Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR. VINA SETIAWAN

Hipotiroidisme - Gejala, Cara Menangani, dan Obat

Update terakhir: SEP 22, 2019 Tinjau pada SEP 22, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.265.392 orang

Definisi penyakit Hipotiroidisme

Hipotiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak mampu memproduksi hormon-hormon penting tubuh dalam jumlah normal. Kelenjar tiroid mengendalikan dan mengatur sel-sel tubuh dalam menggunakan energi yang dihasilkan dari proses metabolisme

Metabolisme tubuh berpengaruh pada suhu tubuh, detak jantung, dan pembakaran kalori. Ketika tubuh tidak memiliki cukup hormon insulin, maka proses metabolisme tubuh menjadi lambat sehingga tubuh tidak menghasilkan cukup energi.

Penyebab penyakit Hipotiroidisme

  • Penyakit autoimun, misalnya penyakit Hashimoto. Penyakit Hashimoto menyerang kelenjar tiroid dan menyebabkan peradangan tiroid kronis. Peradangan ini kemudian dapat menurunkan fungsi tiroid. Penyakit Hashimoto diturunkan secara genetik.
  • Terapi hipertiroid. Pada kasus orang dengan kondisi hipertiroid, terapi yang diberikan adalah dengan iodine radioaktif atau obat-obat anti-tiroid untuk mengurangi dan menormalkan fungsi tiroid. Terapi hipertiroid ini terkadang dapat menyebabkan kondisi hipotiroidisme permanen.
  • Operasi pengangkatan kelenjar tiroid.
  • Terapi radiasi pada pengobatan kanker leher atau kepala, kanker limfoma, atau leukemia.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya obat untuk mengatasi permasalahan kondisi psikologis, obat kanker, dan obat jantung dapat menyebabkan kondisi hipotiroidisme
  • Penyakit kongenital atau bawaan sejak lahir. Pada banyak kasus, kondisi hipotiroidisme dapat disebabkan karena kelenjar tiroid tidak berkembang dengan baik tanpa sebab yang diketahui, atau karena adanya penyakit keturunan
  • Kelainan kelenjar pituitary untuk menghasilkan hormon penstimulasi tiroid akibat adanyagt;tumor jinak pada kelenjar pituitary
  • Kehamilan. Pada beberapa ibu hamil, kondisi hipotiroidisme terjadi pada masa kehamilan atau setelah kehamilan. Hal ini disebabkan karena pembentukan antibodi terhadap kelenjar tiroid. Apabila tidak tertangani, dapat menyebabkan meningkatnya risiko keguguran, kelahiran prematur, preeklamsia, dan gangguan perkembangan janin.
  • Kekurangan zat yodium dari asupan makanan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi karena tidak menggunakan garam ber-yodium saat memasak makanan.

Gejala terjadinya Hipotiroidisme

Tanda dan gejala kondisi hipotiroidisme dapat bervariasi dari satu orang dengan orang lain, bergantung pada tingkat keparahan defisiensi hormon tiroid. Biasanya gejala muncul secara perlahan, seringkali dalam beberapa tahun. 

Gejala awal yang muncul dapat berupa pertambahan berat badan dan keletihan. Banyak orang tidak menyadari gejala dan tanda ini karena merasa sebagai hal umum yang terjadi pada pertambahan usia. Kemudian seiring pertambahan usia, tanda dan gejala yang muncul antara lain:

  • Meningkatnya sensitifitas terhadap suhu dingin
  • Konstipasi
  • Kulit kering
  • Wajah menggembung/membengkak
  • Suara serak
  • Kelemahan otot
  • Kenaikan kadar kolesterol darah
  • Nyeri dan kaku pada otot
  • Nyeri, kaku atau bengkak padagt;sendi
  • Siklus menstruasi menjadi tidak normal
  • Rambut menipis ataugt;rambut rontok
  • Detak jantung melambat
  • Depresi
  • Gangguan daya ingat
  • Pembengkakan kelenjar tiroid

Meski umumnya kondisi hipotiroidisme dialami oleh wanita usia paruh baya, tetapi setiap orang termasuk bayi, dapat mengalami kondisi ini. Bayi dengan hipotiroidisme mungkin dapat tidak menunjukkan gejala. Tetapi apabila tanda dan gejala muncul, maka antara lain:

  • Dingin pada tangan dan kaki
  • Konstipasi
  • Rasa kantuk yang berlebihan
  • Tangisan dengan suara serak
  • Pertumbuhan terganggu
  • Jaundis (kuning pada kulit) yang terus menerus
  • Selera makan/minum susu yang menurun
  • Wajah bengkak
  • Lidah bengkak

Apabila kondisi hipotiroidime pada bayi tidak tertangani segera, dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan bayi dan mengakibatkan kecacatan fisik atau intelektual.

Faktor Risiko Hipotiroidisme

  • Jenis kelamin perempuan dengan usia lebih dari 60 tahun
  • Mempunyai penyakit autoimun, Penyakit Hashimoto
  • Memiliki riwayat keturunan penyakit tiroid
  • Memiliki penyakit autoimun lain seperti rheumatoid arthritis atau lupus, atau kondisi peradangan kronis
  • Pernah menjalani terapi radiasi dengan iodine radioaktif atau konsumsi obat anti-tiroid
  • Menjalani terapi radiasi pada bagian leher atau dada bagian atas
  • Pernah menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid
  • Riwayat kehamilan atau persalinan dalam 6 bulan yang lalu
  • Memiliki riwayat kelainan bipolar
  • Mengidap sindroma Down dan sindroma Turner

Komplikasi terjadi Hipotiroidisme

Kondisi hipotiroidisme yang tidak tertangani dapat menyebabkan komplikasi, antara lain:

  • Goiter atau pembesaran kelenjar tiroid, yang dapat mempengaruhi fungsi menelan dan pernapasan
  • Permasalahan pada jantung, misalnya pembesaran jantung (kardiomegali) dan gagal jantung. Hal ini dipicu oleh peningkatan kadar kolesterol LDL akibat kondisi hipotiroidisme.
  • Gangguan kesehatan jiwa, misalnya depresi.
  • Neuropati periferal akibat kerusakan saraf tepi/periferal yang berfungsi sebagai pembawa informasi dari otak dan tulang belakang ke seluruh bagian tubuh, misalnya tangan dan kaki. Tanda-tanda neuropati periferal antara lain nyeri, mati rasa, kesemutan, kelemahan otot, atau kehilangan kendali otot.
  • Kemandulan akibat adanya gangguan pada proses ovulasi karena kadar hormon tiroid yang rendah
  • Obesitas
  • Miksedema (Myxedema), yaitu kondisi langka dan membahayakan nyawa sebagai akibat dari kondisi hipotiroidisme yang tidak terdeteksi. Ditandai oleh meningkatnya sensitifitas terhadap suhu dingin, rasa kantuk, lemas lesu, dan tidak sadarkan diri.

Diagnosis Hipotiroidisme

Beberapa pemeriksaan yang digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis hipotiroidisme, termasuk:

  • Tes darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur kadar T4 dan TSH dalam darah, dimana kadar T4 yang sangat rendah dapat mengindikasikan adanya penyakit hipotiroidisme.
  • Pemeriksaan tiroid rutin
  • Biopsi jarum tipis. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan nodul pada tiroid. Nodul pada tiroid seringkali ditemukan pada pemeriksaan menggunakan CT scan, MRI, dan foto Rontgen dada.

Pengobatan Hipotiroidisme

Hipotiroidisme merupakan kondisi yang berlangsung seumur hidup. Pengobatan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi dan mengobati gejala. Dokter akan memberikan obat yang mengandung hormon tiroid sintetik yang harus diminum setiap hari seumur hidup.

Rekomendasi Asupan Nutria untuk Penderita Hipotiroidisme

  • Makan dengan nutrisi seimbang
  • Mengontrol asupan kedelai atau makanan/minuman yang mengandung kedelai karena dapat menghambat penyerapan hormon tiroid.
  • Memberi jeda beberapa jam sebelum meminum obat, apabila Anda baru memakan makanan dengan kandungan serat tinggi
  • Tidak meminum obat untuk hipotiroidisme dengan suplemen lain secara bersamaan

Referensi

Hormone Health (2018). Hypothyroidism.

Kostoglou-Athanassiou, I. Ntalles, K. (2010). Hypothyroidism – New Aspects of an Old Disease. Hippokratia, 14(2), pp. 82-87.

Mathur, R. MedicineNet (2018). Hypothyroidism Symptoms, Diet, Natural and Medical Treatments, and Tests.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit