Doctor men
Ditulis oleh
ADELIA MARISTA SAFITRI
Kebiasaan Sehat

Vape Tanpa Nikotin, Benarkah Lebih Aman dari Efek Samping?

Update terakhir: OCT 20, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.081.795 orang

Vape Tanpa Nikotin, Benarkah Lebih Aman dari Efek Samping?

Penggunaan rokok elektrik alias vape selama ini digadang-gadang sebagai alternatif terbaik untuk berhenti merokok. Pasalnya, ada beberapa vape yang diklaim bebas nikotin, sehingga katanya tidak akan bikin kecanduan dan lebih aman bagi kesehatan. Kalau dilihat dari sisi medis, apa benar vape tanpa nikotin cenderung aman untuk tubuh? Temukan jawabannya pada ulasan berikut ini.

Benarkah vape tanpa nikotin lebih aman?

Ada banyak jenis dan varian vape yang dijual di pasaran. Mulai dari jenis vape dengan berbagai takaran nikotin hingga yang diklaim bebas nikotin.

Nikotin merupakan bahan kimia yang sangat adiktif dan dapat menyebabkan kecanduan. Anda mungkin mengira bahwa jika tidak ada kandungan nikotin pada vape, maka tentu tidak akan membuat Anda kecanduan nge-vape. Apa benar begitu?

Para ahli masih belum tahu pasti apakah vape tanpa nikotin berdampak buruk pada tubuh dalam jangka panjang. Akan tetapi, ada beberapa potensi efek samping yang mungkin terjadi jika Anda menggunakan vape tanpa nikotin, yaitu:

1. Iritasi pada saluran pernapasan

Baterai yang digunakan pada vape berfungsi untuk memanaskan cairan dan mengubahnya menjadi aerosol atau uap. Ketika dipanaskan, cairan vape tersebut dapat mengiritasi mulut dan saluran pernapasan.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian dalam jurnal Tobacco Induced Diseases tahun 2015 silam. Para ahli menguak bahwa satu isapan dari rokok elektrik bebas nikotin mengandung cukup banyak propilen glikol dan gliserol.

Kedua cairan tersebut dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Ketika diuapkan, zat-zat tersebut berpotensi membentuk senyawa penyebab kanker atau karsinogenik.

2. Peradangan pada paru-paru atau tenggorokan

Vape tanpa nikotin juga disebut-sebut dapat mengganggu respon sistem imun tubuh. Menurut studi in-vitro yang dimuat dalam jurnal Thorax tahun 2018, berbagai zat dalam vape (meski tanpa nikotin) tetap berpotensi memicu respon peradangan pada sel-sel kekebalan tubuh.

Respon peradangan yang paling banyak muncul berasal dari paru-paru dan tenggorokan. Semakin sering seseorang nge-vape, maka respon peradangan bisa menjalar ke seluruh tubuh.

3. Mematikan sel tubuh

Cairan vape dapat meracuni bahkan mematikan sel paru-paru, meskipun tidak mengandung nikotin. Bahkan disebutkan dalam jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology tahun 2018, paparan zat aditif dalam rokok elektronik juga dapat merusak sel-sel pembuluh darah di jantung hingga jangka panjang.

Para ahli menemukan bahwa perasa kayu manis (cinnamaldehyde) memiliki efek toksik paling signifikan pada sel darah putih. Begitu juga bagi Anda yang menggunakan vape dengan perasa vanila (O-vanillin) dan madu (pentanedione), hati-hati sebab kedua perasa tersebut juga memberikan efek serupa. 

Kematian sel-sel tubuh, terutama di jantung, dapat memicu masalah pembuluh darah serius, seperti hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung.

Apa bedanya dengan vape yang mengandung nikotin?

Secara umum, vape tanpa nikotin memang tampak lebih aman daripada vape yang mengandung nikotin - meskipun tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. Hal ini karena nikotin bertindak sebagai salah satu zat adiktif yang membuat seseorang kecanduan, bahkan meningkatkan risiko kanker.

Sejumlah penelitian mencoba membandingkan efek vape tanpa nikotin dengan vape mengandung nikotin. Salah satunya pada penelitian dalam jurnal Drug Alcohol Dependence tahun 2015, orang yang menggunakan vape mengandung nikotin lebih banyak yang mengalami ketergantungan alias kecanduan daripada yang mengisap vape tanpa nikotin.

Baca Juga: Apakah Kandungan Nikotin Vape Sama Seperti Rokok?

Singkatnya, perbedaan vape nikotin dengan vape tanpa nikotin terletak pada seberapa besar kemungkinan efek candu yang ditimbulkan. Sebab jelas saja bahwa vape nikotin lebih berisiko bikin kecanduan karena itulah sifat nikotin. 

Akan tetapi, ini bukan berarti vape tanpa nikotin benar-benar membuat Anda bisa bernapas lega karena yakin tidak akan kecanduan. Meski dalam kemasannya tertulis bebas nikotin, beberapa jenis vape tetap saja mengandung nikotin dalam jumlah sedikit.

Walau risiko kecanduannya cukup minim, masih ada banyak kandungan lainnya dalam vape yang berisiko membahayakan kesehatan. Salah satunya diacetyl, bahan kimia yang memberikan rasa mentega (butter) pada makanan.

Zat tersebut sebetulnya tidak berbahaya jika dikonsumsi. Namun lain ceritanya kalau diacetyl dipanaskan di dalam vape dan kemudian asapnya dihirup, bahan kimia tersebut dapat memicu suatu penyakit pernapasan yang disebut dengan bronchiolitis obliterans atau paru-paru popcorn. 

Baca Selengkapnya: Paru-Paru Popcorn Sebagai Efek Bahaya Vape (Rokok Elektrik)

Masih diperlukan penelitian lebih lanjut

Memang sudah banyak penelitian yang mengungkapkan efek samping dan potensi bahaya rokok elektrik bagi kesehatan, walaupun tanpa nikotin di dalamnya. Akan tetapi, para ahli masih belum bisa memastikan efek buruk vape bagi kesehatan jangka panjang.

Sejak September 2019, berbagai lembaga kesehatan di seluruh dunia terus menyelidiki kasus penyakit paru-paru yang diduga terkait dengan penggunaan vape. Namun, tentunya lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan sampai Anda menunggu jatuh sakit baru berobat dan menyesal di kemudian hari.

Segera konsultasikan ke dokter jika setelah menggunakan vape, Anda mengalami:

  • Mulut kering
  • Batuk kronis
  • Sakit tenggorokan yang tak kunjung hilang
  • Gusi bengkak atau berdarah
  • Sariawan di mulut yang susah sembuh
  • Sakit gigi atau nyeri pada mulut
  • Gusi surut

Dokter dan tim medis akan mencari tahu penyebab gejala yang Anda alami, apakah berasal dari kebiasaan mengisap vape atau kondisi medis lainnya. Mintalah bantuan dokter atau layanan berhenti merokok jika Anda mencoba mengurangi kebiasaan merokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik alias vape.

Berusaha berhenti merokok tentu saja tidak akan mudah dan mustahil dilakukan sekaligus, apalagi kalau Anda sudah mencapai tahap kecanduan. Dokter biasanya akan mengurangi asupan nikotin Anda sedikit demi sedikit hingga akhirnya Anda bisa berhenti merokok secara total.

Baca Juga: Walau Cuma Terkena Asap, Bahaya Vape Pada Lansia Bisa Fatal

Referensi

Reproductive Toxicology. (2012). Comparison of Electronic Cigarette Refill Fluid Cytotoxicity Using Embryonic and Adult Models.

Healthline. (2019). Vaping Without Nicotine: Are There Still Side Effects?

Tobacco Induced Diseases. (2015). Potential Harmful Health Effects of Inhaling Nicotine-Free Sisha-Pen Vapor: A Chemical Risk Assessment of the Main Components Propylene Glycol and Glycerol.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit