Apa Itu Malnutrisi Energi-Protein (MEP)?

Dipublish tanggal: Sep 5, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 4 menit

Malnutrisi atau biasa disebut kekurangan gizi merupakan suatu kondisi saat tubuh Anda kekurangan nutrisi tertentu. Menurut WHO, sekitar 181,9 juta atau 32% anak di negara berkembang mengalami malnutrisi serta 5 juta balita meninggal akibat malnutrisi. 

Malnutrisi Energi-Protein atau biasa disebut MEP merupakan suatu kondisi saat asupan energi dan protein Anda tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. MEP mungkin jarang terdengar di telinga orang Indonesia. Namun, Anda jangan menganggap remeh MEP karena bisa dialami oleh bayi, anak-anak, bahkan orang dewasa. 

Penyebab dan Resiko MEP

Penyebab terjadinya MEP adalah karena kurangnya asupan protein dan energi. Akibatnya, metabolisme dalam tubuh menjadi terganggu. 

Energi dalam tubuh digunakan sebagai sumber tenaga, menjalankan berbagai fungsi tubuh, serta membentuk jaringan tubuh, sedangkan protein berfungsi untuk membentuk sel baru dan meregenerasi sel-sel rusak. 

Apabila tubuh tidak mendapatkan cukup asupan protein, maka jaringan tubuh yang rusak tidak akan bisa sembuh secara cepat. Protein juga berperan penting dalam perkembangan anak dan janin saat dikandung. 

Apabila kekurangan protein, pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Malnutrisi energi-protein (MEP) dapat menyebabkan penyakit marasmus dan kwashiorkor

Marasmus

Marasmus adalah salah satu penyakit akibat malnutrisi energi-protein. Marasmus termasuk kondisi malnutrisi parah dan biasanya lebih sering terjadi pada anak-anak, khususnya anak-anak dengan 6-18 bulan. Marasmus sering terjadi di negara berkembang atau negara konflik dengan angka kelaparan dan kemiskinan tinggi, seperti negara-negara di Afrika. 

Penyakit marasmus bisa terjadi karena penderitanya kekurangan asupan protein dan energi akibat kelangkaan makanan dan kemiskinan di negara tersebut. Akibatnya jaringan otot tidak bisa terbentuk. 

Gejalanya antara lain badan sangat kurus, hilangnya massa otot dan lemak subkutan atau lapisan lemak di bawah kulit, kulit kering, rambut rapuh, tidak memiliki energi dan antusiasme, lemas, serta wajah terlihat tua. 

Marasmus pada anak-anak dapat menyebabkan penyakit lain seperti diare kronis, infeksi pernafasan, kerdil (stunting), dehidrasi, serta hambatan intelektual. Biasanya pengidap marasmus juga akan lebih cepat marah dan mudah tersinggung.

Kwashiorkor

Penyakit akibat MEP selain marasmus adalah kwashiorkor. Kwashiorkor juga merupakan penyakit akibat malnutrisi, namun kwashiorkor merupakan penyakit akibat kekurangan asupan protein saja dalam tubuh. Kwashiorkor disebut juga dengan edematous malnutrition, karena kwashiorkor berhubungan dengan penyakit edema (retensi cairan). 

Kwashiorkor juga terjadi di negara-negara dengan tingkat kelaparan tinggi. Pengidap kwashiorkor memiliki ciri-ciri tubuh sangat kurus di semua bagian, kecuali pada bagian tangan / kaki dan perut yang menggembung akibat berisi cairan. Penyakit kwashiorkor dapat disembuhkan secara total apabila pengidapnya dirawat lebih awal. 

Pengobatannya dilakukan secara bertahap, yaitu meliputi pemberian cairan dan mineral terlebih dahulu, barulah pelan-pelan diberi makan secara waja, dan terakhir diberi tambahan ekstra kalori dan protein ke dalam makanan. Namun, meskipun begitu, anak-anak dengan kwashiorkor mungkin tetap tidak bisa tumbuh normal dan perkembangannya terhambat. 

Apabila tidak diobati, kwashiorkor akan semakin parah dan bisa menyebabkan kegagalan organ utama, dehidrasi berat, koma, hingga kematian. Gejala terjadinya penyakit kwarshiorkor antara lain: warna kulit mengalami perubahan, rambut menjadi rapuh dan berwarna kecoklatan, hilangnya massa otot, diare, cepat lelah, kulit kering, berat badan tidak bertambah, dan sistem kekebalan tubuh terganggu sehingga sering terjadi infeksi. 

Apabila Anda mengalami cedera saraf tulang belakang, diabetes, anoreksia, penyakit Crohn, gagal ginjal, gangguan menelan, infeksi kronis, trauma atau infeksi berat, infeksi HIV, depresi berat, gangguan makan seperti bulimia, kesehatan buruk, dan kemoterapi juga bisa berpotensi menyebabkan MEP atau malnutrisi energi-protein. 

Dokter biasanya akan melakukan penghitungan BMI (Body Mass Index) atau indeks massa tubuh dan memeriksa fisik Anda secara umum untuk mendiagnosis atau menentukan penyakit Anda. 

Selain itu, pemeriksaan gula darah, darah lengkap, feses, kadar albumin, pemeriksaan HIV, elektrolit, analisis dan kultur urin, serta pemeriksaan VCT juga dianjurkan oleh WHO. Tujuannya adalah untuk menentukan penyebab malnutrisi dan menemukan kemungkinan adanya penyakit lain yang akan semakin parah akibat malnutrisi. 

Cara pengobatan marasmus dan kwashiorkor akibat MEP yaitu dengan meningkatkan asupan kalori dan protein secara perlahan. Selain itu, pemberian makanan juga bisa dilakukan dalam porsi kecil namun sering. Apabila penderita mengalami masalah pencernaan, dokter akan menambahkan protein cair. 

Dokter juga akan meresepkan suplemen makanan atau obat penambah nafsu makan. Apabila kondisi pasien sangat parah, maka diperlukan rawat inap dan diberikan cairan. Selain itu, penyakit komplikasi lain seperti dehidrasi atau infeksi juga diobati. 

Apabila pasien susah menelan, akan dipasang pipa nasogastrik untuk memasukkan makanan dan cairan ke lambung. Beberapa nutrisi lain seperti albumin akan diberikan lewat infus.

Pemberian asupan kalori dan nutrisi pada penderita kwashiorkor dan marasmus harus secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan pencernaannya. Apabila makanan atau nutrisi diberikan terlalu banyak / cepat dan tidak sesuai dengan kemampuan pencernaan pasien, maka kondisi pasien akan semakin parah dan bisa menyebabkan komplikasi lain hingga kematian. 

Kondisi ini disebut refeeding syndrome. Maka dari itu, perlu konsultasi dengan dokter dan ahli gizi untuk memperbaiki gizi penderita marasmus dan kwashiorkor secara bertahap. 

Cara Pencegahan MEP

Ada berbagai cara untuk mencegah terjadinya malnutrisi energi-protein, antara lain : 

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang 
  • Perbanyak konsumsi sayur dan buah
  • Mengonsumsi makanan sumber energi dan protein seperti  nasi, roti, kentang, susu, telur, daging, ikan, dan kacang-kacangan

Segera konsultasikan dengan dokter dan ahli gizi apabila mengalami gejala malnutrisi energi-protein


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Gupta, SB & Chaturvedi, B & Chakraborty, Subir. (2006). A Study of Protein Energy Malnutrition (PEM) in Children (0 to 6 Year) in a Rural Population of Jhansi District (U.P.). Indian Journal of Community Medicine. 31.. ResearchGate. (Accessed via: https://www.researchgate.net/publication/45262049_A_Study_of_Protein_Energy_Malnutrition_PEM_in_Children_0_to_6_Year_in_a_Rural_Population_of_Jhansi_District_UP)
Srikantia S.G. (1982) Protein energy malnutrition (PEM) in children. In: Neuberger A., Jukes T.H. (eds) Human Nutrition. Springer, Dordrecht. https://doi.org/10.1007/978-94-011-6258-6_7. Springer Link. (Accessed via: https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-94-011-6258-6_7)
Gunnar Akner, Tommy Cederholm, Treatment of protein-energy malnutrition in chronic nonmalignant disorders, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 74, Issue 1, July 2001, Pages 6–24, https://doi.org/10.1093/ajcn/74.1.6. Oxford Academic. (Accessed via: https://academic.oup.com/ajcn/article/74/1/6/4739551)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app