Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR VINA SETIAWAN

Kenali Demensia Dari Penyebab, Gejala dan, Pengobatannya

Update terakhir: Jul 6, 2019 Tinjau pada Mei 2, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.356.197 orang

Demensia adalah penurunan fungsi kognitif yang mempengaruhi memori, berpikir, bahasa, penilaian, dan perilaku. Seseorang dikatakan demensia, apabila mengalami gangguan mental setidaknya terhadap dua fungsi otak. Penyakit demensia atau pikun ini juga dapat menyebabkan perubahan kepribadian seseorang.

Sebenarnya demensia bukanlah penyakit. Tetapi merupakan gejala yang disebabkan oleh berbagai penyakit atau cedera. Gangguan mental pada demensia bisa ringan sampai berat. Ada jenis demensia yang menjadi semakin memburuk dari waktu ke waktu, kondisi ini disebut sebagai demensia progresif. 

Beberapa demensia dapat diobati atau bisa pulih kembali (reversibel). Akan tetapi beberapa ahli menggunakan istilah demensia hanya untuk kemunduran mental yang bersifat ireversibel (permanen).

Apa Penyebab Demensia?

Demensia dapat terjadi akibat Neurodegenerative (degenerasi neuron atau sel otak), atau dengan gangguan pada sistem tubuh lainnya yang mempengaruhi cara kerja neuron. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan demensia, termasuk penyakit-penyakit pada otak. Penyebab paling umum demensia adalah penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.

Neurodegenerative berarti bahwa neuron menurun secara bertahap (berhenti berfungsi atau terganggunya fungsi dan akhirnya mati). Kita tahu bahwa antara neuron satu dengan yang lainnya saling terhubung membentuk rangkaian yang disebut sinapsis, ketika ada sel saraf yang rusak maka hubungan ini akan terputus "disconnect", dan inilah yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan fungsi (disfungsi).

Lebih lanjut, berikut ini beberapa penyebab yang lebih umum dari demensia meliputi:

Penyakit neurodegeneratif

  • penyakit Alzheimer
  • demensia vaskular
  • Penyakit Parkinson dengan demensia
  • efek samping obat
  • alkoholisme kronis
  • tumor atau infeksi otak tertentu

Penyebab lain demensia adalah frontotemporal lobar degeneration, yang merupakan istilah untuk berbagai kondisi yang menyebabkan kerusakan sel-sel saraf pada lobus frontal dan temporal otak. Meliputi:

  • demensia frontotemporal
  • Penyakit Pick
  • palsy supranuclear
  • degenerasi corticobasal

Penyebab Demensia lainnya

Penyakit demensia juga bisa disebabkan oleh kondisi-kondisi di bawah ini:

  • Gangguan struktur otak, seperti hidrosefalus (peningkatan tekanan pada otak akibat penumpukan cairan serebrospinal), dan hematoma subdural (darah yang menumpuk di permukaan otak).
  • Gangguan metabolisme tubuh, seperti: hipotiroidisme, kekurangan vitamin B-12, gangguan ginjal dan hati.
  • Racun, seperti timah

Beberapa demensia ini mungkin reversibel. Oleh sebab itu segeralah periksakan ke dokter apabila muncul gejala-gejala awal demensia agar segera dilakukan pemeriksaan dan pengobatan secepatnya.

Gejala Demensia

Seseorang dikatakan normal apabila sesekali lupa terhadap sesuatu. Gangguan memori atau daya ingat sederhana tidak serta merta dikatakan demensia. Namun, ada perbedaan yang nyata antara lupa normal dan sering lupa akibat demensia.

