Kenali Delirium dari Penyebab,Gejala,dan Pengobatannya

Update terakhir: Mar 6, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 489.772 orang

Delirium bisa jadi tanda seseorang akan meninggal

Seorang anak 13 tahun dirawat di suatu rumah sakit pemerintah di Sulawei Selatan dengan TBC yang sudah dialami sejak 1 tahun terakhir. TBC tidak hanya menyebabkan masalahgt;napasan, tetapi bakteri yang menyebabkan TBC sudah menginfeksi mata sehingga bola mata tampak merah dan menonjol. Berat badan anak tersebut sudah sangat menurun secara drastis dibandingkan dengan sebelum ia sakit. Suatu malam,setelah 1 minggu menjalani perawatan di Intensive Care Unit (ICU) , anak tersebut berteriak-teriak “Tuhan maafkan aku, Tuhan maafkan aku”, sambil melepas semua selang dan alat bantu napas yang terpasang di tubuhnya.

Pada menjelang kematian seseorang cenderung mengalami gangguan fungsi otak, kondisi medis ini dikenal dengan istilah delirium. Kondisi delirium umumnya terjadi pada orang dengan usia lebih dari 70 tahun saat fungsi otak mulai menurun, tetepi kondisi ini bisa terjadi pada Anak-anak dan dewasa muda menjelang kematian.

Apa itu Delirium?

Delirium adalah kondisi neurologis (sistem saraf) di mana seseorang mengalami status mental dan tampak tidak sadar atau tidak mengetahui kondisi diri mereka sendiri dan terkadang terlihat seperti lepas kontrol. Orang yang mengalami delirium, mungkin melihat halusinasi, seperti semut merayap di dinding, atau menjadi delusional, yakin bahwa ada seseorang di luar sana yang ingin menyakiti mereka.

Delirium dibagi menjadi 2 berdasarkan gejala yang ditimbulkannya, yang pertama adalah delirium yang ditandai dengan hiperaktivitas, tipe ini mudah dikenali dan yang kedua adalah delirium yang ditandai dengan hipoaktivitas, tipe ini sulit dikenali dan biasanya lebih berbahaya.

Delirium adalah tanda yang berbahaya. Dibandingkan dengan pasien dengan penyakit yang sama, usia dan karakteristik lain yang tidak mengalami delirium, Orang yang mengalami delirium memiliki kemungkinan meninggal 3 kali lebih besar.

Penelitian di Australia yang disebutkan sebelumnya menemukan pasien dengan delirium memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal jika mereka datang ke rumah sakit dengan delirium, dan 30 kali lebih besar untuk meninggal jika delirium terjadi saat mereka di rawat.

Delirium dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak. Beberapa penderita tidak pernah kembali normal. Kita juga tahu bahwa penyakit Alzheimer berkembang lebih cepat ketika penderita mengalami delirium.

Apa yang menyebabkannya?

Delirium dapat terjadi karena beberapa faktor. Infeksi seperti pneumonia (paru paru basah) atau infeksi saluran kemih adalah penyebab yang sering terjadi. Dehidrasi, penggunaan obat-obatan tertentu, kandung kemih yang terlalu penuh dan bahkan sembelit juga dapat menyebabkan delirium.

Orang-orang muda dan anak-anak yang memiliki penyakit yang kronis dan berat dapat menderita delirium. Hal ini adalah kondisi yang sangat umum terjadi di ICU.

Jika Anda pecandu alkohol dan kemudian berhenti secara mendadak dapat menyebabkan perubahan sistem mental dan saraf mendadak yang memiliki gejala yang mirip dengan delirium; kondisi ini disebut Delirium Tremens. Intoksikasi dengan berbagai obat terlarang juga dapat menyebabkan kebingungan dan halusinasi akut.

Seringkali ada lebih dari satu penyebab terjadinya delirium pada pasien yang di rawat di rumah sakit. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap bersama dengan tes urin dan darah lengkap untuk menentukan penyebabnya. Stroke dan infeksi otak adalah penyebab yang sangat jarang terjadi, sehingga Pemeriksaan cairan tulang belakang (Cerebro Spinal Fluid) dan CT SCAN otak harus dilakukan untuk menentukan penyebab terjadinya delirium.

Bagaimana dokter mengetahui bahwa seseorang mengalami Delirium atau tidak?

Sangat sulit bagi dokter untuk menentukan bahwa seorang pasien mengalami delirium atau tidak. Hal ini disebabkan karena kurangnya waktu dokter untuk memantau pasien secara langsung dan episode delirium tidak menentu. Pada saat dokter memeriksa, pasien tampak normal, tetapi saat dokter tidak ada, pasien mulai “kumat”. Kriteria diagnosis delirium berdasarkan ICD-10 dan PPDGJ-III

  • Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kewaspadaan terhadap lingkungan) yang ditandai dengan berkurangnya kemampuan memfokuskan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian
  • Adanya perubahan dalam kognisi (defisit memori, disorientasi, gangguan berbahasa) atau gangguan persepsi yang tidak dikaitkan dengan demensia)
  • Gangguan Psikomotor berupa hipoaktivitas atau hiperaktivitas, pengalihan aktivitas yang tidak terduga, waktu bereaksi yang lebih panjang, arus pembicaran yang bertambah atau berkurang, reaksi terperanjat yang meningkat
  • Gangguan siklus tidur berupa insomnia, atau pada kasus yang berat tidak dapat tidur sama sekali atau siklus tidurnya terbalik yaitu mengantuk siang hari. Gejala memburuk pada malam hari dan mimpi yang mengganggu atau mimpi buruk yang dapat berlanjut menjadi halusinasi setelah bangun tidur
  • Gangguan emosional berupa depresi, ansietas, takut, lekas marah, euforia, apatis dan rasa kehilangan akal

Bagaimana mengobati Delirium?

Ada tiga tujuan utama terapi Delirium yaitu:

  • Mencari dan mengobati penyebab delirium (diperlukan pemeriksaan fisik yang cermat dan pemeriksaan penunjang yang adekuat. Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, analisis gas darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal, serta EEG atau pencitraan otak bila terdapat indikasi disfungsi otak).
  • Memastikan keamanan pasien
  • Mengobati gangguan perilaku terkait dengan delirium, misalnya agitasi psikomotor.

Terapi Farmakologik 

Untuk meringankan gejalanya dapat diberikan obat-obat benzodiazepin (misalnya diazepam, triazolam dan temazepam). Obat anti-psikotik (misalnya haloperidol, tioridazin dan klorpromazin) biasanya diberikan hanya kepada penderita yang mengalami paranoid atau sangat ketakutan atau penderita yang tidak dapat ditenangkan dengan benzodiazepin. Jika penyebabnya adalah alkohol, diberikan benzodiazepin sampai masa agitasi penderita hilang.

  • Haloperidol mempunyai rekam jejak terpanjang dalam mengobati delirium, dapat diberikan per oral, IM, atau IV
  • Dosis haloperidol injeksi adalah 2-5 mg IM/IV dan dapat diulang setiap 30 menit (maksimal 20 mg/hari).Efek samping parkinsonisme dan akatisia dapat terjadi
  • Bila diberikan IV, dipantau dengan EKG adanya pemanjangan interval QTc dan adanya disritmia jantung
  • Pasien agitasi yang tidak bisa menggunakan antipsikotika (misalnya, pasien dengan Syndrome Neuroleptic Malignance) atau bila tidak berespons bisa ditambahkan benzodiazepin yang tidak mempunyai metabolit aktif, misalnya
  • lorazepam tablet 1–2 mg peroral. Kontraindikasi untuk pasien dengan gangguan pernafasan

Terapi Nonfarmakologik

  • Psikoterapi suportif yang memberikan perasaan aman dapat membantu pasien menghadapi frustrasi dan kebingungan akan kehilangan fungsi memorinya.
  • Perlunya reorientasi lingkungan, misalnya tersedia jam besar.
  • Memberikan edukasi kepada keluarga cara memberikan dukungan kepada pasien

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit