Apa Sajakah Penyebab Terjadinya Gusi Berdarah ?

Dipublish tanggal: Agu 7, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Apa Sajakah Penyebab Terjadinya Gusi Berdarah ?

Gusi berdarah dapat dikarenakan menyikat gigi terlalu keras hingga melukai gusi. Gusi berdarah juga bisa menjadi gejala penyakit apalagi sering terjadi. 

Untuk itu, Anda harus memahami apa sajakah yang menyebabkan gusi berdarah, supaya bisa segera menanganinya dengan tepat. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Paket Prenatal (Panel Awal Kehamilan) via HonestDocs!

Cek ada tidaknya resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan dapatkan treatment yang tepat secepatnya. Diskon 30% jika beli via HonestDocs sekarang!

Paket prenatal %28panel awal kehamilan%29 di path lab %28home services%29

Penyebab gusi berdarah 

Gusi yang sehat berwarna merah muda, teksturnya padat serta halus dan tidak mudah berdarah jika tertekan/tergores. 

Gusi rentan dan beresiko terhadap penyakit, terutama jika tidak terjaga dengan baik. Ketika gusi mengalami peradangan, gusi menjadi lebih mudah berdarah/bengkak.

Pada gusi yang bermasalah, akan terbentuk kantung-kantung yang memisahkan gigi dengan gusi. Jika peradangan semakin parah, kantung semakin dalam dan mengakibatkan infeksi mulut. Hal inilah yang menyebabkan gusi rentan berdarah.

Jarang sikat gigi

Peneliti menyarankan menyikat gigi minimal dua kali sehari agar plak tidak menumpuk.

Plak gigi mengandung bakteri yang bisa mengakibatkan gusi rentan berdarah. 

Menyikat gigi terlalu keras

Tidak perlu menyikat terlalu keras karena akan melukai gusi dan menyebabkan pendarahan. Sikat gigi perlahan dengan gerakan memutar dari atas ke bawah selama 20 detik tiap sisinya. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Gunakan sikat gigi berbulu lembut serta kepala sikat yang sesuai dengan lebar rahang dan mulut.

Cara flossing yang tidak benar

Flossing adalah penggunaan benang untuk membersihkan sela gigi dari plak dan sisa makanan yang tak terjangkau oleh sikat. 

Caranya harus dilakukan dengan tepat, jangan terburu-buru dan jangan menekan/menggesekkan benang terlalu kuat karena bisa menggores/melukai gusi yang dapat menyebabkan gusi berdarah. Flossing disarankan dilakukan sehari sekali.

Lakukan dengan perlahan memasukkan benang ke sela gigi, kemudian tekan dan geser dengan lembut, jangan sampai mengenai gusi. 

Setelah selesai, lepaskan benang dan tarik dengan hati-hati. Bilas mulut dengan berkumur-kumur setelahnya.

Merokok

Menurut Center for Diseases Control and prevention (CDC), perokok aktif beresiko 2 kali lebih tinggi mengalami periodontitis/penyakit gusi ketimbang non-perokok. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Karena kandungan kimia berbahaya di dalamnya dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri jahat dalam mulut dan menyebabkan mulut mudah terinfeksi, termasuk gusi bengkak, berdarah/radang.

Semakin sering merokok, semakin tinggi risiko penyakit gusi karena rokok melemahkan kekebalan tubuh melawan bakteri penyebab infeksi. Sehingga jika gusi rusak, akan semakin sulit diatasi dan mudah berdarah jika terluka. 

Kurangnya vitamin C dan K

Vitamin C berperan untuk melawan bakteri penyebab infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Vitamin K berfungsi dalam pembekuan darah. Kedua vitamin ini penting untuk kesehatan gusi.

Sumber vitamin C bisa didapatkan dari jeruk, lemon, pepaya, mangga, brokoli, bayam, sawi, dan kubis. Vitamin K bisa didapatkan melalui kacang-kacangan, daging, telur, dan susu.

Perubahan hormon

Pada wanita yang sedang puber, hamil, menstruasi dan menopause mengalami perubahan hormon estrogen dan progesteron yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut. 

Hal tersebut mengakibatkan peningkatan aliran darah ke tubuh termasuk gusi, yang menjadikan gusi melunak, kemerahan, bengkak dan mudah berdarah. 

Perubahan hormon juga mengakibatkan perubahan respon tubuh terhadap bakteri penyebab infeksi. Maka, dibandingkan pria, wanita lebih rentan terkena penyakit gusi.

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mengungkapkan bahwa ibu hamil lebih beresiko terkena gingivitis di trimester awal kehamilannya. Karena perubahan hormon dapat melemahkan kekebalan tubuhnya. 

Gingivitis

Gingivitis/radang gusi sering terjadi, menyebabkan gusi nyeri, meradang, bengkak dan berdarah. Gingivitis disebabkan oleh penumpukan plak yang dapat berubah menjadi karang gigi jika dibiarkan dan mengakibatkan peradangan gusi serta gusi berdarah.

Periodontitis

Gingivitis yang parah dapat menjadi periodontitis (penyakit gusi yang menyerang jaringan an tulang lunak penyangga gigi). Periodontitis mengakibatkan gigi copot dan peningkatan resiko serangan jantung hingga stroke.

HIV

Penderita HIV lebih rentan terkena penyakit mulut daripada orang lain, seperti gusi berdarah, mulut kering, radang gusi, periodontitis, sariawan, herpes mulut, leukoplakia, serta karies gigi karena melemahnya sistem imun dan pengobatan yang dilakukan.

Diabetes

Kadar gula darah tinggi menyebabkan aliran suplai darah beroksigen menurun (apalagi jika merokok), termasuk ke bagian gusi dan menurunkan kekebalan tubuh terhadap bakteri. 

Sehingga gusi lebih rentan terhadap infeksi karena plak juga mudah terbentuk yang mengakibatkan peradangan gusi.

Gangguan pembekuan darah

Leukimia (kanker darah), hemofilia, dan trombositopenia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan tubuh sulit mengendalikan pendarahan, sehingga luka kecilpun bisa menjadi pendarahan hebat, termasuk di gusi.

Segera periksakan ke dokter apabila gusi sering berdarah dan mengalami gejala seperti :

  • Demam tinggi beberapa hari;
  • Nyeri intens walaupun sudah mengkonsumsi pereda nyeri;
  • Rasa tidak enak di mulut (merasakan adanya benjolan pembengkakan (abses));
  • Bau mulut parah (adanya cairan beraroma busuk dari gusi/mulut); dan
  • Sulit membuka mulut.

9 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app