Tanda dan gejala umum dari kondisi demensia adalah: 

  • Lupa terhadap seseorang, tidak mengenali lagi.
  • Lupa bagaimana melakukan tugas umum (seperti bagaimana menggunakan telepon atau menemukan jalan rumah). Misalnya sering tersesat di supermarket atau mall yang sering dikunjungi.
  • Ketidakmampuan untuk memahami dan / atau menyimpan informasi yang baru saja dijelaskan.
  • Kesulitan berbahasa dan betutur kata
  • Sulit menilai situasi dan mengambil keputusan
  • Penurunan konsentrasi
  • Linglung dan kebingungan
  • Sulit mengkoordinasikan pergerakan tubuh
  • Depresi
  • Gelisah
  • Perubahan perilaku dan psikologis
  • Halusinasi

Periksakan ke dokter apabila seseorang mengalami salah satu dari gejala di atas.

Diagnosis Demensia

Untuk mendiagnosis demensia, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan medis, mengamati gejala-gejala serta melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes penunjang juga dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis, termasuk:

  • Tes kognitif dan neuropsikologis. Untuk memeriksa kemampuan berpikir, mengingat, orientasi, penilaian, konsentrasi.
  • Pemeriksaan neurologi. Untuk memeriksa kemampuan motorik, keseimbangan, rasa, dan refleks.
  • Pemindaian (CT scan, MRI, EEG, dan PET scan). Untuk memeriksa kondisi otot, jaringan, dan aliran listrik saraf otak.
  • Pemeriksaan darah. Untuk mendeteksi adanya kelainan yang dapat memengaruhi fungsi otak seperti defisiensi vitamin B12, atau penurunan fungsi kelenjar tiroid.
  • Pemeriksaan cairan tulang belakang. Untuk mendeteksi jika terdapat infeksi atau peradangan pada sistem saraf.     
  • Tes psikiatrik. Memeriksa jika penderita mengalami depresi atau kondisi mental lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan otak.

Penanganan Demensia

Para ilmuwan di seluruh dunia bekerja keras untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai banyaknya aspek yang terlibat dengan demensia. Hal ini dapat membantu untuk mengembangkan langkah-langkah pencegahan (seperti vaksin), alat diagnostik untuk deteksi dini, perawatan yang lebih baik dan bahkan obat demensia yang lebih manjur.

Misalnya, vaksin yang dikenal sebagai jab bapineuzumab saat ini sedang dalam tahap akhir pengujian. Meskipun tidak bisa menyembuhkan demensia atau gangguan terkait, vaksin ini telah terbukti dapat mencegah, dan dalam beberapa kasus memulihkan demensia, serta melepaskan penumpukan plak amiloid di otak. Plak amiloid yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer, sebagian besar tidak larut dan ini akan sangat merusak di luar dan di sekitar sel-sel saraf otak.

Para ilmuwan juga menyelidiki berbagai faktor yang dapat menyebabkan demensia, seperti faktor genetik, berbagai neurotransmiter, proses peradangan, faktor yang mempengaruhi kematian sel terprogram dalam otak, peran tau (protein yang ditemukan dalam neuron pada sistem saraf pusat), dan kemungkinan peran stres oksidatif ( yaitu, reaksi kimia yang dapat merusak protein, DNA, dan lipid / lemak di dalam sel).

Penelitian tersebut dapat membantu dokter dan ilmuwan lebih memahami penyebab-penyebab demensia, dan diharapkan dapat menemukan cara terbaik untuk mengobati dan mungkin mencegah demensia.

Ada juga bukti bahwa faktor gaya hidup, seperti berolahraga secara teratur dan menjaga hubungan sosial, merupakan cara yang efektif untuk mengurangi risiko terkena demensia.


Referensi

Davis C., Emedicinehealth (2016). Dementia Overview.

Dickinson et al. NCBI (2017). Cognitive stimulation therapy in dementia care: exploring the views and experiences of service providers on the barriers and facilitators to implementation in practice using Normalization Process Theory. International Psychogeriatrics,29(11),pp.1869-1878.

Duong, S. et al. (2017). Dementia: What Pharmacist Need to Know. Canadian Pharmacists Journal, 150(2), pp. 118-129

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit