Clindamycin: Manfaat, Efek Samping, dan DosisClindamycin: Manfaat, Efek Samping, dan Dosis

Update terakhir: Feb 9, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 372.244 orang

Tahukah Anda? Antibiotik merupakan segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam tubuh suatu organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi. Antibiotik bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri molekul.

Karena biasanya antibiotik bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang 'kebal' terhadap antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotik biasanya diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan biasanya dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotik yang tanggung atau tidak tuntas hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal' terhadap antibiotik tersebut. Oleh karena itu satu dosis lengkap antibiotik harus dihabiskan semuanya. Terdapat berbagai macam jenis antibiotik, khususnya pada artikel ini yang akan menjelaskan salah satu jenis antibiotik yaitu Clindamycin. Selamat membaca.

Apa sih Clindamycin itu?

Clindamycin adalah obat golongan macrolide yang dikembangkan pada tahun 1967. Clindamycin adalah antibiotik yang digunakan untuk pengobatan sejumlah infeksi bakteri. Termasuk infeksi pada telinga tengah, infeksi pada tulang atau sendi, penyakit radang panggul, radang tenggorokan, radang paru-paru, dan endokarditis(peradangan pada selaput jantung). Clindamycin dapat digunakan untuk mengobati kasus infeksi seperti infeksi Staphylococcus aureus yang resisten terhadap obat golongan methicillin (MRSA). Clindamycin juga dapat digunakan untuk mengobati jerawat dan alternatif pengobatan selain kina untuk malaria.Clindamycin tersedia dalam sediaan obat minum, secara intravena (infus), dan sebagai krim untuk diterapkan pada kulit atau di vagina.

Clindamycin adalah golongan obat makrolida yang dapat mengatasi infeksi dengan cara menghentikan perkembangbiakan bakteri. Obat ini bisa dikonsumsi oleh seseorang yang alergi terhadap penisilin. Untuk pasien anak-anak, obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi radang telinga akut, pneumonia karena mycoplasma pneumonieae, S. pneumoniae atau chlamydia pneumoniae, sinusitis akut, faringitis atau tonsilitis, infeksi mikrobakteri dan infeksi lainnya.

Bagaimana cara menggunakan obat Clindamycin dan berapa dosisnya?

Sebelum menggunakan obat ini, informasikan dokter Anda tentang riwayat obat Anda saat ini, riwayat alergi, penyakit yang sudah ada, kondisi kesehatan saat ini dan lain-lain. Beberapa kondisi kesehatan dapat membuat Anda kebal pada efek samping obat. Konsumsi seperti yang diarahkan oleh dokter atau ikuti petunjuk yang tercetak dalam brosur produk.

Untuk dewasa, dosis biasanya akan diberikan sebanyak 150-450 mg tiap enam jam. Dosis akan disesuaikan dengan kondisi yang diobati, tingkat keparahannya, dan respons tubuh terhadap obat. Pada pasien anak-anak, dosis juga akan disesuaikan dengan berat badan mereka.

Clindamycin tablet bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Biasanya waktu yang dianjurkan untuk mengonsumsi Clindamycin adalah pagi dan sore hari. Akan tetapi Clindamycin tablet yang sudah dimodifikasi harus dikonsumsi sesudah makan. Jangan mengunyah atau memecahkan tablet modifikasi karena bisa mengubah kandungan obat.

Apa saja efek samping dari obat Clindamycin?

Sebelum mengonsumsi obat Clindamycin, dokter atau apoteker biasanya menyampaikan kemungkinan efek samping dari obat ini yang dapat muncul. Reaksi efek samping yang terkait dengan terapi Clindamycin secara umum yang ditemukan pada lebih dari 1% orang termasuk: diare, kolitis pseudomembran, mual, muntah, nyeri perut atau kram dan / atau ruam. Dosis tinggi (baik intravena dan oral) dapat menyebabkan rasa logam indra perasa.

Sedangkan efek samping yang berhubungan dengan Clindamycin krim atau salep yang ditemukan pada lebih dari 10% orang termasuk: kulit kering, rasa terbakar, gatal, kulit bersisik, atau pengelupasan kulit. Efek samping tambahan termasuk dermatitis kontak.

Efek samping lainnya yang ditemukan pada lebih dari 10% orang saat diaplikasikan pada vagina termasuk infeksi jamur.

Kolitis pseudomembran merupakan kondisi yang berpotensi fatal yang umumnya terkait dengan penggunaan Clindamycin, tetapi efek samping ini dapat terjadi dengan penggunaan antibiotik lainnya. Pertumbuhan berlebih dari bakteri Clostridium difficile, yang secara inheren resisten terhadap Clindamycin, menghasilkan produksi toksin yang menyebabkan berbagai efek buruk, dari diare hingga kolitis dan usus beracun.

Pada 0,1% pasien terapi Clindamycin dapat menimbulkan efek samping seperti anafilaksis (reaksi alergi yang mengancam jiwa), diskrasia darah, poliartritis (gangguan pada sendi), ikterus (sakit kuning), peningkatan tingkat enzim hati, disfungsi ginjal, henti jantung, dan / atau hepatotoksisitas.

Klindamisin diklasifikasikan sebagai obat yang dapat digunakan oleh ibu yang sedang menyusui oleh American Academy of Pediatrics, namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan sebagai "obat yang perlu dihindari jika memungkinkan". Sebuah tinjauan pada tahun 2009 menemukan bahwa Clindamycin mungkin aman pada ibu yang menyusui, tetapi satu komplikasi berupa hematochezia atau berak berdarah dilaporkan terjadi pada bayi yang mendapat ASI yang mungkin disebabkan oleh efek samping Clindamycin.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit