Waspada Stunting Pada Anak, Yuk Kenali Gejalanya Sejak Dini!

Dipublish tanggal: Agu 9, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 11 menit
Waspada Stunting Pada Anak, Yuk Kenali Gejalanya Sejak Dini!

Memperhatikan tumbuh kembang anak adalah pemandangan terindah bagi setiap orangtua. Biasanya, kebanyakan orangtua hanya melihatnya dari pertambahan berat badannya saja. Padahal, Anda juga perlu memantau tinggi badan anak apakah sudah sejalan dengan perubahan berat badannya atau tidak. Jika berat badan terus bertambah tapi tinggi badannya tidak, kondisi ini bisa disebut dengan stunting. Lantas, apa penyebab stunting pada anak dan apa ciri-cirinya?

Apa itu stunting?

Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek daripada anak seusianya. Singkatnya, stunting pada anak sama seperti kasus anak pendek atau kerdil.

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES PREGNANCY & BREAST FEEDING GOLD 60CAP 1 BOTOL via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy breast feeding gold 60 1

Anak dapat dikatakan gagal tumbuh (stunted) jika indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) di bawah standar. Dikatakan pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3SD.

Baca Selengkapnya: Normalkah Tinggi dan Berat Badan Bayi Anda?

Mengutip dari Buletin Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia milik Kemenkes RI, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa Indonesia termasuk negara urutan ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara. Hal ini ditunjukkan dari rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.

Sayangnya, anak yang mengalami stunting tidak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah telanjur terjadi, apalagi jika baru diektahui setelah anak usia 2 tahun ke atas.

Itulah kenapa, gejala stunting pada anak perlu diketahui sejak dini dan harus segera ditangani. Semakin cepat terdeteksi, maka semakin besar pula kemungkinan untuk mencegah risiko stunting di masa mendatang.

Apa penyebab stunting pada anak?

Stunting pada anak adalah hasil dari berbagai faktor di masa lalu. Tidak hanya terjadi akibat pengaruh kesehatan si anak, anak bertubuh pendek juga bisa dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibunya sejak hamil.

Iklan dari HonestDocs
Beli Pendukung Gizi & Nutrisi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 8

Berikut berbagai penyebab stunting pada anak, di antaranya:

1. Gizi ibu selama hamil

Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat hamil, bahkan setelah melahirkan, dapat memengaruhi tumbuh kembang janin. Jika gizi ibu tergolong kurang, maka bayinya berisiko mengalami stunting.

Penyebab stunting pada anak juga bisa disebabkan oleh faktor fisik ibu, seperti postur tubuh ibu yang pendek, jarak kehamilan terlalu dekat, dan usia ibu yang masih remaja.

Ibu hamil yang bertubuh pendek (tinggi badan kurang dari 145 cm) berisiko melahirkan bayi stunting. Pasalnya, tubuh pendek akan membuat aliran darah ke janin mengalami hambatan sehingga asupan nutrisinya tidak mengalir sempurna. Akibatnya, risiko bayi stunting akan semakin besar.

Efek serupa juga bisa terjadi pada ibu yang hamil di usia muda, yakni di bawah 20 tahun. Calon ibu muda yang sedang hamil berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Sekitar 20% kasus bayi stunting dialami oleh bayi BBLR.

Kekurangan gizi saat hamil juga dapat memicu pembatasan pertumbuhan intrauterin, atau dalam dunia medis disebut intrauterine growth restriction (IUGR). Kondisi ini menyebabkan 20% anak mengalami stunting.

Iklan dari HonestDocs
Meso Slimming Treatment di Reface Clinic

Meso Slimming merupakan teknik non-bedah kosmetik dimana mikroskopis kecil dari obat-obatan kelas medis, vitamin, mineral dan asam amino disuntikkan ke dalam lapisan kulit. Penyuntikan dilakukan pada bagian atas dan tengah untuk mengatasi berbagai jenis masalah penumpukan lemak. Suntikan akan diberikan ke dalam mesoderm, yaitu lapisan lemak dan jaringan di bawah kulit. Befungsi untuk menghilangkan lemak tubuh yang tidak diinginkan dan selulit.

Meso slimming treatment di reface clinic

2. Kurangnya asupan gizi pada balita

Melansir dari Pusat Data dan Informasi Situasi Balita Pendek milik Kemenkes RI, stunting adalah hasil dari kurangnya nutrisi dan serangan infeksi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak. Periode ini bahkan disebut sebagai periode emas atau periode kritis yang menentukan kualitas anak di masa mendatang.

Itulah sebabnya mengapa pemenuhan nutrisi bagi bayi sangatlah penting sejak di dalam kandungan. Tidak hanya bertujuan agar bayi terlahir dengan selamat dan sehat, nutrisi yang cukup juga berperan untuk memaksimalkan tumbuh kembang bayi dan mencegah berbagai penyakit, termasuk terhadap risiko stunting.

Semakin anak kekurangan gizi, maka anak semakin berisiko mengalami stunting. Hal ini juga dipengaruhi dengan gagalnya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian ASI eksklusif, hingga menyapih dini juga bisa menjadi penyebab stunting pada anak.

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) juga tidak boleh asal-asalan, karena ini menjadi kunci untuk menghindari risiko stunting. Pastikan MPASI mengandung gizi lengkap, berkualitas, dan higienis supaya manfaatnya bisa terserap secara maksimal dalam tubuh anak.

Baca Juga: Ciri-Ciri Kurang Gizi Pada Bayi, Anak, dan Dewasa

3. Kondisi sosial ekonomi

Siapa sangka bahwa kondisi sosial ekonomi juga bisa memengaruhi terjadinya anak stunting. Hal ini berkaitan dengan kemampuan orangtua dalam menyajikan makanan bergizi bagi keluarganya.

Dengan ekonomi yang cukup, orangtua tentu akan mampu menyediakan makanan sehat dan bergizi lengkap, mulai dari asupan karbohidrat, protein, sayur, buah, hingga susu. Sebaliknya, kurangnya biaya untuk hidup sehari-hari akan membatasi orangtua untuk membelikan susu atau makanan sehat untuk anaknya.

Tanda dan gejala stunting pada anak

Kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir. Akan tetapi, gejala stunting biasanya baru kelihatan setelah anak berusia 2 tahun.

Berbagai tanda dan gejala stunting pada anak adalah:

  • Tumbuh kembang lebih lambat dari teman sebayanya
  • Pertumbuhan gigi terlambat
  • Tanda pubertas terlambat
  • Wajah tampak lebih muda dari usianya
  • Perhatian dan memori belajar menurun
  • Anak jadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata pada usia 8-10 tahun

Cara paling mudah untuk mengetahui gejala stunting pada anak adalah dengan memperhatikan grafik perkembangan anak dalam buku KMS (Kartu Menuju Sehat). Anak dikatakan bertubuh pendek jika grafik tinggi badan berdasarkan umur (TB/U) terlihat naik mengikuti kurva standar, tapi posisinya berada di bawah.

Ada sedikit perbedaan kondisi stunting yang dialami oleh anak usia 2-3 tahun dengan anak usia lebih dari 3 tahun. Pada anak usia 2-3 tahun, rendahnya grafik TB/U menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami stunting pada saat itu (sedang berlangsung). Sedangkan pada anak yang usianya lebih dari 3 tahun, hal tersebut menunjukkan bahwa anak memang telah gagal tumbuh (stunted) sejak awal.

Untuk mengetahui apakah tinggi anak normal atau tidak, ajak si kecil ke Posyandu atau pelayanan kesehatan terdekat. Mengikuti aktivitas di Posyandu setiap bulan dapat membantu Anda memantau tumbuh kembang anak.

Kenali bahaya stunting pada anak

Stunting pada anak perlu menjadi perhatian para orangtua. Kasus gagal tumbuh (stunted) ini tidak hanya memengaruhi kondisi anak pada saat ini, tapi juga akan terbawa hingga ia dewasa.

Bila tidak ditangani sejak dini, balita stunting dapat mengalami hambatan perkembangan fisik dan kognitif di masa mendatang. Anak yang menderita stunting juga akan lebih rentan terhadap penyakit, terutama penyakit degeneratif saat dewasa.

Dampak dan bahaya stunting pada anak dalam jangka pendek, yaitu:

  • Anak sering sakit-sakitan karena sistem imunnya rendah
  • Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal
  • Biaya kesehatan meningkat

Sedangkan dalam jangka panjang, anak stunting dapat mengalami:

  • Postur tubuh tidak optimal, biasanya lebih pendek daripada teman seusianya
  • Fungsi organ-organ tubuh tidak seimbang
  • Menurunkan kesehatan reproduksi
  • Prestasi anak di sekolah menurun
  • Produktivitas dan kinerja menurun
  • Meningkatkan risiko penyakit degeneratif saat dewasa, seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker, dan sebagainya.

Bagaimana cara mengatasi stunting pada anak?

Memperbaiki kondisi stunting pada anak memang cukup sulit, apalagi kalau anak sudah berusia lebih dari 2 tahun. Sementara itu, masih ada harapan untuk mengatasi stunting pada anak di usia kurang dari 2 tahun, tapi tentunya membutuhkan komitmen, kerja keras, dan waktu yang tidak singkat.

Untuk mengatasi sunting pada anak bersasarkan pedoman MPASI dari WHO/UNICEF, bayi usia 6-23 bulan sebaiknya mengonsumsi minimal 4 dari 7 kelompok bahan makanan yang meliputi serealia atau umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur, dan sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A, hingga sayur dan buah lainnya.

Baca Selengkapnya: Makanan Terbaik untuk Bayi 6 Bulan yang Baru Mulai Belajar Makan

Frekuensi makannya pun harus teratur, minimal 3 kali sehari. Percuma saja jika orangtua sudah menyediakan bahan makanan yang bergizi, tapi pola makan anak tetap tidak teratur. 

Perhatikan juga ketentuan frekuensi makan minimal pada anak. Hal ini akan sedikit berbeda pada bayi 6-23 bulan yang diberi atau tidak diberi ASI, yakni:

Untuk bayi yang diberi ASI:

  • Usia 6-8 bulan: 2 x sehari atau lebih
  • Usia 9-23 bulan: 3 x sehari atau lebih

Untuk bayi yang tidak diberi ASI

  • Usia 6-23 bulan: 4 x sehari atau lebih

Daftar makanan yang bisa mengatasi stunting pada anak

Kasus gagal tumbuh (stunting) memang bisa dimulai sejak bayi masih di dalam rahim. Akan tetapi, stunting paling mudah diketahui pada saat anak menjalani masa MPASI, yaitu peralihan dari kebiasaan minum ASI dengan konsumsi makanan rumahan. Mengapa demikian?

Selama masa menyusui, kebutuhan vitamin dan mineral anak sudah terpenuhi lewat air susu ibu (ASI). Namun ketika memasuki usia 6 bulan ke atas, bayi mulai membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak, sedangkan hal ini sudah tidak dapat dipenuhi hanya dengan minum ASI.

Itulah sebabnya, bahan makanan yang Anda campurkan ke dalam MPASI akan menentukan baik-buruknya status gizi anak. Tanpa kombinasi makanan bergizi seimbang, anak dapat mengalami kekurangan gizi dan bukan tidak mungkin jika si kecil juga berisiko stunting.

Selama ini, kebanyakan orangtua hanya terfokus untuk memenuhi kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral untuk anak, tapi tidak termasuk lemak. Pasalnya, lemak selalu dianaktirikan sebagai penyebab kegemukan pada anak, sehingga sering kali dihindari.

Padahal, asupan lemak juga penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Salah satunya bisa didapatkan dari makanan yang berasal dari hewan, seperti:

  • Telur
  • Daging
  • Ikan
  • Susu dan produk susu, seperti keju, yogurt, dan sebagainya

Jenis makanan tersebut tidak hanya mengandung protein berkualitas tinggi, tapi juga asam lemak esensial dan faktor pertumbuhan bernama insulin 1. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi 2 atau lebih sumber protein hewani setiap hari berisiko 6% lebih rendah mengalami stunting.

Selain berprotein tinggi, makanan yang bersumber dari hewan juga mengandung kaya vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, zat besi, zinc, dan kalsium. 

Asupan zinc yang cukup, misalnya, terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan tulang anak. Begitu juga dengan vitamin A yang tidak hanya baik untuk menjaga kesehatan mata, tapi juga mampu mendukung tumbuh kembang anak.

Lagi-lagi, kuncinya adalah selalu penuhi kebutuhan nutrisi anak di masa pertumbuhannya. Jangan hanya terfokus pada pemenuhan salah satu zat gizi saja, tapi ikuti pedoman gizi seimbang.

Apakah stunting bisa dicegah?

Kabar baiknya, stunting pada anak masih bisa dicegah dengan poal asuh yang tepat. Mulai dari memaksimalkan inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun, serta MPASI sehat dan bergizi.

Jangan lupa pantau pertumbuhan anak Anda di pelayanan kesehatan, bisa di Posyandu atau puskesmas terdekat. Ukur tinggi badan dan berat badan si kecil, lalu perhatikan grafik tumbuh kembangnya pada buku KMS.

Hal ini juga perlu diseimbangi dengan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan lingkungan, serta ketahanan pangan keluarga. Pastikan si kecil mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan lengkap sesuai dengan kebutuhannya.

Tak hanya itu, cara mencegah stunting juga bisa Anda lakukan sejak hamil, artinya anak masih dalam kandungan. Kunci terpentingnya adalah pastikan untuk selalu memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan.

Ingat, apa pun yang Anda makan saat hamil tidak hanya untuk diri Anda sendiri, tapi juga akan dialirkan pada janin dalam kandungan. Semakin baik asupan nutrisinya, maka semakin baik pula manfaatnya bagi tumbuh kembang anak dalam kandungan.

Supaya lebih jelas, berikut langkah-langkah dan cara mencegah stunting mernutu Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga milik Kemenkes RI, yaitu:

1. Untuk ibu hamil dan bersalin

  • Memantau 1000 hari pertama kehidupan anak, artinya sejak awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.
  • Lakukan pemeriksaan kehamilan atau ante natal care (ANC) secara rutin.
  • Melakukan proses persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai, misalnya dokter, bidan, atau Puskesmas.
  • Konsumsi makanan tinggi protein, kalori, serta kaya mikronutrien untuk bayi (TKPM).
  • Deteksi penyakit menular dan tidak menular sejak dini.
  • Mencegah kemungkinan cacingan pada anak.
  • Lakukan konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif.
  • Ikuti penyuluhan dan pelayanan KB.
  • Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun.

2. Untuk balita

  • Pantau tumbuh kembang balita secara rutin.
  • Berikan makanan tambahan (PMT) untuk balita.
  • Berikan stimulasi dini perkembangan anak
  • Berikan pelayanan kesehatan yang optimal untuk anak.

3. Untuk anak usia sekolah

  • Penuhi kebutuhan gizi harian anak sesuai usianya
  • Ajarkan anak seputar gizi dan kesehatan.

4. Untuk remaja

  • Berikan pengetahuan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan pola gizi seimbang.
  • Ajak remaja untuk tidak merokok maupun mengonsumsi narkoba.
  • Berikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi.

5. Untuk dewasa muda

  • Ikuti penyuluhan keluarga berencana (KB).
  • Deteksi dini penyakit menular dan tidak menular.
  • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok ataupun mengonsumsi narkoba.

Jika Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, pastikan untuk selalu memenuhi kebutuhan gizi saat hamil. Jangan lupa periksa kehamilan secara rutin untuk memantau tumbuh kembang janin dalam kandungan Anda.

Begitu juga jika Anda menemukan tanda dan gejala stunting pada anak, segera bawa si kecil ke dokter anak terdekat. Dokter akan memberikan perawatan sesuai dengan kondisi kesehatan anak Anda.

Cara mengukur berat badan dan tinggi badan anak di rumah

Normal atau tidaknya tumbuh kembang anak dapat dilihat berat badan dan tinggi badannya, apakah keduanya berjalan seimbang atau tidak. Anda dapat melakukan pengukuran ini di Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat.

Anda sebetulnya juga bisa melakukannya sendiri di rumah, lho! Namun memang agak susah-susah gampang.

Salah teknik sedikit saja, hasil pengukurannya bisa meleset dan tidak akurat. Hasilnya malah bisa membuat anak terlihat lebih tinggi atau lebih pendek dari yang seharusnya.

Berikut cara mengukur berat badan dan tinggi badan anak di rumah:

1. Mengukur berat badan anak

Cara mengukur berat badan anak di rumah adalah sebagai berikut:

  • Siapkan alat timbangan berat badan. Sebaiknya gunakan timbangan digital untuk menghindari kesalahan pengukuran.
  • Letakkan timbangan di permukaan lantai yang datar, keras, dan tidak berkarpet.
  • Lepaskan sepatu anak atau pakaian yang tebal, misalnya jaket atau sweater.
  • Mintalah anak berdiri di atas timbangan dengan posisi dua kaki di tengah permukaan timbangan.
  • Tunggu beberapa saat sampai muncul angka berat badan anak. Kemudian catat hasil pengukuran.
  • Timbang berat badan anak secara rutin untuk memantau perkembangan anak.

2. Mengukur tinggi badan anak

Sama halnya dengan berat badan, mengukur tinggi badan anak juga susah-susah gampang. Terlebih lagi, anak cenderung banyak bergerak dan sering kabur-kaburan, sehingga sulit untuk mengukur tingig badan yang akurat.

Sebelum mengukur tinggi badan anak, sebaiknya gunakan microtoise atau alat pengukur tinggi yang dipaku di tembok agar hasilnya lebih akurat. Setelah itu, ukur tinggi badan anak dengan cara berikut:

  • Posisikan anak berdiri dengan tegak membelakangi tembok vertikal yang lurus dan tidak terhalang benda apa pun. Pastikan juga lantainya datar, keras, dan tidak berkarpet.
  • Lepas alas kaki, topi, ikat rambut, kepang rambut, atau aksesoris lainnya yang dapat mengganggu hasil pengukuran. Benda-benda tersebut menghalangi kepala anak menempel pada tembok.
  • Pastikan bagian kepala, pundak, bokong, dan tumit anak menempel pada permukaan tembok. Hal ini juga akan membantu si kecil berdiri dengan tegak dan lurus, tidak menunduk atau mendongak, dan pandangan lurus ke depan.
  • Tarik microtoise hingga menyentuh rambut dan pas mengenai kepala.
  • Kalau tidak punya microtoise, Anda bisa menggunakan penggaris dan letakkan di atas kepala dengan lurus. Kemudian berikan tanda pada tembok menggunakan spidol. Ukur tinggi badan dari permukaan lantai sampai ke tanda di tembok menggunakan meteran atau pita ukur.
  • Catat hasil pengukuran. 
  • Ukur tinggi badan anak secara rutin dan sesuaikan dengan grafik tumbuh kembang anak.

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
What is a growth disorder? (2014). (https://kidshealth.org/en/parents/growth-disorder.html)
Rover MM, et al. (2016). Risk factors associated with growth failure in the follow-up of very low birthweight newborns. DOI: (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26859246)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app