Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN

Alergi Makanan: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: OCT 13, 2019 Tinjau pada OCT 13, 2019 Waktu baca: 8 menit
Telah dibaca 1.014.983 orang

Alergi makanan adalah suatu reaksi yang timbul sebagai akibat dari kekeliruan sistem imun dalam menanggapi protein yang terkandung dalam makanan. Akibatnya timbul respons protektif berupa pelepasan histamin dan mediator lainnya yang dapat memengaruhi sistem pernapasan, pencernaanpembuluh darah dan kardiovaskular.

Kondisi ini memengaruhi 250 - 550 juta orang di seluruh dunia. Dengan prevalensi 6-8% terjadi pada anak di bawah usia 3 tahun dan 4% pada orang dewasa. Ada kemungkinan alergi telur dan susu sapi akan menghilang seiring bertambahnya usia. Namun tidak dengan alergi kacang-kacangan dan hidangan laut yang umumnya akan terus menetap.

Alergi makanan berbeda dengan intoleransi makanan, meski keduanya memiliki gejala yang hampir sama. Pada intoleransi makanan, reaksi yang timbul tidak melibatkan sistem imun namun di picu oleh beberapa faktor seperti ketiadaan enzim tertentu, zat tambahan dalam makanan, faktor psikologis, penyakit celiac dan beberapa faktor lainnya.

Gejala intoleransi makanan pada umumnya timbul secara bertahap, tidak serta merta timbul saat itu juga. Penderitanya pun masih dapat mengonsumsi makanan tertentu dalam jumlah kecil. Berbeda dengan alergi makanan yang langsung menimbulkan reaksi selepas mengonsumsi makanan tertentu meski hanya sedikit.

Bayi dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dan paling sering terkena alergi makanan dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna.

Munculnya alergi makanan terjadi pada segala usia dan jenis kelamin. Insidensi alergi makanan terjadi pada beberapa negara berkembang di dunia akibat kurangnya kebersihan pada faktor kesediaan makanan yang dikonsumsi.

Sistem imunitas bekerja untuk melawan segala infeksi virus, bakteri, dan jamur yang masuk melalui makanan dan udara. Alergi yang terjadi akibat makanan timbul akibat adanya reaksi yang disebut reaksi anafilaksis.

Syok anafilaksis adalah suatu reaksi berat dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk melindungi tubuh dari zat-zat asing. Sebenarnya serangan anafilaksis tidak hanya melewati makanan, obat-obatan juga memiliki reaksi anafilaksis seperti ada pemakaian obat anti nyeri contohnya penisilin, ibuprofen, dan naproxen, juga pada sengatan serangga seperti lebah, tawon, dan semut.

Reaksi alergi akan mengeluarkan antibodi bernama imunoglobulin E atau IgE. Antibodi ini berikatan dengan protein dari sumber alergi sehingga menimbulkan gejala alergi. Respon ini terjadi dengan cepat dan sensitif, biasanya dalam satu hingga 2 jam setelah makan.

Alergi makanan terdiri dari beberapa jenis yaitu

Immunoglobin E

Immunoglobin E merupakan salah satu zat antibodi dalam sistem imun atau kekebalan tubuh. Alergi makanan jenis ini adalah yang paling umum dialami. Reaksi yang ditunjukkan oleh penderita alergi immunoglobin E akan segera terlihat sesaat setelah makanan pemicu alergi dikonsumsi.

Non-immunoglobin E

Alergi non-immunoglobin merupakan jenis alergi yang dipicu oleh zat-zat antibodi lain selain immunoglobin E. Berbeda dengan alergi immunoglobin E, reaksi pada alergi non-immunoglobin E lebih lambat. 

Gabungan keduanya

Gabungan dari immunoglobin E dan non-immunoglobin E, dimana reaksi dan gejala dari kedua jenis alergi tersebut akan terlihat.

Penyebab alergi makanan

Alergi makanan dipicu oleh beberapa jenis makanan. Pada dasarnya setiap makanan bisa menyebabkan alergi karena setiap manusia memiliki respon yang berbeda terhadap makanan. Meski begitu, ada beberapa jenis makanan tertentu yang sering menjadi pemicu alergi seperti:

  • Makanan laut seperti udang, lobster, kepiting, dan ikan
  • Kacang-kacangan seperti kacang tanah
  • Susu
  • Telur
  • Kedelai (termasuk susu kedelai dan olahannya, seperti tahu dan tempe)
  • Makanan laut seperti udang, lobster, kepiting, dan ikan
  • Susu
  • Telur
  • Kedelai (termasuk susu kedelai dan olahannya, seperti tahu dan tempe)

Bayi sangat rentan terkena alergi susu. Gejala yang ditimbulkan biasanya merupakan gabungan dari alergi immunoglobin E dan non-immunoglobin E, seperti sembelit dan pembengkakan dibeberapa area tubuh. 

Setiap orang yang memiliki alergi makanan tidak selalu memiliki pemicu yang sama. Bisa saja seseorang alergi terhadap susu hanya menunjukkan reaksi alergi pada produk olahan susu sapi dan tidak alergi pada olahan susu kedelai.

Selain itu, faktor yang dapat memicu peningkatan risiko alergi makanan adalah sebagai berikut :

  • Riwayat keluarga Anda memiliki peningkatan risiko alergi makanan jika asmaeksim, gatal-gatal atau alergi seperti alergi serbuk bunga adalah umum dalam keluarga Anda.
  • Alergi lainnya Jika Anda sudah alergi terhadap satu makanan, Anda mungkin berisiko mengalami alergi terhadap yang lain. Demikian pula, jika Anda memiliki jenis reaksi alergi lainnya, seperti alergi serbuk bunga atau eksim, maka risiko Anda memiliki alergi makanan akan lebih besar.
  • Usia Alergi makanan lebih sering terjadi pada anak-anak, terutama balita dan bayi. Ketika Anda semakin tua, sistem pencernaan Anda matang dan tubuh Anda cenderung untuk menyerap makanan.
  • Asma Alergi asma dan makanan umumnya terjadi bersamaan. Ketika mereka muncul bersamaan, alergi makanan dan gejala asma mungkin akan menjadi lebih parah.

Gejala Alergi Makanan

Alergi makanan menimbulkan respon yang cepat dan akut pada awal timbulnya gejala. Gejala dapat ringan atau memberat sesuai reaksi yang terjadi di dalam tubuh kita. Gejala yang timbul meliputi:

  • Gejala pada Mata. 

Gejala yang ditemukan pada mata yaitu mata merah, gatal, atau bengkak kelopak mata.

  • Gejala Pada Kulit.

Gejala yang terjadi pada kulit paling sering ditemukan dan mudah sekalu terlihat. Gejalanya antara lan muncul bintik merah yang menyebar dengan cepat, gatal hebat, hingga muncul benjolan. Kondisi pada kulit akibat makanan biasanya timbul bintik tanpa disertai benjolan.

Gejala yang melibatkan gangguan sistem pernapasan antara lain sulit bernapas, sakit saat menelan, napas cepat, hinga suara mengi yang terdengar. Kondisi seperti ini biasanya muncul setelah gejala ringan tidak ditangani memadai.

Gejala yang timbul di saluran pencernaan juga menjadi keluhan utama pada alergi makanan karena asupan nutrisi yang terganggu oleh reaksi makanan yang menimbulkan alergi. Gejala yang dapat dirasakan antara lain mual muntah, diare, nyeri perut dan kram perut.

  • Gejala pada sistem saraf

Reaksi alergi pada makanan juga menimbulkan keluhan yang mengarah ke sistem saraf seperti pusing kepala, linglung, mata berkunang, cemas berlebihan, hingga pingsan.

Diagnosis Alergi Makanan

Munculnya alergi makanan terjadi tiba-tiba sehingga kebanyakan pasien dibawa ke IGD untuk diberi penanganan. Dokter yang bertugas akan menanyakan keluhan yang dirasakan serta apakah ada riwayat makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi sesaat sebelum keluhan muncul. 

Riwayat lain seperti penyakit yang pernah diderita, adanya alergi dengan makanan atau obat tertentu, dan adanya riwayat keluarga dengan kondisi yang sama dapat membantu dokter mengarahkan diagnosis.

Pada gejala darurat yang muncul akibat alergi makanan, dokter akan menemukan adanya peningkatan nadi yang lebih cepat dari normal (lebih dari 100 kali permenit) ditambah penuruanan tekanan darah dengan pengukuran alat tensi darah.

Tes tusuk kulit dilakuan untuk melihat adanya reaksi kulit pada makanan yang mengandung alergen. Tes tersebut berbentuk sebuah jarum untuk menaruh ekstrak makanan di permukaan kulit dan dilihat adanya kemerahan atau pembengkakan yang disebabkan reaksi alergi.

Berikut langkah-langkah yang biasanya dilakukan untuk mencari tahu penyebab alergi makanan :

  • Dokter akan menanyakan seputar riwayat kesehatan penderita serta gejala yang timbul.
  • Rentang waktu terjadinya reaksi alergi serta tingkat keparahannya juga penting untuk diketahui untuk menentukan diagnosis yang tepat.
  • Riwayat alergi keluarga juga akan ditanyakan baik itu alergi makanan atau bukan.
  • Pemeriksaan lanjutan yang pertama dilakukan adalah tes darah untuk mencari tahu kadar antibodi dalam darah.
  • Tes tusuk kulit juga biasa dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Zat alergen dari ekstrak suatu makanan akan ditaruh pada kulit yang kemudian akan ditusuk-tusukan dengan jarum kecil agar meresap kedalam sel kulit.
  • Pemeriksaan lanjutan berikutnya adalah tes eliminasi makanan dimana dokter akan mengharuskan Anda untuk menghindari makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu alergi selama kurang lebih satu bulan lamanya sebelum Anda diperbolehkan untuk mengonsumsinya kembali. Jika alergi muncul setelah makanan tersebut dikonsumsi kembali maka Anda positif alergi terhadap makanan tersebut.
  • Dokter akan menanyakan seputar riwayat kesehatan penderita serta gejala yang timbul.
  • Rentang waktu terjadinya reaksi alergi serta tingkat keparahannya juga penting untuk diketahui untuk menentukan diagnosis yang tepat.
  • Riwayat alergi keluarga juga akan ditanyakan baik itu alergi makanan atau bukan.
  • Pemeriksaan lanjutan yang pertama dilakukan adalah tes darah untuk mencari tahu kadar antibodi dalam darah.
  • Tes tusuk kulit (skin prick test) juga biasa dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Zat alergen dari ekstrak suatu makanan akan ditaruh pada kulit yang kemudian akan ditusuk-tusukan dengan jarum kecil agar meresap kedalam sel kulit.
  • Pemeriksaan lanjutan berikutnya adalah tes eliminasi makanan dimana dokter akan mengharuskan Anda untuk menghindari makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu alergi selama kurang lebih satu bulan lamanya sebelum Anda diperbolehkan untuk mengonsumsinya kembali. Jika alergi muncul setelah makanan tersebut dikonsumsi kembali maka Anda positif alergi terhadap makanan tersebut.

Perlu diketahui bahwa tes darah serta tes tusuk kulit biasanya dilakukan dokter jika pasien diduga menderita alergi makanan jenis immunoglobin E, karena alergi jenis ini menimbulkan reaksi yang cepat. 

Sedangkan untuk alergi makanan non-immunoglbin E biasanya dokter akan menggunakan tes eliminasi makanan karena jenis alergi ini menunjukkan reaksi yang lebih lambat. Itulah mengapa diagnosis dilakukan sesuai dengan sifat alergi makanan.

