Chronic Subdural Hematoma - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Apr 29, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Waktu baca: 3 menit

Pendarahan subdural kronis kondisi dimana terdapat akumulasi darah di antara permukaan otak, dan di bawah penutup luar otak yang disebut dengan lapisan dura.

Pendarahan subdural kronis biasanya mulai terbentuk beberapa hari atau beberapa minggu setelah perdarahan awal dimulai. Pendarahan biasanya terjadi karena cedera kepala. Pendarahan subdural kronis biasanya tidak menimbulkan gejala apapun. Namun ketika kondisi ini terjadi, umumnya membutuhkan operasi.

Apa penyebab dan faktor resiko terjadinya pendarahan subdural kronis?

Trauma mayor atau minor pada otak akibat cedera kepala adalah penyebab paling umum yang dapat menyebabkan Pendarahan subdural kronis. Dalam kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat mengalami Pendarahan subdural kronis karena alasan yang tidak diketahui, tidak disebabkan oleh cedera.

Pendarahan subdural kronis terjadi di pembuluh darah kecil yang terletak di antara permukaan otak dan dura. Saat pembuluh darah pecah, darah bocor dalam waktu lama dan membentuk gumpalan. Gumpalan itu menambah tekanan pada otak Anda.

Jika Anda berusia 60 tahun atau lebih, Anda memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami Pendarahan subdural kronis. Seiring dengan bertambahnya usia, jaringan otak akan menyusut sebagai bagian dari proses penuaan normal. 

Karena jaringan otak mengecil, maka terdapat ekstra ruang yang dapat menyebabkan otak bergoyang saat terjadi trauma yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah, sehingga pada orang tua, cedera kepala ringan dapat menyebabkan pendarahan subdural kronis.

Memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak adalah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena SDH kronis. Faktor lain yang dapat menyebabkan Pendarahan subdural kronis termasuk menggunakan obat pengencer darah, aspirin, dan obat antiinflamasi untuk waktu yang lama.

Gejala Pendarahan subdural kronis

Gejala kondisi ini meliputi:

  • sakit kepala
  • mual
  • muntah
  • kesulitan berjalan
  • memori rusak
  • masalah dengan visi
  • kejang
  • masalah dengan ucapan
  • kesulitan menelan
  • kebingungan
  • wajah, lengan, atau kaki mati rasa atau lemah
  • kelesuan
  • kelemahan atau kelumpuhan
  • Koma

Gejala pasti yang muncul tergantung pada lokasi dan ukuran pendarahan yang terjadi. Beberapa gejala terjadi lebih sering daripada yang lain. Hingga 80% orang yang mengalami Pendarahan subdural kronis, menderita sakit kepala.

Jika gumpalan yang terbentuk berukuran besar, Anda akan kehilangan kemampuan untuk bergerak (kelumpuhan). Anda mungkin juga menjadi tidak sadar dan koma. SDH kronis yang memberikan tekanan parah pada otak dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan bahkan kematian.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan gejala kondisi ini, penting untuk mencari bantuan medis segera. Orang yang mengalami kejang atau kehilangan kesadaran membutuhkan perawatan darurat.

Bagaimana mencegah terjadinya pendarahan subdural kronis

Anda dapat melindungi kepala dan mengurangi risiko SDH kronis dengan beberapa cara.

  • Kenakan helm saat mengendarai sepeda atau sepeda motor. Selalu kencangkan sabuk pengaman Anda di dalam mobil untuk mengurangi risiko terjadi cedera kepala jika terjadi kecelakaan.
  • Jika Anda bekerja di di tempat yang berbahaya seperti tempat konstruksi, kenakan topi pengaman dan gunakan peralatan keselamatan.
  • Jika Anda berusia di atas 60 tahun, disarankan untuk lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Bagaimana cara menangani pendarahan subdural kronis?

Dokter Anda akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda kerusakan pada sistem saraf Anda, seperti:

  • Koordinasi yang buruk
  • Masalah berjalan
  • Gangguan mental
  • Gangguan keseimbangan

Jika dokter mencurigai Anda menderita Pendarahan subdural kronis, Anda harus menjalani tes lebih lanjut. Gejala dari kondisi ini dapat menyerupai gejala dari beberapa gangguan dan penyakit lain yang mempengaruhi otak, seperti:

Tes seperti magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography (CT) dapat mengarah pada diagnosis yang lebih akurat. MRI menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar organ Anda. CT scan menggunakan sinar-X untuk membuat gambar penampang tulang dan struktur lunak di tubuh Anda.

Pengobatan pendarahan subdural kronis

Dokter Anda akan berusaha mencegah terjadinya kerusakan permanen pada otak Anda dan membuat gejala lebih mudah ditangani. Obat antikonvulsan dapat membantu mengurangi kejang atau menghentikannya. 

Obat yang dikenal sebagai kortikosteroid meredakan peradangan dan kadang-kadang digunakan untuk mengurangi pembengkakan di otak.

Pendarahan subdural kronis dapat ditangani dengan prosedur pembedahan. Prosedur pembedahan akan dilakukan dengan membuat lubang kecil di tengkorak sehingga darah dapat mengalir keluar. Prosedur ini dapat mengurangi tekanan pada otak.

Jika pendarahan subdural kronis yang terjadi memiliki gumpalan besar atau tebal, dokter Anda akan mengangkat sebagian kecil tengkorak dan mengeluarkan gumpalan tersebut. Prosedur ini disebut kraniotomi.


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app