap antibiotik lain.
  • Antibiotik ini sangat umum digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran kemih misalnya gonore.

Efek samping Dionicol

Berikut adalah beberapa efek samping Dionicol yang mungkin terjadi :

  • Beberapa efek samping yang telah diketahui misalnya reaksi hipersensitivias/alergi, gangguan pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare.
  • Obat ini dapat juga menyebabkan sariawan, glositis, ensefalopati, depresi mental, sakit kepala, ototoksisitas, anemia hemolitik dan reaksi jarish-herxheimer.
  • Jika antibiotik ini digunakan dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan pendarahan, neuritis optik dan perifer.
  • Efek samping Dionicol yang berpotensi fatal adalah penekanan pada sumsum tulang belakang, sindrom abu-abu pada bayi baru lahir dan prematur.
  • Jika tanda - tanda hipersensitivitas muncul segera hubungi pihak medis karena bisa menyebabkan shock anafilaktic yang bisa berakibat fatal.

Dosis Dionicol

Dionicol diberikan dengan dosis berikut:

  • Dosis dewasa, anak, dan bayi usia > 2 minggu : 50 mg / kg berat badan/ hari dalam 3 - 4 dosis bagi,
  • Dosis bayi usia < 2 minggu dan prematur : 25 mg / kg berat badan/ hari dalam 4 dosis.

Interaksi Dionicol

Berikut beberapa interaksi yang terjadi jika digunakan bersamaan dengan obat-obat lain :

  • Dionicol dapat meningkatkan efek warfarin dan obat-obat golongan sulfonylurea jika digunakan secara bersamaan.
  • Antibiotik ini juga bisa meningkatkan kadar fenitoin dalam plasma darah.
  • Metabolisme Dionicol meningkat pada pemberian bersamaan dengan fenobarbital dan rifampisin.

Perhatian

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan pasien selama menggunakan antibiotik ini :

  • Penderita dengan gangguan fungsi ginjal sebaiknya dosis antibiotik ini dikurangi untuk mencegah terjadinya akumulasi obat.
  • Selama pemakaian obat ini dianjurkan untuk minum minimal 1.5 liter / hari untuk mencegah kristaluria.
  • Pada pemakaian dalam jangka waktu yang panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah secara periodik untuk antisipasi terjadinya diskrasia darah.
  • Thiamphenicol diketahui ikut keluar bersama ASI, sehingga jika memungkinkan pemakaian Dionicol untuk ibu menyusui sebaiknya dihindari.
  • Antibiotik tidak boleh digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus.
  • Pemakaian antibiotik harus sesuai dengan yang diresepkan dokter baik jumlah maupun durasinya. Menghentikan pemakaian obat sebelum waktunya berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi.
  • Antibiotik ini dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitf/alergi antibiotik thiamphenicol dan antibiotik derivat chloramphenicol lainnya.
  • Sebaiknya tidak diberikan kepada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • jangan menggunakan antibiotik ini untuk pengobatan influenza, batuk pilek dan infeksi lain yang disebabkan oleh virus.

Penggunaan obat Dionicol untuk ibu hamil

FDA (badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat) mengkategorikan thiamphenicol kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Hasil studi pada hewan tidak selalu bisa dijadikan ukuran keamanan penggunaan obat pada manusia. Oleh karena penelitian secara klinis yang terkendali dengan baik belum dilakukan, penggunaan obat-obat yang mengandung thiamphenicol untuk ibu hamil harus dikonsultasikan dengan dokter.

Dalam pemilihan obat, manfaat yang diperoleh harus dipastikan lebih besar daripada risiko yang mungkin dialami pasien. Oleh karena itu, penggunaan obat Dionicol harus sesuai dengan yang dianjurkan.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit