Deteksi Berbagai Penyakit Pada Mata Dengan Oftalmoskopi

Oftalmoskopi atau yang sering juga disebut dengan fundoskopi sangat efektif untuk melakukan deteksi dini penyakit penyakit yang serius akurasi yang sangat tinggi. Oftalmoskopi biasanya dilakukan saat melakukan pemeriksaan mata rutin, atau saat pasien sedang mengalami suatu kondisi yang dapat mempengaruhi pembuluh darah mata.
Dipublish tanggal: Sep 9, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit

Oftalmoskopi merupakan serangkaian tes yang sangat efektif untuk mendeteksi berbagai penyakit mata dimana dokter akan melakukan pemeriksaan pada bagian dalam mata (fundus) serta pada bagian belakang mata. Selain itu pemeriksaan juga mencangkup retina, pembuluh darah dan cakram optik. 

Dokter akan menggunakan oftalmoskop, yaitu sebuah alat kecil dengan sebuah lampu yang terletak pada bagian ujung. Mata akan disoroti dengan manggunakan alat ini pada sebuah ruangan yang gelap sehingga dapat menangkap gambar mata yang sangat jelas, termasuk warna saraf optik dan bentuk nya dapat terlihat jelas.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Mata via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 12

Ketahui kondisi mata dengan oftalmoskopi 

Oftalmoskopi atau yang sering juga disebut dengan fundoskopi sangat efektif untuk melakukan deteksi dini penyakit penyakit yang serius akurasi yang sangat tinggi. 

Oftalmoskopi biasanya dilakukan saat melakukan pemeriksaan mata rutin, atau saat pasien sedang mengalami suatu kondisi yang dapat mempengaruhi pembuluh darah mata.

Secara umum, oftalmoskopi sangat efektif dalam melakukan deteksi :

  • Gangguan mata yang diakibatkan penyakit yang berdampak sistemik pada mata, seperti hipertensi dan diabetes
  • Retina yang mengalami robekan
  • Glaukoma
  • Kerusakan yang terjadi pada saraf optik
  • Degenerasi makula
  • Melanoma atau kanker kulit yang penyebarannya hingga ke mata
  • retinitis cytomegalovirus (CMV) atau infeksi parah pada retina

Penyebab sakit kepala dapat dideteksi dengan sangat efektif menggunakan oftalmoskopi . Selain itu beberapa penyakit lain yang berada di sekitar kepala seperti cedera kepala atau tumor otak.

Prosedur oftalmoskopi

Ada beberapa metode yang biasanya digunakan oleh dokter untuk melakukan oftalmoskopi

Metode pertama, oftalmoskopi dilakukan secara langsung, dimana dokter mengarahkan sinar ke pasien dengan menggunakan oftalmoskop dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya.

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

Metode kedua, oftalmoskopi dilakukan dengan cara tidak langsung dimana dokter akan meminta pasien untuk berbaring dan cahaya terang diarahkan ke pasien, dalam pemeriksaan ini dokter akan meminta pasien untuk tidak menatap cahaya namun melihat ke arah lain yang berbeda. 

Pemeriksaan dengan metode ini yang sekarang paling banyak digunakan oleh dokter untuk melakukan pemeriksaan ke pasien.

Metode ketiga, Oftalmoskopi dengan menggunaan slit lamp, dimana dokter akan meminta pasien duduk dengan menggunakan peralatan pemeriksaan khusus. 

Pada pemeriksaan ini dokter akan meminta paseien untuk meletakkan dahi dan dagu pada perangkat untuk menstabilkan posisi pasien, lalu kemudian melakukan pemeriksaan dengan menggunakan miksroskop dan lensa kecil pada area mata.

Apakah ada efek samping oftalmoskopi?

Secara umum tidak ada efek samping dalam pemeriksaan oftalmoskopi. Prosedur standar yang dilakukan dokter sebelum melakukan oftalmoskopi adalah dengan memberikan tetes mata khusus yang berfungsi untuk membuka pupil supaya pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih mudah. 

Proses ini membutuhkan waktu sekitar 15 sampai 20 menit hingga pupil membuka sempurna.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Alergi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 11

Akan tetapi obat tetes inilah yang mempunyai efek samping, seperti pandangan yang menjadi kabur dan mata menjadi terasa sensitif saat terkena cahaya setelah pemeriksaan karena pupil mata berada dalam kondisi membuka. Efek ini akan hilang sendiri saat pupil mata kembali menutup. 

Karena itu, pasien tidak disarankan mengemudi sendiri ketika kembali ke rumah.

Tetes mata yang diberikan sebelum oftalmoskopi dalam beberapa kasus dapat menyebabkan glaukoma, pusing, alergi, mulut kering, mual dan muntah. Tetapi kejadian seperti ini sangat jarang terjadi. 

Namun jika Anda merasakan gejala seperti yang disebutkan segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan medis.

Sebaiknya Anda juga harus memberi tahu dokter jika anggota keluarga memiliki riwayat glaukoma, sedang menggunakan obat tetes mata, sedang minum obat tertentu, atau mempunyai riwayat alergi terhadap obat tetes mata. 

Selain keadaan seperti yang sudah disebutkan, tetes mata tidak akan digunakan pada pasien dengan riwayat glaukoma dan yang memiliki gangguan penglihatan seperti katarak, pupil mata yang tidak dapat diregangkan, atau orang-orang yang kesulitan menjaga kepala tegak selama pemeriksaan.

Jika pada pasien ditemukan kondisi glaukoma, peradangan retina, melanoma okular, degenerasi makula, dan gangguan saraf optik maka hasil oftalmoskopi akan dianggap tidak normal. Segera dilakukan prosedur lanjuta apabila dokter menemukan kondisi seperti ini, apabila memungkinkan akan diberikan perawatan medis.


15 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Cui YH, et al. Association of blood antioxidants and vitamins with risk of age-related cataract: a meta-analysis of observational studies. The American Journal of Clinical Nutrition. 2013;98:778.
Who is at risk for cataracts? American Academy of Ophthalmology. http://www.aao.org/eye-health/diseases/cataracts-risk.
Riordan-Eva P, et al. Lens. In: Vaughan & Asbury's General Ophthalmology. 18th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2011. http://www.accessmedicine.com.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app