Pengobatan

7 Jenis Obat Corona yang Diklaim Ampuh Redakan Gejala

Dipublish tanggal: Mar 18, 2020 Update terakhir: Mar 30, 2020 Waktu baca: 5 menit
7 Jenis Obat Corona yang Diklaim Ampuh Redakan Gejala

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat yang mampu menyembuhkan virus corona COVID-19 hingga tuntas.
  • Pengobatan yang diberikan untuk pasien akan disesuaikan dengan gejalanya masing-masing.
  • Beberapa obat virus corona yang diklaim dapat membantu meredakan gejala virus corona, yaitu remdesivir, klorokuin, serta kombinasi lopinavir dan ritonavir.
  • Tocilizumab, favilavir, hydroxychloroquine, dan Avigan juga disebut-sebut mampu mengatasi infeksi virus corona.

Hingga saat ini, belum ada vaksin corona yang mampu menyembuhkan virus COVID-19 hingga tuntas. Karena itulah, para ahli terus berlomba-lomba agar bisa menemukan penawar corona yang ampuh bagi pasien. Kabar baiknya, setidaknya ada 5 riset yang mengungkapkan potensi obat virus corona untuk masyarakat.

Potensi obat virus corona berdasarkan riset

Memang belum ada obat khusus yang mampu mengatasi COVID-19. Pengobatan yang diberikan untuk pasien akan disesuaikan dengan gejalanya masing-masing.

Misalnya saja, pasien yang mengalami demam akan diberikan obat demam, sedangkan pasien yang batuk pilek diberikan obat batuk pilek. Untuk pasien yang gagal napas akan diberikan ventilator untuk membantu pernapasan.

Dirangkum dari beberapa riset, setidaknya ada 5 obat virus atau vaksin corona yang memberikan angin segar di dunia medis, antara lain:

1. Remdesivir

Remdesivir disebut-sebut sebagai salah satu obat virus corona andalan. Obat antivirus spektrum luas ini awalnya dirancang untuk mengatasi wabah Ebola.

Para peneliti menemukan bahwa remdesivir sangat efektif untuk membasmi virus corona baru dalam sel yang terisolasi. Obat ini bekerja dengan menghambat kemampuan virus untuk mereplikasi dalam tubuh, contohnya pada coronavirus penyebab SARS dan MERS.

Sebagai terapi, remdesivir berpotensi mengurangi tingkat keparahan penyakit dan menyelamatkan nyawa pasien di rumah sakit. Selain itu, obat corona ini juga digunakan secara profilaksis untuk pekerja rumah sakit maupun masyarakat agar infeksi tersebut tidak semakin menyebar. 

Sudah ada 2 uji klinis remdesivir di China Bulan Februari lalu. Satu uji klinis baru-baru ini juga sudah disetujui oleh FDA di Amerika Serikat, badan yang setara dengan BPOM di Indonesia.

Baca Juga: Protokol Kesehatan Terkait Coronavirus (Covid-19) dari Kementerian Kesehatan RI

2. Klorokuin fosfat

Pada dasarnya, chloroquine atau klorokuin adalah obat yang digunakan untuk mengatasi malaria dan penyakit autoimun. Obat ini telah digunakan selama lebih dari 70 tahun dan aman digunakan oleh manusia.

Sejumlah ahli menemukan bahwa klorokuin tampak efektif untuk melawan virus SARS-CoV-2 dalam penelitian yang dilakukan di tabung reaksi. Selain itu, sudah ada 10 uji klinis yang memandang adanya potensi penggunaan klorokuin untuk mengobati virus corona baru seperti COVID-19.

3. Lopinavir dan Ritonavir

Di pasaran, lopinavir dan ritonavir dijual dengan merek dagang Kaletra. Obat ini kerap digunakan sebagai obat antiretroviral (ARV) yang biasa digunakan oleh pasien HIV.

Berdasarkan penelitian dalam jurnal Journal of Korean Medical Science tahun 2020, seorang pria usia 54 tahun asal Korea mengalami penurunan kadar coronavirus dalam tubuhnya setelah diberikan kombinasi 2 obat ini, yakni lopinavir dan ritonavir sebagai obat virus corona.

Lopinavir diketahui dapat menghambat replikasi HIV. Sedangkan ritonavir bertugas meningkatkan efektivitas lopinavir dalam aliran darah dengan mencegah tubuh agar tidak cepat rusak.

Jika dikombinasikan, kedua obat tersebut diklaim mampu mencegah enzim protease yang merangsang perkembangbiakan virus corona. Atas dasar inilah, lopinavir dan ritonavir diyakini masuk ke dalam golongan obat virus corona yang potensial.

Baca Selengkapnya: Lindungi Tubuh Anda dari Virus Corona Covid-19 dengan 6 Cara Ini

4. Tocilizumab

Tocilizumab adalah obat radang sendi yang kini dipercaya sebagai salah satu obat yang membantu proses penyembuhan pasien virus corona. Pasalnya, para ilmuwan asal China menemukan Tocilizumab memberikan hasil yang positif dalam memperbaiki kerusakan paru akibat virus pada pasien.

