Asetilsistein: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 25, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 5 menit

Asetilsistein obat apa?

Asetilsistein adalah obat pengencer dahak yang menghalangi saluran napas pada penderita penyakit saluran pernapasan seperti asma bronkial, tuberkulosis, pneumonia, fibrosis sistik. Selain itu obat ini juga dijadikan antidot atau penawar kondisi keracuanan acetaminophen (paracetamol).

Asetilsistein merupakan obat keras yang harus dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Tersedia dalam bentuk cairan injeksi intravena, obat oral dan inhalasi. Ketahui lebih lengkap kegunaan, dosis, efek samping, kontraindikasi, dan keamanan obat ini untuk ibu hamil dan menyusui pada artikel ini.

Ikhtisar Obat Asetilsistein

Jenis obat Mukolitik, antidot paracetamol
Kandungan Obat resep
Kegunaan Mengencerkan dahak dan antidot (penawar keracunan) paracetamol
Konsumen Dewasa dan anak-anak
Kehamilan Kategori B
Sediaan Asetilsitein tablet, granul, dan cairan injeksi
Merek Acetylcysteine, Mukosil, Alstein, N-Ace, Cecyl, Dorbigot, Nytex, Fluimucil, Pectocil, Simucil, Siran, Fluimucil, Pediatric, Siran Forte, Hidonac, Sistenol, Mucylin

Mekanisme Kerja

Cara kerja asetilsistein dalam mengencerkan dahak adalah dengan memanfaatkan gugus sulfidril bebasnya yang dapat mengurangi ikatan disulfida pada lendir pernapasan sehingga menurunkan kekentalan dahak. Dahak yang lebih encer akan lebih mudah dikeluarkan dalam bentuk riak pada batuk.

Kemampuan asetilsistein sebagai antidot keracunan paracetamol diperoleh dari kemampuannya sebagai stimulan pada proses sintesis glutathione. Glutathione diperlukan dalam metabolisme paracetamol sehingga tidak sampai menyebabkan hepatotoksisitas pada hati.

Indikasi atau Kegunaan Asetilsistein

Asetilsistein digunakan untuk mengencerkan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan dari saluran nafas pada beberapa penyakit pernapasan seperti:

  • Penyakit bronkopulmonari kronis (emfisema kronis, emfisema dengan bronkitis, asma bronkitis kronis, tuberkulosis, bronkokiektasis, amiloidosis primer paru-paru).
  • Penyakit bronkopulmonari akut (penumonia, bronkitis, trakeobronkitis).
  • Komplikasi paru akibat sistik fibrosis.
  • Dalam perawatan trakeostomi.
  • Komplikasi paru-paru akibat operasi.
  • Atelektasis karena obstruksi lendir.
  • Digunakan dalam pemeriksaan bronkial (bronkogram, bronkospirometri, kateterisasi bronkial).

Asetilsistein juga digunakan sebagai antidot (anti keracunan) terhadap kondisi overdosis paracetamol.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, orang yang diketahui hipersensitif atau alergi terhadap kandungan obat ini tidak dianjurkan menggunakannya.

Dosis Asetilsistein dan Cara Penggunaan

Asetilsistein tersedia dalam bentuk sediaan cairan injeksi, obat oral (tablet dan granule) serta inhalasi dengan kekuatan dosis yang berbeda dari masing-masing sediaan seperti berikut:

  • Tablet: 200 mg,
  • Cairan injeksi atau cairan inhalasi: 100 mg/ml dan 200 mg/ml.

Ingat! Dosis terbaik untuk kondisi penyakit Anda adalah sesuai dengan yang diresepkan dokter berdasarkan keperahan penyakit, kondisi kesehatan, umur, berat badan, jenis kelamin, dll.

Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Asetilsistein sebagai mukolitik

  • Sediaan intravena
    • Dosis dewasa: 3 - 5 ml dari sediaan cairan 20% atau 6 - 10 ml dari sediaan cairan 10% sebanyak 3 - 4 kali sehari.
    • Dosis anak-anak: sama dengan dosis dewasa.
  • Sediaan oral (tablet atau granul)
    • Dosis dewasa: 600 mg per hari sebagai dosis tunggal atau dibagi dalam beberapa dosis.
    • Dosis anak: umur 1 bulan sampai 2 tahun: 100 mg 2 kali sehari, umur 2 - 7 tahun: 200 mg 2 kali sehari, umur lebih dari 7 tahun sama dengan dosis dewasa.
  • Sediaan inhalasi
    • Dosis dewasa: larutan 10% 6 - 10 ml 3 - 4 kali sehari, dapat ditingkatkan hingga 2 - 20 ml setiap 2 - 6 jam. Untuk larutan 20 %, 3 - 5 ml 3 - 4 kali sehari, dapat ditingkatkan hingga 1 - 10 ml setiap 2 - 6 jam.
    • Dosis anak: sama seperti dosis dewasa.

Dosis Asetilsistein untuk mengatasi keracunan paracetamol

  • Sediaan oral
    • Dosis dewasa: larutan 5%, pemberian awal  140 mg/ kg berat badan dilanjutkan 70 mg/ kg berat badan setiap 4 jam.
    • Dosis anak: sama dengan dosis dewasa.
  • Sediaan intravena
    • Dosis dewasa: 150 mg/ kg BB dalam 200 ml/kgBB pengencer selama 60 menit, dilanjutkan dengan 50 mg/ kg dalam 500 ml/kgBB pengencer selama 4 jam berikutnya. Kemudian 100 mg/kg BB dilarutkan dalam 1 liter pengencer untuk 16 jam selanjutnya.
    • Dosis anak: Berat badan kurang dari 20 kg: pemberian awal 150 mg/kg BB dalam 3 ml pengencer dalam waktu 60 menit. Dilanjutkan dengan 50 mg/kgBB dalam 7 ml pengencer selama 4 jam. Kemudian dilanjurkan dengan 100 mg/kgBB dalam 14 ml/kgBB pengencer selama 16 jam. Untuk anak berat badan lebih dari 20 kg: pemberian awal 150 mg/kgBB dalam 100 ml pengencer selama 60 menit, dilanjutkan 50 mg/kgBB dalam 250 ml pengencer selam 4 jam, kemudian 100 mg/kgBB dalam 500 ml  pengencer selama 16 jam. Untuk anak dengan berat lebih dari 40 kg dosis sama dengan dewasa.

Petunjuk Penggunaan:

  • Dalam bentuk obat oral, obat ini dapat digunakan sebelum atau setelah makan. Namun untuk penderita gastritis sebaiknya dikonsumsi setelah makan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Pasien dengan asma bronkial sebaiknya dipantau karena ada kemungkinan muncul bronkospasme. Jika terjadi maka penggunaan obat ini harus dihentikan.
  • Pada penggunaan awal obat ini akan mencairkan lendir bronkus serta meningkatkan volumenya, jika penderita kesulitan batuk atau meludah perlu dilakukan pembersihan saluran pernapasan dengan cara mekanis seperti drainase postural.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6-8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.

Efek Samping Asetilsistein

Asetilsitein umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

Efek Overdosis Asetilsistein

Belum ada data yang menunjukkan adanya efek overdosis dari asetilsistein. Namun penggunaan dalam dosis tinggi tanpa pengawasan dokter tentu akan menimbulkan efek samping yang berbahaya. Segera minta pertolongan unit kesehatan terdekat jika mengalami kesulitan bernafas akibat penggunaan berlebihan obat ini.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Pastikan Anda tidak memiliki riwayat hipersensitif atau alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Obat ini tidak dianjurkan pada penderita diabetes militus, kecuali dalam kondisi yang terkontrol.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal, penyesuaian dosis mungkin dibutuhkan.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Asetilsistein untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Asetilsistein digolongkan dalam kategori B untuk ibu hamil menutut FDA. Hal ini berarti studi penggunaan obat ini pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan.
  • Asetilsistein diketahui dapat terekstraksi ke dalam ASI ibu menyusui dan berpotensi membahayakan bayi. Penelitian pada hewan juga menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya sehingga sebaiknya tidak digunakan pada masa menyusui

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan Asetilsistein, diantaranya yaitu:

  • Insulin inhalasi, penggunaan bersamaan dengan obat ini dapat memengaruhi absorbsi insulin dalam aliran darah.
  • Obat antitusif (penekan batuk), penggunaan bersamaan sebaiknya dihindari karena mempersulit keluarnya lendir dari saluran pernapasan.
  • Penggunaan bersamaan dengan antibiotik jenis tetrasiklin sebaiknya dihindari atau digunakan setelah 2 jam berselang untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul.

15 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app