6 Fakta Mengenai Hubungan Antara Gula dan Depresi

Dipublish tanggal: Jul 18, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jul 24, 2019 Waktu baca: 3 menit

Bagaimana gula mempengaruhi suasana hati Anda?

Makanan dapat memiliki banyak efek pada suasana hati dan emosi Anda. Saat Anda lapar dan menginginkan makanan, Anda bisa menjadi pemarah, kesal, atau mudah tersinggung. Saat menikmati makanan yang lezat, Anda mungkin merasa gembira dan senang.

Makanan yang Anda makan juga dapat memiliki implikasi jangka panjang bagi kesehatan. Secara khusus, makan terlalu banyak gula dapat meningkatkan risiko gangguan mood, termasuk depresi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Gula terbuat secara alami dalam karbohidrat kompleks seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Gula juga hadir dalam makanan sederhana dan mewah seperti pasta, kue, makanan yang dipanggang, roti, soda, dan permen.

Makan terlalu banyak gula sederhana dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan mood, dan beberapa masalah kesehatan kronis. Baca terus untuk mengetahui tentang hubungan antara gula dan depresi. Plus, dapatkan tips untuk mengelola gigi manis Anda.

1. Karbohidrat olahan terkait dengan depresi

Beberapa penelitian menemukan bahwa diet yang kaya akan makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, dan ikan, dapat menurunkan risiko depresi di usia paruh baya. 

Menurut penelitian, orang-orang yang makan makanan olahan seperti makanan manis, makanan yang digoreng, dan daging olahan lebih mungkin didiagnosis dengan depresi daripada orang-orang yang sebagian besar mengandalkan makanan utuh yang tidak diproses.

Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan ikan dapat berguna untuk membantu kesehatan jantung dan otak dan untuk membantu menangkal penyakit kronis

2. Gula lebih membuat ketagihan daripada kokain

Suatu penelitian yang dilakukan pada tikus menemukan bahwa reseptor otak tidak sesuai dengan kadar gula yang konstan dan tinggi. Rasa manis yang berlebihan ini dapat merangsang pusat otak dan mungkin menyebabkan rasa ketagihan melebihi kokain, bahkan pada orang yang kecanduan narkoba. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Ingin mengurangi kecanduan gula Anda? Gula ada di mana-mana, mulai dari minuman dan saus hingga sup dan makanan lainnya. Kurangilah asupan gula Anda sehari-hari dan buat strategi untuk menguranginya secara perlahan. 

3. Gula terkait dengan peradangan, yang terkait dengan depresi

Diet yang kaya akan buah dan sayuran dapat mengurangi peradangan di jaringan tubuh, sedangkan diet yang tinggi akan karbohidrat olahan dapat meningkatkan peradangan.

Peradangan kronis terkait dengan beberapa kondisi kesehatan, termasuk gangguan metabolisme, kanker, dan asma. Peradangan juga dapat dikaitkan dengan depresi, menurut sebuah penelitian.

Banyak gejala peradangan yang juga umum terjadi pada depresi, seperti:

  • kehilangan selera makan
  • perubahan pola tidur
  • rasa nyeri yang meningkat

Itulah sebabnya depresi mungkin merupakan tanda yang mendasari masalah peradangan.

Bicarakan dengan dokter jika Anda mencurigai adanya peradangan kronis. Ahli medis dapat merekomendasikan beberapa pilihan saran untuk membantu Anda mengikuti diet anti-inflamasi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

4. Insulin dapat membantu mengobati depresi

Para peneliti sangat yakin bahwa depresi dapat dikaitkan dengan asupan gula. Dalam suatu studi, para peneliti menemukan bahwa orang dengan depresi berat dan resistensi insulin menunjukkan perbaikan dalam gejala depresi ketika mereka diberi obat diabetes selama 12 minggu. Efeknya sangat kuat pada peserta yang lebih muda.

Diperlukan lebih banyak penelitian sebelum dokter dapat mulai meresepkan insulin atau obat diabetes lainnya untuk penderita depresi. Namun, bicarakan dengan dokter Anda tentang pilihan pengobatan alternatif.

5. Pria berisiko lebih tinggi terkena efek gula

Pria mungkin lebih rentan terhadap efek kesehatan mental dari gula daripada wanita. Dalam suatu penelitian, menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi 67 gram gula atau lebih per harinya, sekitar  23 persen lebih mengalami depresi setelah lima tahun. 

Pria yang mengonsumsi 40 gram gula atau kurang, memiliki risiko lebih rendah mengalami depresi.

The American Heart Association merekomendasikan orang dewasa tidak mengkonsumsi lebih dari 25 gram (untuk wanita) dan 36 gram (untuk pria) setiap harinya. Bacalah label kemasan dengan cermat untuk mengetahui takaran gula yang terkandung. 

6. Makan makanan yang dipanggang terkait dengan depresi

Muffin, croissant, kue kering, dan makanan panggang lainnya mungkin terasa enak, tetapi mereka juga dapat memicu depresi. 

Beberapa penelitian menemukan bahwa individu yang mengkonsumsi banyak makanan panggang memiliki risiko depresi 38 persen lebih tinggi daripada individu yang hanya sedikit mengkonsumsi jenis makanan tersebut.

Para peneliti menyatakan bahwa asupan lemak trans mungkin berperan. Jenis lemak tidak sehat ini menyebabkan peradangan dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan serangan jantung.

Anda dapat membaca label makanan untuk mengetahui apakah makanan yang Anda makan mengandung lemak trans. Anda juga bisa memfokuskan diet pada makanan utuh yang tidak mengandung bahan-bahan buatan seperti lemak trans.

Mencari bantuan

Jika Anda mengalami tanda atau gejala depresi, bicarakan dengan dokter Anda. Gangguan kesehatan mental umum ini dapat diobati dan dikelola dengan baik. 

Dokter Anda dapat merekomendasikan perawatan medis, seperti obat resep serta psikoterapi. Olahraga teratur dan perubahan gaya hidup juga akan dianjurkan untuk meningkatkan kondisi kesehatan, termasuk makan makanan yang penuh dengan:

  • buah-buahan
  • sayuran
  • daging tanpa lemak
  • biji-bijian

16 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Steele EM, et al. (2016). Ultra-processed foods and added sugars in the US diet: evidence from a nationally representative cross-sectional study. DOI: (https://doi.org/10.1136/bmjopen-2015-009892)
Sánchez-Villegas A, et al. (2012). Fast-food and commercial baked goods consumption and the risk of depression. DOI: (https://doi.org/10.1017/S1368980011001856)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Artikel selanjutnya
Apakah Saat Depresi Tetap Bisa Kerja Produktif ?
Apakah Saat Depresi Tetap Bisa Kerja Produktif ?

Tidak semua orang yang depresi menarik diri dari lingkungan sosialnya dan menghindari segala bentuk kegiatan sehari-harinya. Hal itu tergantung faktor penyebab depresinya.

Buka di app