Obat virus corona yang satu ini juga efektif untuk pasien COVID-19 yang parah. Berkat temuan inilah, Tocilizumab memberikan angin segar sebagai terapi baru untuk penyakit menular yang mematikan ini.

5. Favilavir

Mulanya, obat antivirus favilavir digunakan untuk mengatasi peradangan di hidung dan tenggorokan. Namun, akhirnya China telah menyetujui penggunaan favilavir untuk mengobati gejala virus corona COVID-19. 

Meskipun hasil penelitian belum dirilis, favilavir diklaim terbukti efektif mengobati gejala virus corona pada 70 orang. Ini termasuk salah satu dari 3 obat yang menunjukkan hasil signifikan dalam mengatasi virus tersebut sehingga bisa menjadi vaksin corona.

Baca Juga: Pentingnya Social Distancing Agar Virus Corona Tak Makin Genting

6. Hydroxychloroquine

Dibandingkan klorokuin, zat hydroxychloroquine diketahui lebih potensial sebagai obat virus corona secara in vitro. Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, pemberian obat hydroxychloroquine sulfat 400 mg dapat mengatasi infeksi SARS-CoV-2. 

Setelah dilanjutkan dengan dosis 2 x sehari 200 mg selama 4 hari, khasiatnya terhadap virus corona semakin tampak. Bahkan kalau dibandingkan, manfaat hydroxychloroquine cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pemberian klorokuin fostat dengan dosis 500 mg yang diminum 2 kali sehari selama 5 hari. 

7. Avigan

China menyebutkan bahwa obat flu dengan merek dagang Avigan disebut efektif mengatasi virus corona COVID-19. Avigan adalah obat farivipavir yang dikembangkan oleh Fujifilm Toyama tahun 2014.

Ternyata, obat ini sudah diberikan pada pasien corona di Jepang sejak Februari silam. Berdasarkan uji klinis pada 200 pasien di rumah sakit di Wuhan dan Shenzhen, Avigan mampu mengurangi gejala pneumonia pada pasien.

Sedangkan pada penelitian klinis di Wuhan, pasien yang diobati dengan favipiravir bisa sembuh dari demam hanya dalam waktu 2,5 hari. Ada juga pasien yang demamnya sembuh dalam waktu 4 hari.

Akan tetapi, obat Avigan hanya bisa digunakan jika ada influenza jenis baru. Pasalnya, sebuah studi menyebutkan bahwa obat tersebut rentan memicu kegagalan janin. 

Hindari minum ibuprofen untuk mengobati virus corona

Badan Organisasi Dunia (WHO) resmi menyatakan bahwa pasien virus corona COVID-19 tidak boleh mengonsumsi obat ibuprofen. Pasalnya, obat antiradang yang satu ini justru dapat memperparah efek virus dalam tubuh.

Menurut penelitian dalam jurnal The Lancet, suatu enzim yang dikuatkan oleh obat antiinflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk infeksi COVID-19. Untuk mengatasi pada pasien, sebaiknya gunakan paracetamol yang lebih aman.

Akan tetapi, penggunaan paracetamol untuk mengatasi gejala virus corona juga harus sesuai dosis yang disarankan. Hindari konsumsi secara berlebihan karena berpotensi merusak hati.

“Jaga kebersihan diri sendiri dan orang terdekat dari virus Corona (Covid-19) dengan rajin cuci tangan dengan sabun, kenakan masker pelindung, gunakan tisue ketika bersin atau batuk, dan hindari tempat keramaian. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, berolahraga, istirahat cukup, dan minum air putih serta multivitamin.

Jika mengalami gejala seperti demam, batuk, bersin, atau kondisi lainnya, sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan. Untuk informasi atau laporan mengenai kasus Covid-19, bisa menghubungi hotline Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) di nomor 021-5210-411 atau 0812-1212-3119. Khusus untuk area Jakarta, Anda bisa menghubungi nomor 112 dan 119 EXT 9. Pencegahan dan penanganan awal akan membantu mengurangi risiko bahaya atau komplikasi yang lebih parah.”


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Science Alert. WHO Now Officially Recommends to Avoid Taking Ibuprofen for COVIC-19 Symptoms. (https://www.sciencealert.com/who-recommends-to-avoid-taking-ibuprofen-for-covid-19-symptoms/amp). 18 Maret 2020.
Nikkei Asian Review. China says Japan-developed drug Avian works against coronavirus. (https://asia.nikkei.com/Spotlight/Coronavirus/China-says-Japan-developed-drug-Avigan-works-against-coronavirus). 18 Maret 2020.
Clinical Infectious Diseases. In Vitro Antiviral Activity and Projection of Optimized Dosing Design of Hydroxychloroquine for the Treatment of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). (https://academic.oup.com/cid/advance-article/doi/10.1093/cid/ciaa237/5801998). 9 Maret 2020.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Buka di app