Pencegahan alergi makanan

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari makanan-makanan pemicu alergi. Alergi makanan cenderung hilang saat seseorang berangsur dewasa.

Namun pada beberapa kasus, kondisi ini bisa kembali muncul saat mereka dewasa. Terutama bagi para penderita alergi udang, lobster dan makanan laut lainnya atau penderita alergi yang sering mengalami reaksi yang parah, alergi dapat menetap seumur hidup. 

Untuk itu berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah alergi makanan:

  • Menghindari makanan yang bermasalah (makanan sisa, kedaluwarsa)
  • Selalu bawa obat alergi kemanapun Anda pergi
  • Baca label makanan dengan saksama sebelum membeli atau menyiapkan makanan
  • Kenakan gelang atau kalung medis sebagai tanda agar orang-orang tahu bahwa Anda memiliki alergi
  • Cuci peralatan dengan hati-hati sebelum menyiapkan makanan bayi. Hal ini dapat membantu mencegah penyebab alergi
  • Beritahu keluarga Anda, pengasuh, dan guru jika anak Anda memiliki alergi makanan 

Pengobatan Alergi Makanan

Dokter menangani alergi makanan dengan menghindari makanan yang bertindak sebagai alergen yang menimbulkan gejala. Kondisi ini dilakukan apabila hanya timbul gejala ringan yang hanya untuk memberikan terapi suportif.

Sedangkan pada kasus berat seperti penurunan tekanan darah yang drastis serta adanya perubahan pupil pada mata diberikan injeksi epinefrin sesuai standar kegawatdaruratan medis.

Alergi makanan bisa hilang sendirinya ketika dewasa. Namun pada beberapa kasus alergi makanan yang dialami saat usia anak-anak bisa muncul kembali saat dewasa. Pengobatan tidak bisa menyembuhkan alergi makanan. Obat hanya berfungsi untuk meredakan reaksi alergi yang muncul. 

Obat-obatan yang biasa diresepkan dokter adalah jenis antihistamin untuk meredakan reaksi alergi ringan. Selain itu, obat yang mengandung adrenalin juga biasanya diberikan dokter namun obat ini lebih untuk mengatasi reaksi alergi yang cenderung parah. 

Beberapa obat alergi golongan antihistamin misalnya:

  • Cetirizine (merk Incidal OD, Rinocet Drops dan lain-lain)
  • Chlorpheniramine maleate/ hlorphenamine/ chlortrimeton/ CTM
  • Siproheptadin (merk Pronicy, Prohys,  Lexahist dan lain-lain), dan antihistamin lainnya.

Selain antihistamin, obat-obat golongan kortikosteroid juga bisa digunakan sebagai obat alergi sperti: Dexamethasone (Molacort, Lanadexon, Grathazon), dan Betamethasone. 

Orang yang pernah mengalami alergi makanan perlu memperhatikan dan mengingatkan makanan apa saja yang berpotensi menyebabkan alergi tersebut muncul. Apabila ditemukan anggota keluarga dengan gejala di atas sebaiknya segera meminta pertolongan lebih cepat oleh tim medis di rumah sakit terdekat.

Mengetahui makanan pemicu alergi adalah cara terbaik untuk mengatasi alergi makanan. Menghindari makanan pemicu alergi bisa dilakukan untuk menghindari reaksi alergi. 

Anda dianjurkan untuk segera menemui dokter ketika mengalami reaksi alergi tak lama setelah mengkonsumsi makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu. Memeriksakan diri ke dokter akan mencegah gejala yang lebih parah seperti anafilaksis yang berbahaya karena beresiko terhadap kematian.


Referensi

ACAAI (2018). Food Allergy.

Davis, JL. WebMD (2004). Seafood Allergies Common for Adults.

Kerr, M & Cafasso, J. Healthline (2017). Shellfish Allergies.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit