Protein Whey: Informasi Manfaat dan Cara Kerja

Dipublish tanggal: Apr 29, 2019 Update terakhir: Okt 26, 2020 Waktu baca: 7 menit

Protein whey adalah protein yang terkandung dalam whey, cairan susu yang tertinggal selama proses pengendapan dalam pembuatan keju.

Protein whey umumnya digunakan untuk meningkatkan kinerja atletik dan menambah kekuatan, tetapi bukti yang mendukung penggunaan ini tidak konsisten. Protein whey juga digunakan untuk mengembalikan berat badan pada orang dengan HIV dan membantu mencegah kondisi alergi pada bayi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antibiotik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 24

Bagaimana cara kerjanya?

Protein whey adalah sumber protein yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi pada makanan. Protein whey mungkin juga memberikan efek pada sistem kekebalan tubuh.

Kegunaan & Efektivitas

Mungkin efektif untuk:

  • Eksim
    Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mengonsumsi protein whey selama 3-12 bulan pertama kehidupannya memiliki risiko lebih rendah terkena kulit kemerahan dan gatal pada usia 3 tahun.
  • Suatu kondisi yang berhubungan dengan peningkatan risiko terkena reaksi alergi (penyakit atopik)
    Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mengonsumsi protein whey selama 3-12 bulan pertama kehidupannya cenderung rentan terhadap alergi dan reaksi alergi dibandingkan dengan bayi yang menerima susu formula standar. Namun, pemberian protein whey mungkin tidak membantu pengobatan penyakit atopik yang sudah berkembang.
  • Penurunan berat badan pada orang dengan HIV/AIDS
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey dapat mengurangi penurunan berat badan pada ODHA.
  • Kulit merah, bersisik (psoriasis plak)
    Beberapa bukti menunjukkan bahwa mengonsumsi ekstrak protein whey spesifik setiap hari selama 8 minggu dapat mengurangi gejala psoriasis.

Mungkin tidak efektif untuk:

  • Penyakit paru-paru yang disebut penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen protein whey spesifik setiap hari selama 6 minggu dapat memperbaiki gejala sesak napas tetapi tidak untuk fungsi paru-paru atau kualitas hidup pada orang dengan PPOK. Penelitian lain menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen protein whey tidak memperbaiki fungsi paru-paru, fungsi otot, atau olahraga pada orang dengan PPOK.
  • Osteoporosis
    Penelitian menunjukkan bahwa minum minuman yang mengandung protein whey setiap hari hingga 2 tahun tidak meningkatkan kepadatan tulang pada wanita pascamenopause dengan osteoporosis.

Tidak adanya cukup bukti untuk:

