Apakah Wanita Positif HIV Harus Melahirkan Dengan Operasi Sesar?

Walaupun operasi sesar adalah metode yang memiliki risiko penularan penyakit HIV yang paling rendah, bukannya tidak mungkin bagi seorang wanita yang terinfeksi HIV dapat melahirkan normal. Menurut American College Obstetricians, Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, jika seorang wanita dengan HIV positif ingin melahirkan secara normal :
Dipublish tanggal: Agu 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 11, 2020 Waktu baca: 3 menit
Apakah Wanita Positif HIV Harus Melahirkan Dengan Operasi Sesar?

Tidak dipungkiri bahwa wanita yang menderita HIV, memiliki risiko yang cukup tinggi untuk menularkan infeksi HIV pada bayi selama masa kehamilan, selama persalinan, dan, ketika menyusui. 

Mengurangi Risiko Penularan HIV ke Bayi

1. Minum obat HIV

Untungnya, penggunaan obat HIV tertentu selama kehamilan dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan HIV ke bayi.

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES PREGNANCY & BREAST FEEDING GOLD 60CAP 1 BOTOL via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy breast feeding gold 60 1

Seorang wanita yang terinfeksi HIV harus berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam yang ahli mengenai HIV dan dokter kandungan sebelum mencoba hamil. 

Walaupun sebagian besar obat-obatan aman digunakan selama kehamilan, dan sebagian besar wanita tidak perlu mengganti obat ketika mereka hamil, tetapi idealnya hal ini harus dibahas sebelum kehamilan. 

Penting bagi seorang wanita hamil dengan HIV positif untuk minum obat HIV secara teratur. 

Wanita dengan muatan virus yang rendah, memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk menularkan HIV ke bayi mereka daripada wanita yang memiliki muatan virus yang tinggi.

2. Operasi sesar

Risiko penularan dari ibu ke anak pada perempuan terinfeksi HIV dengan muatan virus yang tinggi dapat dikurangi dengan melakukan operasi sesar sebelum persalinan dan sebelum pecah ketuban, bersamaan dengan penggunaan terapi antiretroviral ibu peripartum. 

Walaupun operasi sesar adalah metode yang memiliki risiko penularan penyakit HIV yang paling rendah, bukannya tidak mungkin bagi seorang wanita yang terinfeksi HIV dapat melahirkan normal

Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ibu Positif HIV Melahirkan Secara Normal

Menurut American College Obstetricians, Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, jika seorang wanita dengan HIV positif ingin melahirkan secara normal :

  • Penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan wanita hamil yang terinfeksi HIV yang dengan terapi antiretroviral (cART) memiliki risiko penularan ibu-ke-bayi 1-2% atau lebih rendah, jika muatan virus di dalam tubuh sang ibu kurang dari 1.000 salinan. / mL.
  • Seorang wanita hamil yang terinfeksi HIV harus menerima terapi antiretroviral selama kehamilan sesuai dengan pedoman yang digunakan untuk orang dewasa. Tingkat plasma asam ribonukleat HIV (RNA) plasma pada wanita hamil harus dipantau pada kunjungan prenatal awal, 2-4 minggu setelah memulai rejimen pengobatan menggunakan ART, hingga level RNA tidak terdeteksi; dan kemudian setidaknya dilakukan setiap 3 bulan selama kehamilan.
  • Wanita hamil yang terinfeksi HIV yang muatan virusnya lebih dari 1.000 salinan. / mL pada saat hampir melahirkan, terlepas dari terapi antepartum antiretroviral, atau yang kadarnya tidak diketahui, harus dikonseling mengenai manfaat potensial dari persalinan sesar untuk mengurangi risiko penularan dari ibu ke anak. Pasien-pasien ini juga harus menerima AZT intravena (ZDV), idealnya 3 jam sebelum operasi sebagai dosis awal intravena 1 jam (2 mg / kg), diikuti dengan infus kontinu selama 2 jam (1 mg / kg / jam) hingga obat mencapai kadar yang diinginkan dalam tubuh.
  • Terlepas dari hasil viral load ibu sebelum melahirkan, perencanaan untuk perawatan dan manajemen semua bayi yang baru lahir dari ibu yang terinfeksi HIV harus dimulai dengan penyedia perawatan anak yang berpengalaman dalam memulai dan memantau kelanjutan terapi profilaksis HIV untuk neonatus dan bayi yang berisiko. Idealnya proses ini harus dilakukan sebelum proses kelahiran, tetapi bisa dilakukan segera setelah proses kelahiran.
  • Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati HIV mungkin memiliki interaksi yang signifikan dengan obat yang digunakan selama persalinan dan melahirkan, khususnya uterotonik. Penggunaan bersamaan methergine atau ergotamin lainnya dengan protease inhibitor atau cobicistat, atau keduanya, telah dikaitkan dengan respon vasokonstriktor (penyempitan pembuluh darah) yang berlebihan.
  • Keinginan pasien dalam membuat keputusan mengenai metode persalinan harus dihormati. Setelah mendapatkan edukasi, seorang pasien dapat memutuskan metode persalinan apa yang ingin mereka pilih, terlepas dari muatan virus yang terdapat di dalam tubuhnya. 
  • Yang perlu Anda ingat adalah skrining cepat selama proses persalinan dan melahirkan atau selama periode postpartum segera perlu dilakukan untuk wanita yang tidak memiliki hasil pemeriksaan yang jelas dalam kehamilan atau yang status HIV-nya tidak diketahui. Hasil pemeriksaan skrining harus tersedia 24 jam pasca seorang ibu datang ke rumah sakit.
  • Durasi pecahnya selaput sebelum persalinan bukan merupakan faktor risiko independen yang dapat menyebabkan penularan ibu-anak pada wanita yang dinyatakan memiliki kadar muatan virus yang rendah.

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Can HIV be passed to an unborn baby in pregnancy or through breastfeeding?. NHS (National Health Service). (https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/can-hiv-be-passed-to-an-unborn-baby-in-pregnancy-or-through-breastfeeding/)
Elective cesarean section for women living with HIV: a systematic review of risks and benefits. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5491238/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app