  • Kehilangan massa otot pada orang tua
    Protein whey dapat membantu meningkatkan massa otot pada orang tua. Namun, sepertinya efek ini hanya didapatkan ketika protein when digunakan bersamaan dengan senyawa lain seperti creatine atau lemak, atau dengan vitamin dan mineral seperti kalsium dan vitamin D. Selain itu, masih belum diketahui apakah protein whey membantu membangun massa otot pada wanita atau membantu untuk menambah kekuatan.
  • Asma
    Penelitian awal menunjukkan bahwa menggunakan jenis protein whey tertentu setiap hari selama 30 hari tidak meningkatkan fungsi paru-paru pada anak-anak dengan asma.
  • Performa atletik
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menggunakan protein whey dalam kombinasi dengan latihan kekuatan dapat meningkatkan massa tubuh, kekuatan, dan ukuran otot pada orang dewasa muda yang sehat. Mengonsumsi protein whey juga tampaknya meningkatkan kecepatan lari dan pemulihan dari aktivitas olahraga pada orang dewasa yang tidak terlatih. Akan tetapi, protein whey tampaknya tidak meningkatkan kecepatan lari atau pemulihan pada atlet yang terlatih. Mengonsumsi protein whey juga tampaknya tidak meningkatkan kekuatan atau massa otot pada pria gemuk dengan kolesterol tinggi.
  • Kanker
    Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey dapat membantu mengurangi ukuran tumor pada beberapa orang dengan kanker yang telah menyebar dalam tubuh.
  • Cystic fibrosis
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey setiap hari selama 28 hari dapat meningkatkan fungsi paru-paru pada anak-anak, tetapi tidak pada orang dewasa dengan cystic fibrosis.
  • Diabetes
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengkonsumsi minuman tertentu yang mengandung konsentrat protein whey sebelum makan mampu menurunkan gula darah pada penderita diabetes.
  • Asma yang disebabkan oleh olahraga
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey setiap hari selama 10 hari meningkatkan fungsi paru-paru pada penderita asma yang disebabkan oleh olahraga.
  • Penyakit hati (hepatitis)
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengkonsumsi jenis protein whey tertentu setiap hari selama 12 minggu dapat memperbaiki fungsi hati pada beberapa orang dengan hepatitis B. Namun, tampaknya tidak ada efek yang bermanfaat pada orang dengan hepatitis C.
  • HIV/AIDS
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey selama 4 bulan tidak memperbaiki fungsi kekebalan pada anak dengan HIV.
  • Infeksi berkembang saat di rumah sakit
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen protein whey spesifik setiap hari selama 28 hari memiliki efek yang sama terhadap tingkat infeksi yang didapatkan di rumah sakit ketika menggunakan kombinasi seng, selenium, glutamin, dan metoklopramid.
  • Kolesterol tinggi
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey setiap hari saat latihan angkat berat tidak mengurangi kadar kolesterol atau lemak tubuh pada pria yang kelebihan berat badan dengan kolesterol tinggi.
  • Tekanan darah tinggi
    Mengonsumsi 28 gram protein whey atau 20 gram protein whey terhidrolisis setiap hari selama 6-8 minggu dapat menurunkan tekanan darah pada orang dengan tekanan darah tinggi. Tetapi mengonsumsi protein whey dalam jumlah rendah (2,6 gram setiap hari) tidak memiliki manfaat apa pun.
  • Penyakit otot (mitokondria miopati)
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengambil suplemen protein whey setiap hari selama satu bulan tidak meningkatkan kekuatan otot atau kualitas hidup pada orang dengan penyakit mitokondria.
  • Penyakit hati bukan karena penggunaan alkohol (steatohepatitis nonalkohol, NASH)
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey setiap hari selama 12 minggu dapat memperbaiki fungsi hati pada pasien dengan NASH.
  • Penyakit Parkinson
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey tidak mengurangi gejala penyakit Parkinson.
  • Gangguan ovarium/sindrom ovarium polikistik.
    Penelitian awal menunjukkan bahwa menggunakan suplemen yang mengandung protein whey setiap hari selama 2 bulan dapat mengurangi berat badan, massa lemak, dan kolesterol pada orang dengan kista ovarium. Namun, protein whey tidak meningkatkan gula darah dan tampaknya menurunkan kolesterol HDL.
  • Nyeri dan kekakuan yang disebabkan oleh peradangan (polymyalgia rheumatica)
    Penelitian awal menunjukkan bahwa mengonsumsi protein whey dalam produk susu dua kali sehari selama 8 minggu tidak meningkatkan fungsi otot, kecepatan berjalan, atau tes gerakan lainnya pada orang dengan polymyalgia rheumatica.
  • Penurunan berat badan
    Efek protein whey pada penurunan berat badan tampaknya bervariasi tergantung pada apakah hanya dikonsumsi sendiri atau bersamaan dengan diet atau olahraga. Mengonsumsi protein whey bersamaan dengan diet dapat mencegah hilangnya otot tanpa lemak (lean muscle) dan meningkatkan hilangnya lemak tubuh pada orang yang mengalami obesitas. Hal ini mungkin dapat meningkatkan komposisi tubuh secara keseluruhan. Tetapi mengonsumsi protein whey saat diet tampaknya tidak meningkatkan penurunan berat badan secara keseluruhan pada kebanyakan orang yang mengalami obesitas. Tidak ada informasi yang cukup untuk memastikan apakah mengonsumsi protein whey tanpa diet dapat meningkatkan proses penurunan berat badan. Ketika digunakan bersama dengan olahraga, protein whey tampaknya tidak meningkatkan penurunan berat badan bila dibandingkan dengan hanya berolahraga saja. Pada remaja yang kelebihan berat badan, minum minuman protein whey selama 12 minggu tampaknya meningkatkan berat badan dan indeks massa tubuh (BMI).
  • Kondisi lainnya.

Dibutuhkan lebih banyak bukti untuk menilai efektivitas penggunaan protein whey pada kegunaan diatas.

Efek samping & keamanan

Protein whey MUNGKIN AMAN bagi sebagian besar anak-anak dan orang dewasa ketika diminum dengan dosis yang tepat. Dosis tinggi dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti peningkatan buang air besar, mual, haus, kembung, kram, nafsu makan berkurang, kelelahan, dan sakit kepala.

Pencegahan & peringatan khusus:

  • Ibu hamil dan menyusui: Tidak ada informasi yang cukup reliabel tentang keamanan mengonsumsi protein whey pada Ibu hamil atau menyusui. Hindari penggunaannya agar tetap aman.
  • Alergi susu: Jika Anda alergi terhadap susu sapi, hindari penggunaan protein whey.

Interaksi

Interaksi mayor

Jangan menggunakan kombinasi ini!

Levodopa berinteraksi dengan PROTEIN WHEY

Protein whey mungkin mengurangi jumlah levodopa yang diserap oleh tubuh, sehingga protein whey dapat menurunkan efektivitas levodopa. Hindari penggunaan protein whey dan levodopa secara bersamaan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Thiamycin via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Thiamycin 500 mg kapsul 1

Interaksi sedang

Berhati-hatilah dengan kombinasi ini!

Alendronate (Fosamax) berinteraksi dengan PROTEIN WHEY

Protein whey dapat mengurangi jumlah alendronate (Fosamax) yang diserap oleh tubuh. Menggunakan protein whey dan alendronate (Fosamax) secara bersamaan dapat menurunkan efektivitas alendronate (Fosamax). 

Jangan mengonsumsi protein whey dalam waktu dua jam setelah mengonsumsi alendronate (Fosamax).

Antibiotik (Antibiotik kuinolon) berinteraksi dengan PROTEIN WHEY

Protein whey dapat mengurangi jumlah antibiotik yang diserap tubuh. Menggunakan protein whey bersamaan dengan beberapa antibiotik dapat menurunkan efektivitas antibiotik tersebut. 

Untuk menghindari interaksi ini, minumlah suplemen protein whey setidaknya satu jam setelah meeminum antibiotik. Beberapa antibiotik yang mungkin berinteraksi dengan protein whey ialah ciprofloxacin (Cipro), enoxacin (Penetrex), norfloxacin (Chibroxin, Noroxin), sparfloxacin (Zagam), trovafloxacin (Trovan), dan grepafloxacin (Raxar).

Antibiotik (antibiotik Tetrasiklin) berinteraksi dengan PROTEIN WHEY

Protein whey mengandung kalsium. Kalsium dalam protein whey dapat menempel pada tetrasiklin di lambung, sehingga dapat mengurangi jumlah tetrasiklin yang diserap oleh tubuh. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Thiamycin via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Thiamycin 500 mg kapsul 1

Sehingga, menggunakan kalsium dan tetrasiklin dapat menurunkan efektivitas tetrasiklin. Untuk menghindari interaksi ini, konsumsi protein whey dua jam sebelum atau empat jam setelah meminum tetrasiklin. 

Beberapa tetrasiklin yang termasuk ialah include demeclocycline (Declomycin), minocycline (Minocin), dan tetracycline (Achromycin).

Dosis

Dosis berikut telah dipelajari dalam penelitian ilmiah:

ORANG DEWASA

SECARA ORAL:

  • Untuk penurunan berat badan terkait HIV/AIDS: 8,4-84 gram protein whey setiap harinya, 2,4 gram/kg per hari dalam formula kalori tinggi, atau 42-84 gram per hari dalam formula yang diperkaya glutamin.
  • Untuk kulit merah dan bersisik (psoriasis plak): 5 gram ekstrak protein whey tertentu setiap harinya.

6 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Whey Protein: Health Benefits, Uses, Side Effects, Dosage & Interactions. RxList. (https://www.rxlist.com/whey_protein/supplements.htm)
Whey Protein: Uses, Side Effects, Interactions, Dosage, and Warning. WebMD. (https://www.webmd.com/vitamins/ai/ingredientmono-833/whey-protein)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit

Pesan Pengiriman Obat Ini

Ingin beli obat ini? Chat dengan kami di WhatsApp! Kami dapat membantu mengantarkan obat ke rumah Anda se-Indonesia dengan pembayaran via bank transfer, kartu kredit, COD (di sebagian besar kota), Alfamart, dan OVO. Catatan: Kami bukanlah apotek atau toko obat dan kami tidak menjual obat secara langsung. Jasa pengiriman kami bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pasien dengan pengambilan pesanan obat Anda di apotek. Perlu diketahui bahwa ada obat-obatan tertentu yang tidak dapat dikirimkan sesuai dengan ketentuan hukum.

Chat di WhatsApp
Buka di app